Jakarta (gokepri.com) – Hasil survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) menempatkan Bakal Calon Gubernur Soerya Respationo dengan elektabilitas tertinggi di Pilgub Kepri. Nama mantan Wakil Gubernur Provinsi Kepri itu mengungguli kandidat lainnya, seperti Ansar Ahmad dan Isdianto.
Direktur Eksekutif LKPI, Arifin Nur Cahyono memaparkan, survei digelar pada 22 Juli sampai 8 Agustus 2020 untuk memetakan pilihan masyarakat Provinsi Kepri terhadap Bakal Calon Gubernur dan Pasangan Calon Gubernur Kepri pada Pilkada 2020. Jumlah responden sebanyak 1.220 orang dari 1.393.439 Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4) dan tersebar secara proporsional di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepri.
Metode sampling ditentukan dengan mengunakan multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error +/- 2,8 persen. Pengambilan data dilakukan dengan via telepon 50 persen dari responden terpilih dan tatap muka 50 persen dari responden dengan menggunakan aturan protocol kesehatan di saat pandemi Covid-19.
Dari pertanyaan terbuka ‘Jika Pilkada dilaksanakan pada hari ini, siapa gubernur yang akan ibu/bapak pilih?. “Hasilnya, Mantan Wagub Kepri Soerya Raspationo memperoleh 25,60 persen. Disusul Ansar Ahmad yang dipilih 15,30 persen responden, Ismeth Abdullah 13,80 persen, dan petahana Isdianto 12,10 persen,” kata Arifin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/8/2020).
Untuk Bakal Calon Wakil Gubernur, pasangan Soerya, Iman Sutiawan juga memperoleh elektabilitas tertinggi dengan 4,20 persen. Sedangkan Bakal Cawagub lainnya, Suryani dipilih oleh 3,10 persen, Marlin Agustina 1,80 persen, dan yang belum memilih 24,10 persen.
Sementara dengan pertanyaan yang sama, namun dilakukan secara tertutup, nama Soerya Raspationo juga menempati posisi teratas dengan perolehan 26,5 persen.
“Disusul dengan Ansar Ahmad yang dipilih 19,3 persen responden, Ismeth Abdullah 12,7 persen, dan petahana Isdianto 12,5 persen. Selanjutnya, Iman Sutiawan dipilih oleh 5,3 persen responden, Suryani dipilih 4,21 persen, Marlin Agustina 2,1 persen, dan yang belum memilih sebanyak 17,4 persen,” jelas Arifin.
Sementara itu, dari data survei juga memaparkan hasil dari survei popularitas atau tingkat pengenalan dan kesukaan masyarakat, Soerya Raspationo dikenal oleh 70,6 persen responden, Ansar Ahmad 67,8 persen, dan Ismeth Abdullah 65,9 persen. “Lalu Isdianto dikenal oleh 60,3 persen, Iman Sutiawan 30,4 persen, Suryani 30,3 persen, dan Marlin Agustina 29,6 persen,” terang Arifin.
Adapun, tingkat akseptabilitas atau tingkat keterimaan terhadap para Bakal Calon Gubernur, responden diberi pertanyaan “Siapakah yang menurut anda dapat diterima menjadi Gubernur Kepulauan Riau?” Temuan survei Soerya Raspationo diterima oleh 70,3 persen responden, Ansar Ahmad 64,4 persen, Ismeth Abdullah 60,2 persen.
“Sedangkan petahana Isdianto diterima oleh 53,2 persen responden, Iman Sutiawan 24,6 persen, Suryani 23,1 persen, dan Marlin Agustina 18,4 persen,” jelas Arifin.
Dalam simulasi head to head antara petahana Isdianto-Suryani yang diusung PKS dan Partai Hanura melawan Ansar Ahmad-Marlin Agustina yang diusung Partai Golkar dan Nasdem, didapatkan sebesar 38,6 persen responden memilih Ansar Ahmad-Marlin Agustina.
“Sedangkan 32,3 persen responden memilih pasangan Isdianto-Suryani dan yang belum memilih 29,1 persen responden,” jelas Arifin.
Lalu, simulasi head to head antara Ansar Ahmad-Marlin Agustina yang diusung Partai Golkar dan Nasdem melawan Soerya Respationo-Iman Sutiawan yang diusung PDIP Perjuangan, Gerindra, dan PKB.
“Didapatkan sebesar 34,2 persen responden memilih Ansar Ahmad-Marlin Agustina. Sedangkan 39,1 persen responden memilih pasangan Soerya Respationo-Iman Sutiawan dan yang belum memilih sebanyak 26,7 persen responden,” ungkap Arifin.
“Kesimpulannya, popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas Soerya Raspationo menjadi yang tertinggi karena pernah menjadi wakil gubernur dan pernah juga maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan Amsar Ahmad pada periode sebelumnya,” terang Arifin.
Sementara Isdianto menjadi gubernur dengan melewati proses politik yang panjang menggantikan Nurdin yang ditangkap KPK. “Ketidakpuasan masyarakat sangat mempengaruhi tingkat elektabilitas dari Calon Gubernur petahana,” kata Arifin. (zak)









