Dalam hitungan hari, kita akan memasuki ibadah puasa Ramadhan 1446 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada tanggal 1 Maret 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan tidak hanya menjadi momen ibadah dan refleksi spiritual, tetapi juga membawa berbagai dinamika sosial dan ekonomi.
Aktivitas belanja masyarakat biasanya meningkat signifikan. Sebut saja misalnya kebutuhan bahan pokok, takjil, serta perlengkapan ibadah. Belum lagi fenomena seru “berburu takjil lintas agama” yang menjadikan Ramadhan semakin menarik. Di sisi lain, tradisi berbuka puasa bersama, meningkatnya permintaan transportasi untuk mudik, serta lonjakan transaksi di sektor ritel dan jasa juga menjadi ciri khas bulan mulia ini.
Puncaknya terjadi menjelang Idul Fitri, di mana masyarakat berbondong-bondong membeli pakaian baru, parcel lebaran, hingga menyiapkan dana untuk zakat dan THR. Namun, di balik euforia ini, ada tantangan yang selalu berulang dan menunjukkan pola historis tahunan, yaitu peningkatan konsumsi yang tidak terkendali dan berdampak pada lonjakan harga barang/jasa, yang pada akhirnya memicu inflasi. Setiap pribadi, tentu bisa ambil peran untuk mencegah lonjakan inflasi yang tinggi tersebut, misalnya bijak dalam berbelanja.
MEMAHAMI INFLASI DAN DAMPAKNYA
Inflasi adalah kondisi di mana terjadi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu, yang mengurangi daya beli masyarakat. Secara sederhana, inflasi menggambarkan fenomena harga-harga yang semakin tinggi, sehingga uang yang dimiliki tidak dapat membeli barang atau jasa yang sama dengan jumlah yang sama seperti sebelumnya.
Analoginya adalah jika pada tahun 2020 dengan uang Rp10.000 bisa membeli nasi bungkus dilengkapi dengan lauk ayam goreng, tempe, tahu, sayur dan es teh manis, namun pada tahun 2025, dengan jumlah uang yang sama, hanya bisa mendapatkan sebungkus nasi dengan telur dadar, tahu dan tempe. Artinya, daya beli uang Rp10.000 tersebut mengalami penurunan.
Jadi, apakah yang diperlukan adalah inflasi serendah-rendahnya? Tentu tidak juga. Inflasi yang terlalu tinggi tidaklah baik, karena dapat menggerus daya beli masyarakat. Ketika harga barang dan jasa meningkat secara signifikan, uang yang dimiliki masyarakat tidak lagi memiliki nilai yang sama, sehingga mereka hanya mampu membeli lebih sedikit barang. Ini bisa memperburuk kemiskinan dan ketimpangan sosial, karena golongan berpendapatan rendah akan sangat terdampak.
Di sisi lain, inflasi yang terlalu rendah juga tidak ideal. Inflasi yang sangat rendah atau bahkan deflasi yang dalam (penurunan harga barang dan jasa) bisa menandakan adanya stagnansi ekonomi, atau sering disebut “ekonominya tidak bergairah”. Jika harga barang terus-menerus turun, konsumen mungkin menunda pembelian karena berharap harga akan semakin murah, yang pada gilirannya bisa menurunkan permintaan dan mempengaruhi produksi.
Dalam jangka panjang, deflasi bisa menyebabkan resesi, di mana sektor-sektor ekonomi mengalami penurunan aktivitas secara menyeluruh. Deflasi yang sangat dalam juga menyiratkan kerugian pada sisi produsen (pedagang). Inflasi ideal yang diharapkan adalah inflasi yang stabil dan terkendali berada dalam target sasaran yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dan Pemerintah yaitu 2,5% plus minus 1% pada tahun 2025.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Januari 2025 tercatat sebesar 0,43% (mtm) atau secara tahunan inflasi sebesar 2,01% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan periode Desember 2024 sebesar 2,09% (yoy). Kalau kita coba melihat secara historis 5 tahun terakhir (2020-2024) inflasi bulanan (month-to-month) cenderung tinggi di periode Ramadhan dan Idul Fitri setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa faktor musiman berperan besar dalam pergerakan harga barang dan jasa di Kepri.
PERSEPSI YANG MENCIPTAKAN INFLASI
“If men define situations as real, they are real in their consequences.” Kutipan dari sosiolog William Thomas ini menggambarkan bagaimana persepsi bisa menciptakan kenyataan.
Dalam konteks inflasi, keyakinan bahwa harga barang akan naik menjelang Ramadhan dan Idul Fitri sering kali mendorong masyarakat untuk berbelanja secara berlebihan. Persepsi Masyarakat mengatakan bahwa di setiap bulan Ramadhan dan Idul Fitri, harga barang pasti akan mahal, sehingga mereka cenderung berbelanja berlebihan dan menimbun barang saat ini, karena khawatir jika berbelanja nanti akan mendapati harga mahal. Akibatnya, permintaan melonjak tajam, stok barang menipis, dan harga benar-benar naik, bukan semata karena faktor produksi, tetapi karena kepanikan bersama yang membentuk realitas baru. Inilah yang disebut sebagai panic buying, sebuah ancaman terhadap inflasi.
Fenomena ini dikenal juga dengan self-fulfilling prophecy yaitu keyakinan atau ekspektasi yang akhirnya menjadi menjadi kenyataan karena tindakan kolektif masyarakat. Dalam konteks inflasi, jika masyarakat percaya bahwa harga barang akan terus meningkat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, mereka cenderung membeli lebih banyak barang daripada yang dibutuhkan, karena khawatir harga akan semakin tinggi. Akibatnya, lonjakan permintaan yang tidak terkendali ini justru memicu kenaikan harga, yang menguatkan keyakinan awal mereka tentang inflasi yang tinggi. Hal ini menciptakan lingkaran yang memperburuk keadaan, karena inflasi yang sebenarnya dipicu oleh perilaku kolektif yang didorong oleh persepsi.
ORANG BAIK, BELANJA BIJAK!
Seperti air yang mengalir deras saat hujan lebat, begitu pula pola konsumsi masyarakat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Euforia menyambut hari raya sering kali membuat kita terbawa arus, membeli lebih dari yang dibutuhkan, hingga tanpa sadar mendorong kenaikan harga barang.
Lalu, bagaimana agar kebahagiaan merayakan bulan suci tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kestabilan ekonomi? Di sinilah pentingnya belanja bijak, agar kita tidak hanya merayakan kemenangan secara spiritual, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekonomi.
Terminologi “Belanja Bijak” acap kali muncul di setiap imbauan jelang Ramadhan dan Idul Fitri. Tidak disangkal, memang inilah salah satu kunci agar inflasi tidak meroket di setiap periode HBKN tersebut. Belanja bijak di sini dapat dimaknai sebagai perilaku membeli secara rasional dan menghindari panic buying. Peran ini dapat dilakoni oleh setiap pribadi untuk membantu menjaga kestabilan harga dan mencegah inflasi yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah “mengapa masyarakat tidak perlu panic buying?”. Pemerintah bersama otoritas terkait senantiasa memastikan bahwa jelang HBKN pasokan tersedia dalam jumlah yang aman dan dengan harga yang terjangkau. Wujud nyatanya adalah melalui Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah yang hampir merata di setiap daerah.
Operasi ini untuk memastikan bahwa stok pangan yang ada di pasaran mencukupi kebutuhan dan permintaan masyarakat serta memastikan bahwa harga berada dalam level yang wajar. Peran ini dilakoni utamanya oleh Tim Pengendalian Inflasi, baik di Pusat maupun di Daerah (TPIP dan TPID). Selain itu, untuk komoditas non-pangan, seperti tiket angkutan udara, yang biasanya juga melonjak jelang HBKN, telah dikeluarkan imbauan oleh pemerintah kepada maskapai agar tidak menaikkan harga tiket melebihi tarif batas atas yang ditetapkan. Harapannya adalah inflasi tidak melonjak drastis baik dari harga komoditas pangan maupun tiket angkutan.
Namun, keberhasilan pengendalian inflasi jelang HBKN tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah semata, melainkan juga membutuhkan kesadaran dan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat. Para pelaku usaha diharapkan tidak menaikkan harga secara tidak wajar menjelang HBKN, sementara masyarakat perlu lebih selektif dan rasional dalam berbelanja.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan membuat daftar belanja berdasarkan kebutuhan prioritas. Dengan cara ini, masyarakat dapat menghindari pembelian barang secara berlebihan dan hanya membeli apa yang benar-benar diperlukan. Mari bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi dengan menjadi konsumen yang cerdas. Ramadhan adalah bulan kemenangan, bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam mengendalikan diri, termasuk dalam hal belanja. Karena orang baik, belanja bijak! ***
Baca Artikel Opini Lain:










