Resesi Ekonomi Mereda, Ekspor Pulih dan Belanja Pemerintah Meningkat

Ekonomi Indonesia 2021
Pelabuhan Tanjung Priok. (Foto: Reuters)

Batam (gokepri.com) – Ekonomi Indonesia sepanjang Januari-Maret 2021 masih minus tapi menunjukkan resesi mulai mereda. Didorong kenaikan harga komoditas yang mendorong pemulihan ekspor dan belanja pemerintah yang lebih besar.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (5/5/2021), ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,74% sepanjang periode Januari-Maret 2021 dibanding periode yang sama tahun lalu sekaligus menunjukkan kontraksi berturut-turut selama empat triwulan terakhir. Namun angka kontraksi tersebut mereda dibanding Oktober-Desember 2020 yang sebesar -2,19%.

Level kontraksi sebesar 0,74% masih berada di kisaran yang diperkirakan pemerintah yakni antara 0,6% hingga 0,9%. Sedangkan kontraksi 0,74% sesuai dengan survei Reuters.

“Ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi akan semakin terlihat. Dan tentunya kami berharap pemulihan ekonomi pada 2021 bisa terwujud, ” kata Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), dalam jumpa pers virtual.

Dalam skala triwulanan, ekonomi berkontraksi 0,96%, dibandingkan dengan penurunan 0,42% pada Oktober-Desember dan perkiraan penurunan 1,04%.

Konsumsi yang menyumbang sekitar setengah dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, masih terus menyusut dari tahun sebelumnya karena konsumen tetap enggan membayar barang-barang seperti mobil.

Sementara itu, belanja pemerintah tumbuh 2,96% dalam periode tersebut seiring dengan peningkatan belanja sosial.

Perekonomian nasional mengalami kontraksi setahun penuh pertamanya dalam lebih dari dua dekade pada tahun 2020 karena pandemi COVID-19 dan pembatasan aktivitas yang berdampak menghantam bisnis dan membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Pemerintah sudah menyuntikkan Rp579,78 triliun sebagai stimulan untuk membantu mengurangi dampak virus korona tahun lalu dan telah memperluas pengeluaran pemulihan tahun ini menjadi Rp699,4 triliun dari Rp403,9 triliun rupiah dianggarkan pada awal tahun.

Indonesia tercatat memiliki jumlah infeksi dan kematian akibat virus corona tertinggi di Asia Tenggara. Kasus telah menurun sejak memuncak pada Januari, tetapi pemerintah melaporkan minggu ini telah mendeteksi kasus pertama dari varian COVID-19 yang sangat menular yang pertama kali terdeteksi di India.

Faisal Rachman, Ekonom Bank Mandiri, mengatakan perekonomian sudah bergerak di jalur yang benar dan diperkirakan akan semakin membaik pada paruh kedua tahun ini.

“Konsumsi rumah tangga dan investasi tetap diperkirakan akan mengalami percepatan seiring dengan peningkatan permintaan yang didorong oleh kepercayaan yang didorong oleh vaksin dan mengintensifkan transmisi pelonggaran moneter karena siklus kredit yang lebih tinggi,” katanya seperti dikutip dari Reuters.com.

Bank Indonesia telah memangkas suku bunga utama dengan total 150 basis poin, memompa lebih dari USD50 miliar likuiditas ke dalam sistem keuangan dan melonggarkan aturan pinjaman sejak pandemi mulai membantu meredam dampak wabah.

Bank Indonesia memperkirakan ekonomi tumbuh 4,1% -5,1% tahun ini. Angka ini memangkas proyeksi bulan lalu dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,3% -5,3% setelah melihat bahwa konsumsi tidak pulih secepat yang diharapkan semula. (Can)

|Baca Juga: Rudi: Ekonomi Sulit Tumbuh Jika Covid-19 Belum Selesai

BAGIKAN