JAKARTA (gokepri) – Pemerintah akan meluncurkan dua bullion bank atau bank emas milik negara pada 26 Februari. Langkah ini diambil untuk meningkatkan perannya dalam industri logam mulia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pendirian bank bullion ini merupakan bagian penting dari strategi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
Indonesia adalah produsen emas terbesar di Asia Tenggara, dengan produksi tahunan mencapai 110.000 kg. Dua bank yang ditunjuk untuk menjalankan bank bullion ini adalah Pegadaian, jaringan gadai milik negara dan anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Syariah Indonesia (BSI), bank syariah terbesar di Indonesia.
Kedua lembaga ini akan memfasilitasi perdagangan emas dan menyediakan layanan perbankan terkait. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan Indonesia pada lembaga keuangan asing dan meningkatkan likuiditas di pasar domestik.
Airlangga mengatakan mendirikan bank bullion di dalam negeri akan menghilangkan kebutuhan untuk mengimpor produk emas setelah sertifikasi di luar negeri. Hal ini juga akan menstimulasi pertumbuhan industri lokal dengan memperluas peluang pembiayaan, dan memungkinkan bank sentral untuk menggunakan instrumen emas untuk menjaga stabilitas ekonomi.
“Sebelumnya, banyak nilai yang tertangkap di Spanyol dan Jepang. Jadi bank ini akan menciptakan ekosistem yang lebih mandiri yang menjangkau hingga sektor hilir,” katanya.
Ia menyoroti bahwa salah satu aplikasi utama dari bank bullion adalah untuk mendukung tabungan haji. Banyak masyarakat Indonesia menunggu tujuh hingga 10 tahun untuk menunaikan ibadah haji.
Selama waktu tersebut, nilai tabungan mereka dapat terkikis oleh inflasi. “Dengan menabung dalam emas daripada uang tunai, dana mereka akan lebih baik mengikuti kenaikan biaya haji, memastikan keamanan finansial yang lebih besar,” katanya.
Saat ini, Indonesia mengekspor sebagian besar emasnya ke pusat-pusat perdagangan seperti Swiss dan Hong Kong. Di sana, emas biasanya transit sebagai komoditas dan tidak digunakan di dalam negeri.
Tahun lalu, Indonesia mengirimkan sekitar 2.400 ton emas dan perhiasan, senilai US$3,27 miliar. Dorongan untuk mendirikan bank bullion adalah bagian penting dari ambisi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Upaya ini melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya, di mana penambang tembaga dan nikel diwajibkan untuk berinvestasi dalam pemurnian dalam negeri.
Pusat produksi ini adalah tambang Grasberg di Papua, yang dioperasikan oleh Freeport Indonesia, yang memiliki salah satu cadangan emas terbesar di dunia. Dengan peluncuran fasilitas pemurnian baru Freeport, produksi emas negara diperkirakan akan meningkat 50 hingga 60 ton metrik per tahun. BUSINESS TIMES
Baca Juga: Pegadaian Kantongi Izin Usaha Bullion dari OJK
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








