BATAM (gokepri) – Nama Rudi Panjaitan ikut tercantum dalam daftar empat pejabat yang lolos seleksi administrasi calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika ini masuk bersama tiga kandidat lain: Ardiwinata, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata; Firmansyah, pejabat senior yang kini menjabat Penjabat Sekda; dan Suhar, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air.
Surat bernomor 02/PANSEL-JPT/BTM/09/2025 yang ditandatangani panitia seleksi menegaskan berkas mereka memenuhi syarat. Ini baru langkah awal dari proses yang melibatkan uji kompetensi, rekam jejak, hingga wawancara. Dari sini akan dipilih figur yang bakal menempati kursi paling strategis di jajaran birokrasi Batam.
Selain jabatan sekda, panitia seleksi juga mengumumkan nama-nama yang lolos administrasi untuk dua posisi penting lain. Pada jabatan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, lima orang masuk daftar: Budi Hartoyo, Nur Amri Arif, Sri Miranthy Adisthy, Titin Yuniarti, dan Yudi Suprapto.
Untuk Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, tujuh pejabat dinyatakan melaju: Chitra Widya, Damanhuri, Ghufron, Irwanto, Sri Miranthy Adisthy, Zul Arif, dan Zulkifli Aman. Semua peserta dari tiga seleksi jabatan itu masih harus menjalani tahapan kompetensi dan wawancara.
Menurut Peraturan Wali Kota Batam Nomor 12 Tahun 2024, sekda adalah jabatan dengan lingkup kerja sangat luas. Ia menjadi koordinator utama yang bertanggung jawab langsung kepada wali kota. Tugasnya mencakup penyusunan kebijakan daerah, pelayanan administratif, pembinaan aparatur sipil negara, serta koordinasi dengan perangkat daerah.
Dalam struktur itu, sekda dibantu tiga asisten dan 12 kepala bagian. Posisi ini ibarat pusat kendali yang memastikan setiap kebijakan kepala daerah berjalan seirama di lapangan. Tanpa koordinasi kuat, visi misi wali kota bisa terhambat dalam birokrasi yang kerap berlapis-lapis.
Rudi Panjaitan menyebut jabatan sekda bukan sekadar posisi administratif, melainkan fungsi orkestra birokrasi. “Dibutuhkan kemampuan manajerial yang andal dan kolaboratif,” ujarnya, 10 September 2025. Menurutnya, harmoni birokrasi menjadi kunci agar 15 program prioritas wali kota dan wakil wali kota bisa diwujudkan.
Latar belakang Rudi di bidang komunikasi publik membuatnya terbiasa dengan kerja lintas sektor. Selama memimpin Dinas Kominfo, ia berhadapan dengan isu transparansi, digitalisasi layanan publik, dan koordinasi antarinstansi. Pengalaman ini dianggap modal untuk membangun mekanisme birokrasi yang efisien.
Namun, menurut Rudi, tantangan yang dihadapi Batam jauh lebih besar. Masalah banjir, penataan utilitas kota, hingga perencanaan tata ruang masih menjadi pekerjaan rumah. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Batam yang selama ini bergantung pada industri dan investasi asing harus dijaga agar tetap stabil. Rudi menyebut target akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah pertumbuhan ekonomi dua digit.
“Peran sekda bukan hanya administratif, tetapi memastikan kebijakan kepala daerah benar-benar terlaksana,” kata Rudi.
Empat kandidat sekda memiliki latar belakang berbeda. Ardiwinata membawa pengalaman di sektor pariwisata, ia juga pernah menjabat Kabag Humas Pemko Batam. Firmansyah mengandalkan jam terbang panjang di birokrasi, Suhar berakar pada bidang teknis perencanaan, sedangkan Rudi datang dengan latar komunikasi dan digitalisasi. Hasil seleksi akan menentukan siapa yang akan memimpin mesin birokrasi Batam dalam lima tahun ke depan.
Jejak Birokrat Rudi Panjaitan
Perjalanan Rudi Panjaitan menapaki puncak birokrasi Batam bukan instan. Kariernya dimulai pada tahun 2000 sebagai Lurah Tembesi, sebuah posisi yang menempatkannya langsung di pusat layanan publik tingkat kelurahan.
Setahun kemudian, ia dipindah ke kantor Kecamatan Batu Ampar dan menjabat sebagai Kepala Seksi Pemerintahan. Dua tahun berselang, ia dipercaya menangani kemitraan KUKM di Dinas PMPKUKM Kota Batam.
Pada 2006, Rudi Panjaitan menjabat Kasubbag Dokumentasi Bagian Humas Setdako Batam, menandai pergeseran dari lini teknis ke bidang komunikasi dan dokumentasi publik. Empat tahun berikutnya, ia diberi tanggung jawab lebih luas: Kepala Bidang Sarana dan Obyek Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam pada 2010, mengelola promosi dan pengembangan destinasi kota.
Tahun 2017, Rudi kembali digeser, kali ini sebagai Kabag Tata Pemerintahan Setdako Batam, sebelum menjadi Kabag Organisasi pada 2020.
Puncak perjalanan karier birokrat Rudi terjadi pada 2023, ketika Wali Kota Batam Muhammad Rudi menugaskannya sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika. Penunjukan ini menempatkan Rudi pada posisi penting, menghubungkan kebijakan pemerintahan dengan masyarakat melalui kanal komunikasi digital dan layanan publik.
Sekda Batam dari Masa ke Masa
Kursi sekda Batam sebelumnya diisi Jefridin, pejabat yang mendampingi dua periode kepemimpinan Muhammad Rudi dan Amsakar Achmad. Pada Agustus 2025, ia dipindahkan menjadi Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik. Pergeseran ini membuka ruang bagi Amsakar Achmad—yang kini berpasangan dengan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra—untuk menentukan figur baru sesuai arah kebijakan pemerintahannya.
Jabatan ini dianggap bisa menentukan ritme pemerintahan sekaligus efektivitas program pembangunan. Proses seleksi dipandang sebagai momentum regenerasi birokrasi di lingkungan Pemko Batam.
Berdasarkan catatan gokepri, dalam 20 tahun terakhir Kota Batam telah mengalami beberapa pergantian Sekda yang sejalan dengan dinamika kepemimpinan wali kota. Pergantian Sekda di Batam sering kali dipengaruhi oleh transisi kepemimpinan wali kota. Selama dua kepemimpinan terakhir, menunjukkan posisi ini sering kali diisi oleh birokrat berpengalaman.
Pada periode 2006-2016, Agussahiman menjabat sebagai Sekda Kota Batam selama dua periode kepemimpinan Wali Kota Ahmad Dahlan-Wakil Wali Kota Muhammad Rudi. Agussahiman juga sempat menjadi Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Batam pada Maret 2016 sebelum digantikan. Pria kelahiran Pekanbaru 23 November 1960 ini merupakan sosok birokrat sejati di lingkungan Pemerintah Kota Batam. Ia meniti karir sebagai PNS sejak tahun 1985.
Kemudian, Jefridin Hamid dilantik sebagai Sekda pada akhir 2016, menggantikan Agussahiman di bawah kepemimpinan Wali Kota Muhammad Rudi. Ia menjabat selama sekitar sembilan tahun, hingga Juli 2025. Jefridin memulai karirnya sebagai guru pada 1998 dan naik pangkat melalui berbagai posisi, termasuk Kepala Dinas Pendapatan Daerah (2011-2016).
Lalu Firmansyah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekda pada 30 Juli 2025, dan kemudian ditetapkan sebagai Penjabat Sekda pada 29 Agustus 2025. Ia sebelumnya menjabat sebagai Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan di Setdako Batam. Firmansyah, kelahiran 1968, memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun sebagai aparatur sipil negara.
Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Selain pengalaman, kedekatan Firmansyah dengan Amsakar juga menjadi faktor pendukung ia sebagai kandidat kuat. Keduanya sama-sama putra daerah, Daik Lingga.
Dalam pidatonya saat pelantikan pejabat 29 Agustus 2025, Amsakar Achmad menegaskan mutasi dan promosi dilakukan dengan pertimbangan komprehensif. “Tutup buku cerita-cerita yang tidak perlu. Hari ini ada perputaran dengan pertimbangan yang matang,” katanya.
Ia menekankan rotasi kali ini bersifat normatif. Sebagian besar hanya pergeseran setara, dengan promosi terbatas. “Seingat saya, tidak lebih dari satu atau dua nama yang berubah signifikan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pejabat agar peka terhadap aspirasi warga. “Jangan sampai pejabat berkomentar dengan gaya yang merendahkan. Sensitiflah dengan harapan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Amsakar, pelantikan ini merupakan pilihan terbaik di tengah ekspektasi yang tinggi. “Kalau mau bicara hutang budi, saya berhutang budi dengan 5.600 relawan. Tapi tidak mungkin semua bisa kami akomodir. Jadi inilah pilihan terbaik saat ini,” katanya menutup pidato.
Baca Juga: Empat Nama Berebut Kursi Sekda Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









