Banyak yang Salah Kaprah, Sport Tourism Bukan Sekadar Event Sport, Ini Bedanya

(internet)

BATAM (gokepri.com) — Perbedaan antara sport tourism dan event sport kerap disalahartikan sebagai hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki dampak yang sangat berbeda, terutama terhadap sektor ekonomi daerah.

Perwakilan dari Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri, Surya Wijaya menjelaskan sport tourism memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan event sport biasa.

“Sport tourism bukan hanya soal penyelenggaraan event olahraga, tetapi bagaimana kegiatan tersebut mampu menarik wisatawan dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” ujar Surya.

HBRL

Kata dia, sport tourism mendorong pergerakan sektor pendukung seperti UMKM, hotel, transportasi, hingga destinasi wisata di sekitar lokasi kegiatan. Wisatawan yang datang tidak hanya berpartisipasi dalam olahraga, tetapi juga menginap dan berbelanja.

“Jadi selama ini ada event run 5k atau 10k itu bukan sport tourism. Banyak yang salah. Dampaknya apa untuk ekonomi tidak ada?,” kata Dia.

Sebaliknya, event sport hanya berfokus pada pertandingan atau kompetisi semata, tanpa dirancang untuk menggerakkan sektor pariwisata secara luas.

“Kalau event sport hanya berhenti di kegiatan olahraga, maka nilai tambah ekonominya tidak maksimal. Berbeda dengan sport tourism yang dirancang sebagai pengalaman wisata,” jelasnya.

Dia menjelaskam, konsep sport tourism berawal dari pengembangan event olahraga menjadi bagian dari strategi pariwisata. Tidak lagi sekadar lomba, tetapi dikemas dengan promosi destinasi, paket wisata, hingga pelibatan pelaku usaha lokal.

“Dulu mungkin hanya lomba atau kejuaraan biasa. Tapi kemudian dikembangkan dengan paket wisata, promosi destinasi, hingga pelibatan UMKM. Dari situlah lahir konsep sport tourism,” terang Surya.

Surya memberi contoh, di Kepulauan Riau, konsep sport tourism sudah terbukti berjalan dan menjadi andalan daerah. Salah satu contohnya adalah Bintan Triathlon yang digelar di kawasan Lagoi, Kabupaten Bintan.

Event ini tidak hanya menghadirkan kompetisi renang, sepeda, dan lari, tetapi juga menarik ratusan hingga ribuan peserta dari puluhan negara.

Kehadiran peserta mancanegara tersebut turut mendorong kunjungan wisata dan memperkuat posisi Bintan sebagai destinasi sport tourism dunia.

Selain itu, Mandiri Bintan Marathon juga menjadi contoh nyata sport tourism yang menggabungkan olahraga dengan promosi budaya dan keindahan alam lokal. Event ini bahkan disebut sebagai ikon sport tourism Kepri karena mampu menghadirkan pengalaman wisata berbasis olahraga.

Tak hanya di Bintan, Batam juga mulai mengembangkan konsep serupa melalui berbagai kegiatan seperti Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) yang sukses mendatangkan ribuan peserta dari dalam dan luar negeri.

Kawasan Lagoi sendiri telah lama dikenal sebagai pusat sport tourism karena secara konsisten menjadi tuan rumah berbagai event internasional seperti triathlon dan balap sepeda, sekaligus menawarkan daya tarik wisata alam pantai.

Surya menegaskan, keberhasilan Kepri dalam mengembangkan sport tourism harus menjadi contoh bagi daerah lain.

“Ketika event olahraga dikemas menjadi sport tourism, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan atlet, tetapi juga masyarakat luas,” tutupnya.

Penulis : Engesti

Pos terkait