Oleh: Dr. (Cand) Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam dan Guru Pendidikan Agama Islam
Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan perubahan signifikan dalam struktur sosial masyarakat modern. Smartphone sebagai perangkat komunikasi multifungsi menjadi bagian integral dalam kehidupan Generasi Z. Bagi generasi ini, smartphone bukan sekadar alat komunikasi, tetapi media pembelajaran, interaksi sosial, hiburan, bahkan ruang aktualisasi diri.
Dalam perspektif Islam, setiap perkembangan teknologi merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman: “Dan Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi adalah bagian dari anugerah Allah. Namun, setiap anugerah mengandung amanah dan tanggung jawab moral. Dinamika penggunaan smartphone memengaruhi pola pikir, gaya komunikasi, serta sistem nilai Generasi Z. Akses tanpa batas terhadap informasi dapat membentuk karakter positif jika diarahkan pada kebaikan. Sebaliknya, tanpa kontrol nilai, ia dapat mendorong perilaku konsumtif, individualistik, dan hedonistik.
Allah SWT mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,
maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan dengan fenomena penyebaran hoaks dan informasi digital yang tidak terverifikasi. Generasi Z dituntut memiliki literasi digital yang berlandaskan nilai kehati-hatian (tabayyun). Selain itu, budaya validasi sosial melalui jumlah likes dan followers berpotensi menumbuhkan sikap riya dan orientasi popularitas.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan pentingnya keikhlasan dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas digital. Media sosial seharusnya menjadi sarana dakwah dan kebaikan, bukan panggung pencitraan.
Fenomena fear of missing out (FOMO), kecanduan layar, dan berkurangnya interaksi tatap muka menunjukkan adanya pergeseran nilai sosial. Islam menekankan keseimbangan (wasathiyah) dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan (moderat).” (QS. Al-Baqarah: 143)
Keseimbangan ini mencakup keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata, antara teknologi dan spiritualitas.
Smartphone pada hakikatnya adalah alat. Rasulullah SAW bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi prinsip etis dalam penggunaan teknologi. Aktivitas digital hendaknya diarahkan pada hal-hal yang produktif, edukatif, dan bernilai ibadah. Dengan demikian, implikasi penggunaan smartphone terhadap pembentukan nilai perilaku Generasi Z
sangat bergantung pada fondasi iman, pendidikan karakter, dan pendampingan keluarga serta institusi pendidikan.
Teknologi tidak dapat dihentikan, tetapi dapat diarahkan. Generasi Z perlu dibekali kesadaran spiritual agar mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.
Pada akhirnya, yang akan dipertanggungjawabkan bukanlah seberapa canggih perangkat yang dimiliki, tetapi bagaimana perangkat tersebut digunakan dalam koridor nilai-nilai Islam. Semoga Generasi Z mampu menjadi generasi yang unggul secara teknologi dan kokoh secara akhlak. Aamiin. ***







