12,6 GW Listrik Masih Bergantung Solar, Energi Surya Dikebut

Panel surya PLTS KDKMP Pulau Sembur di Batam, Kepulauan Riau.
Panel surya pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Pulau Sembur Laut, Batam, Kepulauan Riau. Proyek yang telah mencapai progres 80 persen itu ditargetkan beroperasi penuh pada triwulan III 2026 untuk mendukung kemandirian energi dan ekonomi masyarakat pesisir. Foto: Pertamina NRE

GILIMANUK, BALI (gokepri) — Pemerintah mengejar pembangunan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) untuk mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap solar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut 12,6 gigawatt listrik di Indonesia saat ini masih dihasilkan menggunakan bahan bakar tersebut.

“Total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar,” kata Bahlil dalam peluncuran dan groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurut Bahlil, pembangkitan listrik sebesar 12,6 GW menggunakan solar membutuhkan sekitar 230–250 ribu barel per hari. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mempercepat pengembangan pembangkit berbasis energi surya.

Baca Juga: 14 Proyek PLTS Bergerak Serentak, Investasi Capai Rp135 Triliun

Jika kebutuhan pembangkit berbahan bakar solar dapat dikurangi, konsumsi dan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, juga akan turun. Bahlil mengatakan penggantian sumber energi tersebut akan meningkatkan penggunaan energi yang diproduksi di dalam negeri.

“Kalau ini mampu kita lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM kita, khususnya jenis solar, akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional,” ujarnya.

Bali menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk mempercepat peralihan tersebut. Bahlil mengatakan penggunaan PLTS berkapasitas 1 GW di Bali berpotensi menghemat konsumsi solar PLN sekitar 0,5–0,6 juta kiloliter.

“Jadi, tidak heran kemudian kalau ini kami lakukan di Bali, Pak. Karena kampanyenya adalah green energy,” kata Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Strategis PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Gilimanuk, Jembrana, Bali. Peluncuran secara langsung di Gilimanuk terhubung secara daring dengan tiga lokasi lain, yakni PLTS Terapung Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah, PLTS Desa Sembur di Batam, Kepulauan Riau, dan PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung.

Di Gilimanuk, proyek PLTS dan battery energy storage system (BESS) merupakan bagian dari Program Fat Burning Bali. Proyek tersebut dirancang menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak dengan energi surya.

PLTS Bali memiliki kapasitas 300 megawatt peak (MWp), sedangkan BESS berkapasitas 1.000 megawatt-hour (MWh). Proyek tersebut membutuhkan lahan sekitar 321 hektare dan ditargetkan beroperasi pada 2028. ANTARA

Baca Juga: PLTS 100 GWp Disiapkan, Investasi Tembus Rp1.140 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait