JAKARTA (gokepri.com) – Ada saat-saat ketika manusia begitu jauh dari kebenaran sehingga ia tidak lagi mampu mengenalinya meskipun kebenaran itu berdiri tepat di hadapannya.
Yang lebih menyedihkan, kadang seseorang tidak menolak kebenaran karena kurang bukti. Ia menolaknya karena tidak siap menerima konsekuensi dari kebenaran itu sendiri.
Menerima kebenaran berarti mengakui kesalahan. Mengakui kesalahan berarti meruntuhkan kesombongan. Dan bagi sebagian manusia, meruntuhkan kesombongan terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan segalanya.
Karena itulah sejarah pernah mencatat sebuah doa yang menggetarkan hati. Sebuah doa yang tidak lahir dari kerendahan seorang pencari kebenaran, melainkan dari kerasnya hati yang menolak tunduk.
Allah mengabadikan ucapan itu dalam Alquran:
وَإِذْ قَالُوا۟ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Wa iż qālullāhumma ing kāna hāżā huwal-ḥaqqa min ‘indika fa amṭir ‘alainā ḥijāratam minas-samā`i awi`tinā bi’ażābin alīm
“Ingatlah ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: ‘Ya Allah, jika betul Alquran ini adalah kebenaran dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.'” (QS Al-Anfal: 32)
Sekilas, ucapan ini terdengar seperti permintaan orang yang sedang mencari kepastian. Namun para ulama tafsir menjelaskan bahwa kenyataannya tidak demikian.
Mereka bukan sedang mencari petunjuk. Mereka sedang menantang Allah.
Menurut Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah az-Zuhaili, ayat ini turun berkaitan dengan An-Nadhr bin Harits yang berulang kali mengejek Alquran sebagai dongeng orang-orang terdahulu. Ia tidak datang untuk mendengar, melainkan untuk meremehkan. Ketika Alquran dibacakan, ia tidak bertanya bagaimana cara memahami kebenaran itu. Ia justru berkata dengan nada olok-olok dan kesombongan.
Tafsir as-Sa’di menjelaskan bahwa ucapan mereka menunjukkan kebodohan yang luar biasa. Jika seseorang benar-benar ingin mengetahui mana yang benar, tentu ia akan berdoa, “Ya Allah, jika ini benar, tunjukkanlah kami kepadanya.” Namun yang mereka minta justru batu dari langit dan azab yang pedih.
Mengapa? Karena masalah mereka bukan kekurangan bukti. Masalah mereka adalah kesombongan.
Mereka tahu Muhammad SAW dikenal jujur. Mereka mendengar keindahan Alquran yang tidak mampu ditandingi para penyair Arab. Mereka menyaksikan sendiri akhlak Rasulullah. Namun menerima semua itu berarti mengakui bahwa kebanggaan mereka selama ini berada di jalan yang salah.
Ego mereka menolak hal itu. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa sikap tersebut merupakan puncak pembangkangan. Mereka lebih memilih meminta azab daripada meminta hidayah. Mereka lebih rela langit menjatuhkan batu daripada hati mereka tunduk kepada kebenaran.
Betapa mengerikannya kesombongan. Ia tidak selalu membuat seseorang tidak mengetahui kebenaran.
Kadang ia membuat seseorang mengetahui kebenaran, tetapi membencinya. Kadang ia membuat seseorang melihat cahaya, tetapi memilih memejamkan mata.
Kadang ia membuat seseorang mendengar panggilan pulang, tetapi memilih terus berjalan menjauh. Namun yang paling menyentuh dari kisah ini bukanlah keberanian mereka menantang Allah.
Melainkan kelembutan Allah dalam menghadapi mereka. Mereka meminta azab, tetapi Allah menahannya.
Mereka menantang langit, tetapi langit tidak menjawab dengan batu. Mereka mengejek Rasulullah SAW, tetapi Allah tetap membuka pintu ampunan.
Bahkan pada ayat berikutnya Allah berfirman bahwa Dia tidak akan mengazab mereka selama Rasulullah masih berada di tengah-tengah mereka dan selama masih ada orang-orang yang memohon ampun.
Seolah Allah hendak mengajarkan bahwa rahmat-Nya selalu lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Mungkin karena itu, pelajaran terbesar dari ayat ini bukan tentang azab. Melainkan tentang hati. Sebab seseorang tidak akan pernah tersesat karena kurangnya cahaya.
Ia tersesat ketika kesombongan membuatnya menolak cahaya yang sudah datang. *
(sumber: republika.co.id)








