Batam (gokepri) – Program Sekolah Penggerak (PSP) yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) dinilai oleh guru di Batam tak maksimal diterapkan saat siswa masih mengikuti Pembelajaran Jarak jauh (PPJ).
PSP bisa maksimal diterapkan apabila terjadi interaksi dua arah atau pembelajaran tatap muka (PTM) antara siswa dan guru. Karena pada konsep PSP berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter siswa.
Sementara bila siswa masih PJJ daring, maka guru akan sulit menilai kompetensi siswa secara menyeluruh. Terutama penilaian terhadap karakter siswa sesuai tujuan dari PSP membentuk profil pelajar pancasila.
Seperti penerapan PSP di SMPN 9 Batam pada tahun ajaran baru telah berjalan sekitar dua bulan. Menurut Tim Dewan Komite Pembelajaran (DKP) Sekolah Penggerak SMPN 9 Batam, Widia Kusuma Wardani SPd dan Neli Hidayati SPdi, meski sekolahnya telah menerapkan PSP namun kurang maksimal karena siswanya masih belajar lewat daring.
“Karena siswa masih daring jadi kurang maksimal PSP kita terapkan, terutama untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Salah satunya berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter siswa,” ujar Widia Kusuma Wardani SPd.
Hal tersebut juga diakui Kepala Sekolah Pengerak SMPN 9 Batam, Dra. Eny Murtiyastuti, M.Si, yang juga terpilih menjadi Kepala Sekolah Penggerak, meski sekolahnya telah menerapkan program sekolah penggerak sejak tahun ajaran baru namun kurang maksimal karena anak didiknya masih belajar daring.
“Saat PJJ daring guru tidak bisa menilai karakter siswa itu sendiri sesuai tujuan dari PSP membentuk profil pelajar berpancasilais. Makanya PSP ini lebih maksimal diterapkan saat pembelajaran tatap muka,” jelasnya.
Sementara Eny sendiri terpilih menjadi kepala sekolah penggerak, juga bukan dilihat dari fasilitas dimiliki sekolahnya, melainkan lebih kepada kemampuan SDM kepala sekolah. “Karena tahapan-tahapan seleksi kepala sekolah penggerak cukup panjang, mulai dari tertertulis, wawancara, presentase pembelajaran dan lainnya,” katanya.
Maka dari itu sebagai kepala sekolah penggerak ujar Eny lagi, harus bisa mewujudkan visi Pendidikan Indonesia melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Tentunya lebih berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM yang unggul baik kepala sekolahnya maupun gurunya. (aat)
|Baca Juga: 20 Sekolah di Batam Jadi Percontohan Sekolah Penggerak









