BATAM (gokepri) – Puluhan nelayan boat pancung di kawasan Sagulung, Batam, menanggung rugi besar. Mereka mengaku kehilangan uang hingga ratusan juta rupiah setelah meminjamkan dana kepada seorang mantan operator SPBU Simpang Basecamp. Uang itu disebut untuk membeli stok Pertalite bagi kebutuhan melaut.
Oteh, salah satu korban, menuturkan ia menyerahkan Rp150 juta dengan janji pengembalian dalam sepekan plus bonus Rp20 juta. “Biasanya kami setor dulu untuk beli Pertalite. Kali ini katanya uang dipinjam sebentar untuk nambah stok, nanti dikembalikan,” katanya, Senin (20/10). Namun, hingga kini, uang itu raib tanpa kabar.
Menurut para nelayan, operator itu dikenal dekat dengan mereka karena selama ini menjadi penghubung pembelian BBM nelayan. Modusnya, pelaku meminjam uang dengan alasan menambah pasokan Pertalite. Namun setelah dana dikirim, pelaku tak lagi muncul di lokasi kerja.
“Uang itu bukan dari tabungan. Kami pinjam ke sana-sini, berharap bisa cepat kembali,” ujar Fahmi, nelayan lain yang juga menjadi korban. Mereka mengaku hanya ingin uang mereka dikembalikan dan meminta pemerintah memperketat pengawasan distribusi BBM nelayan.
Pemilik SPBU Simpang Basecamp, Adrian, membenarkan bahwa pelaku merupakan mantan pegawai yang sudah mengundurkan diri dua pekan lalu. Ia menegaskan, aksi tersebut dilakukan di luar wewenang perusahaan. “Uang itu tidak masuk ke kas kami. Ini murni ulah individu. Kami akan bantu nelayan membuat laporan ke polisi,” ujarnya.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Batam, Hanif Pradipta Nur Shalih, mengatakan, pembelian BBM bagi nelayan semestinya dilakukan melalui sistem resmi menggunakan QR Code dan surat rekomendasi dinas. “Kami akan menelusuri kasus ini. Jika terbukti ada pelanggaran, akan ada sanksi tegas,” katanya.
Baca Juga: Diskan Batam Usulkan Empat Kampung Nelayan Baru ke KKP
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








