BATAM (gokepri) — Puasa Ramadhan sering terasa menenangkan, meski tubuh menahan lapar dan dahaga. Menurut psikiater, momen ini justru memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk belajar meregulasi emosi.
Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam dr Revit Jayanti S, Sp.K, mengatakan Ramadhan bukan sekadar soal menahan makan dan minum. Bulan ini juga menjadi waktu melatih pengendalian diri dan meningkatkan kualitas emosional.
“Ramadhan terasa menenangkan karena penuh makna dan nilai spiritual. Di situ ada proses menata diri, termasuk emosi,” kata Revit di Batam, Kepulauan Riau, Minggu 15 Februari 2026.
Baca Juga: Kepri Ramadhan Fair 2026 Dimatangkan, Digelar 2–8 Maret
Ia menjelaskan, secara biologis, puasa memicu sejumlah perubahan dalam tubuh. Saat tidak makan selama beberapa jam, kadar gula darah menurun. Kondisi ini kerap memicu rasa lelah dan sensitif di awal puasa.
Perubahan pola tidur dan makan juga memengaruhi hormon stres atau kortisol. Namun, tubuh memiliki kemampuan beradaptasi. “Biasanya setelah tiga hari, tubuh mulai menyesuaikan diri dan puasa terasa lebih nyaman,” ujar Revit.
Puasa juga berkaitan dengan proses autophagy, atau pembersihan sel. Proses ini mendukung perbaikan sel saraf dan meningkatkan brain-derived neurotrophic factor (BDNF), senyawa penting bagi fungsi kognitif dan pengaturan emosi.
Meski demikian, Revit menyoroti fenomena konsumtif yang sering muncul selama Ramadhan. Pasar takjil bermunculan, dan keinginan membeli makanan justru meningkat. Padahal, esensi puasa menekankan kesederhanaan dan pengendalian diri.
“Dorongan impulsif, termasuk belanja berlebihan untuk takjil atau persiapan Lebaran, masuk dalam respons reaktif yang seharusnya bisa dikendalikan,” katanya.
Menurut Revit, Ramadhan mengajarkan pengendalian diri secara menyeluruh. Tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan amarah, ucapan yang menyakiti, serta reaksi emosional yang berlebihan.
Emosi, lanjut dia, merupakan respons alami terhadap peristiwa. Namun, emosi tidak perlu dibiarkan meledak hingga melukai diri sendiri atau orang lain. Di sinilah pentingnya regulasi emosi.
“Regulasi emosi bukan menekan perasaan, melainkan mengenali apa yang dirasakan, memahami penyebabnya, lalu mengatur respons agar tetap sehat,” ujarnya.
Ia menyarankan beberapa cara sederhana untuk menjaga emosi selama puasa. Salah satunya dengan mengenali dan menerima emosi yang muncul, lalu mengatur napas. Teknik pernapasan 4x4x4 bisa membantu menenangkan diri.
Revit juga mengingatkan pentingnya mengatur energi, bukan sekadar waktu. Tidur cukup dan sahur dengan asupan protein membantu tubuh lebih stabil sepanjang hari. “Lelah itu wajar, bukan kesalahan,” katanya.
Berbagi cerita dengan teman tepercaya, berolahraga ringan, serta memberi waktu untuk relaksasi juga membantu menjaga keseimbangan emosi. Selain itu, berpikir realistis penting agar ekspektasi tidak memicu stres.
“Kalau berharap bisa istirahat terus selama puasa tapi tetap menerima gaji dan THR, itu jelas tidak realistis,” ujar Revit sambil tersenyum. ANTARA
Baca Juga: Buka Puasa Hidangan Nusantara di Ayola Signature Ocarina, Makan Sepuasnya Hanya Rp98 Ribu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









