Rivalitas Dini Dua Dinasti

Ansar ekonomi kepri
Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina saat dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Kamis (25/2/2021). (foto: Tangkapan Layar Youtube Setpres)

Tanjungpinang (gokepri.com) – Pilkada serentak 2020 baru saja berakhir. Pasangan calon terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri juga baru dilantik Presiden pada 25 Februari 2021. Namun aroma rivalitas dan pecah kongsi antara Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina makin terasa.

Menariknya, keduanya sama-sama kental dengan politik dinasti. Keluarga Ansar mengangkangi kursi jabatan di kabupatan dan Provinsi Kepri. Istri Gubernur Ansar, Dewi Kumalasari adalah Wakil Ketua I DPRD Provinsi Kepri. Sedangkan putra kedua Ansar, Roby Kurniawan adalah Wakil Bupati Bintan yang terpilih pada Pilkada 2020.

Nuansa politik dinasti juga melekat pada Wakil Gubernur Marlin. Di mana sang suami, Muhammad Rudi, merupakan Wali Kota Batam, yang terpilih kembali untuk periode kedua.

Pecah kongsi dua pucuk pimpinan di Provinsi Kepri ini isunya sudah berlangsung lama, di akhir Pilkada. Hal ini dipicu hasil perolehan suara yang jauh dari harapan, terutama di Kota Batam dan Kabupaten Karimun. Di dua daerah ini, perolehan suara Ansar-Marlin jeblok, kalah dengan Isdianto-Suryani.

Sebagaimana diketahui, Pilkada Kepri 2020 diikuti tiga pasangan calon (paslon). Yakni nomor urut 1 Soerya Respationo-Iman Sutiawan, nomor urut 2 Isdianto-Suryani, dan nomor urut 3 Ansar Ahmad-Marlin Agustina.

Ansar-Marlin dan partai pengusungnya berbagi peran untuk menyapu kemenangan di tujuh kabupaten dan kota di Provinsi Kepri. Ansar dengan Partai Golkarnya menggarap lima daerah, yakni Kota Tanjungpinang, Bintan, Lingga, Natuna, dan Anambas. Jumlah pemilih dalam DPT dari lima daerah ini mencapai 414.881 pemilih atau 35,51 persen.

Sedangkan Marlin dengan Partai Nasdemnya menggarap kemenangan di dua daerah, Kota Batam dan Kabupaten Karimun. Jumlah pemilihnya mencapai 753.307 pemilih dalam DPT atau sekitar 64,49 persen.

Berdasarkan penetapan rekapitulasi oleh KPU Kepri, Ansar-Marlin unggul dengan perolehan 308.553 suara. Sedangkan Isdianto-Suryani meraih 280.160 suara dan Soerya-Iman 183.317 suara.

Meski unggul secara keseluruhan di Provinsi Kepri, namun perolehan suara Ansar-Marlin terpuruk di Kota Batam dan Kabupaten Karimun. Bahkan di Kota Batam, perolehan suara Ansar-Marlin menempati posisi buncit dibanding dua pasangan calon lainnya.

Di Kota Batam, Ansar-Marlin hanya memperoleh 110.980 suara atau sekitar 30,27 persen dari total suara sah. Sementara Isdianto-Suryani unggul dengan 143.799 suara dan Soerya-Iman memperoleh 111.880 suara.

Di Kabupaten Karimun, Ansar-Marlin juga kalah dari Isdianto-Suryani. Ansar-Marlin hanya memperoleh 35.978 suara atau sekitar 33,42 persen. Pasangan Isdianto-Suryani unggul dengan 49.204 suara. Sementara Soerya-Iman hanya memperoleh 22.462 suara.

Kegagalan memenangkan Kota Batam dan Kabupaten Karimun pun diarahkan ke kubu Marlin dengan Partai Nasdemnya. Tim Marlin dinilai kurang serius dalam merebut simpati pemilih untuk mencoblos Ansar-Marlin. Terutama di Kota Batam yang diklaim sebagai basis Marlin dan sang suami, Muhammad Rudi, yang mencalonkan lagi untuk kedua kalinya sebagai Wali Kota Batam.

Di Pilkada Batam, Rudi yang berpasangan dengan Amsakar Achmad menang telak dari pasangan Lukita Dinarsyah Tuwo-Abdul Basyid. Rudi-Amsakar unggul dengan 267.497 suara atau sekitar 73,06 persen dari total suara sah. Sedangkan Lukita-Basyid hanya mengantongi 98.638 suara atau sekitar 26,94 persen.

“Rudi hanya bergerak untuk kepentingan kemenangannya sendiri di Kota Batam, tidak maksimal membantu Ansar-Marlin di Pilgub Kepri. Sehingga besarnya perolehan suara Rudi-Amsakar di Batam tidak linier dengan perolehan suara Ansar-Marlin,” ungkap seorang sumber.

Evaluasi dari hasil perolehan suara di Pilkada inilah yang disinyalir membuat kubu Ansar mengulur janji politik yang telah disepakati bersama sebelumnya. Terutama terkait kesepakatan untuk menempatkan pejabat di jabatan Sekda dan tiga kepala dinas di Pemprov Kepri berdasarkan rekomendasi dari Wakil Gubernur Marlin.

Belum genap 100 hari memimpin Kepri, duet Ansar-Marlin pun retak. Retaknya hubungan Ansar-Marlin kian memuncak dengan pelibatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kota Batam yang menagih janji politik Ansar melalui surat pemberitahuan aksi unjuk rasa. Janji politik terkait jabatan Sekda dan tiga kepala dinas Pemprov Kepri itu terkesan tak kunjung dipenuhi oleh Gubernur Ansar.

Aksi unjuk rasa itu rencananya digelar pada Senin (12/4/2021) di Gedung Graha Kepri. Namun aksi untuk menuntut Gubernur Ansar menepati janji politik itu batal digelar.

Dikonfirmasi media terkait isu keretakan tersebut, Gubernur Ansar mengaku bahwa hubungannya dengan Wakil Gubernur Marlin masih baik-baik saja. “Tidak adalah, masih seperti biasa saja, tidak ada retak-retak,” jawabnya usai rapat virtual pada Rabu (14/4/2021).

Wakil Gubernur Marlin juga enggan menanggapi memanasnya hubungannya dengan Gubernur Ansar. “Nanti salah lagi komentar,” katanya sambil bergegas. (wan)

BAGIKAN