Virus Corona di Singapura Sasar Balita 1 Tahun

Mengapa Singapura Rentan Penyebaran Wabah Corona?

Sejumlah kasus penyebaran virus corona di Inggris dan Korea Selatan dapat dilacak asalnya ke Singapura. Akibatnya sejumlah negara kini mengumumkan peringatan bepergian bagi warga mereka yang hendak ke Singapura. Meski Singapura mendapat apresiasi atas penanganan krisis, negara-kota itu menghadapai tantangan unik.

Bandara Changi di Singapura adalah salah satu pusat penerbangan paling terkoneksi di dunia. Bahkan, setiap 80 detik, ada penerbangan yang lepas landas dan mendarat di sini. Fakta itulah yang menyebabkan Changi lebih terkoneksi ketimbang Bandara JFK dan San Francisco di AS serta Bandara Dubai di Uni Emirat Arab.

Namun, pemandangan beberapa hari terakhir tampak sangat berbeda. Puluhan pemindai suhu tubuh berjajar di terminal-terminal Bandara Changi. Perangkat itu bertugas mengukur temperatur penumpang ketika mereka datang dan bertolak dari Singapura.

Tak hanya itu, semua penumpang diperiksa apakah mereka mengidap demam, flu, dan batuk. Segenap staf bandara senantiasa mewaspadai tanda-tanda virus corona.

Karena Singapura punya perbatasan terbuka dan terinterkoneksi, ditambah aparatnya punya pendekatan proaktif, jumlah kasus virus corona di negara itu adalah yang tertinggi di luar China, yang saat ini mencapai 77 kasus.

Penyebaran virus corona baru ke berbagai tempat di dunia berawal dari sebuah pertemuan di hotel mewah di Singapura pada pertengahan Januari lalu. Lebih dari 100 orang menghadiri konferensi penjualan tersebut, termasuk beberapa orang dari China.

Sepekan setelah pertemuan itu, kasus-kasus virus corona baru bermunculan di sejumlah tempat, mulai dari Korea Selatan, Malaysia, Inggris, hingga Spanyol.

Kasus pertama di Malaysia adalah seorang pria berusia 41 tahun yang menghadiri pertemuan tersebut bersama kolega-koleganya dari China. Penyakit yang diidapnya kemudian menular ke adik perempuan dan ibu mertuanya.

Korea Selatan melaporkan dua kasus yang melibatkan warga mereka yang turut menghadiri pertemuan di Singapura.

Seorang warga Inggris dan penyebar super bernama Steve Walsh juga hadir di pertemuan di Singapura. Setelah melakoni konferensi di negara-kota tersebut, dia bertolak ke sebuah resor ski di Prancis untuk berlibur dalam perjalanan pulang ke Inggris.

Walsh diperkirakan menularkan penyakit ke 11 orang lain selama dia berada di sana. Orang-orang itu kemudian bepergian ke tempat lain. Alhasil terdapat lima kasus di Inggris, lima di Prancis, dan satu di Majorca, Spanyol.

Pertemuan ini menunjukkan betapa Singapura menjadi tempat penyebaran nan dahsyat bagi virus SARS-CoV-2 atau COVID-19. Yang mengkhawatirkan, penyebaran virus tersebut bukan hanya terjadi ketika pertemuan itu digelar. Singapura berisiko menyebarkan virus itu karena negara-kota ini adalah destinasi utama untuk pertemuan bisnis dan pelancong internasional.

Singapura menjadi daya tarik yang besar bagi bisnis China, mengingat hubungan ekonomi yang erat antara kedua negara. Sebagai gambaran, 3,62 juta pengunjung asal China datang ke Singapura pada 2019—kelompok pengunjung terbesar di Singapura.

Lagipula, karena para wisatawan asal China menghindari Hong Kong yang marak demonstrasi antipemerintah, banyak yang memilih ke Singapura saat liburan Imlek—yang bertepatan dengan dimulainya wabah virus corona baru.

Di dalam negeri, Singapura mengambil berbagai langkah ekstrem untuk menanggulangi virus corona. Ini penting karena delapan dari 50 kasus yang dilaporkan sejauh ini tidak ada kaitannya dengan kontak dengan pelancong China dari Wuhan. Artinya kasus-kasus tersebut bisa terus menularkan penyakit ke orang lain.

Langkah yang diberlakukan pemerintah Singapura, antara lain menerapkan sistem pelacakan kontak yang canggih demi mendapatkan setiap orang yang kemungkinan bersentuhan dengan orang yang terinfeksi sehingga mereka bisa dikarantina atau dimonitor.

Singapura menjadi negara selanjutnya setelah Korea Utara dan Rusia yang menutup perbatasan ke China dan menerapkan cuti 14 hari bagi warga China dari daratan utama yang menyandang status penduduk permanen atau punya izin kerja. Pemerintah Singapura tidak kenal ampun bagi pelanggaran atas aturan-aturan ini—sehingga banyak warga Singapura merasa lebih aman.

Singapura juga mendistribusikan masker kepada lebih dari satu juta rumah dan memulai grup percakapan WhatsApp yang dikelola pemerintah untuk memberikan berita harian terkini kepada orang-orang yang terinfeksi. Pemerintah Singapura bahkan mengosongkan asrama-asrama universitas untuk menyediakan tempat karantina bagi para pasien—langkah yang mengagetkan para mahasiswa.

1
2
BAGIKAN