BRIN mengembangkan teknologi pemurnian minyak atsiri. Indonesia produsen besar, tapi masih mengekspor bahan mentah dan mengimpor produk bernilai tinggi.
JAKARTA (gokepri) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemurnian minyak atsiri untuk mendorong industri kosmetik dan farmasi berbasis bahan baku dalam negeri. Upaya ini menargetkan peningkatan nilai tambah komoditas yang selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah.
Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Egi Agustian, menjelaskan pendekatan yang digunakan menggabungkan sejumlah teknologi pemisahan modern. Di antaranya distilasi fraksinasi vakum, ekstraksi karbon dioksida superkritik, distilasi molekuler, hingga teknologi berbasis ultrasonik.
Baca Juga: Manfaat Temulawak, Bisa Membantu Cegah Stunting
Pendekatan ini memungkinkan pemisahan senyawa aktif secara lebih presisi. Hasilnya berupa produk dengan kemurnian tinggi dan stabil, sesuai kebutuhan industri. “Bisa lebih spesifik,” kata Egi, Kamis, 16 April 2026.
Salah satu capaian riset BRIN adalah pemurnian minyak serai wangi menjadi sitronelal dengan kemurnian di atas 90 persen. Senyawa ini kemudian dapat diolah menjadi isopulegol, bahan bernilai lebih tinggi dengan karakter aroma lebih halus.
Selain senyawa tunggal, tim riset juga mengembangkan formulasi produk turunan. Mulai dari parfum padat, masker, losion, hingga cairan pembersih tangan. Produk ini menyasar kebutuhan industri kosmetik dan kesehatan yang terus tumbuh.
Namun riset ini baru berada pada tahap pengembangan teknologi. Tantangan berikutnya terletak pada hilirisasi, yakni membawa inovasi dari laboratorium ke skala industri.
Indonesia termasuk salah satu produsen dan eksportir minyak atsiri terbesar di dunia. Sekitar 40 jenis minyak atsiri telah menembus pasar global. Komoditas ini berasal dari berbagai daerah, seperti nilam dari Sumatera, serai wangi dari Jawa, hingga pala dari Maluku.
Meski demikian, sebagian besar produk masih diekspor dalam bentuk crude atau mentah. Sementara industri dalam negeri justru mengimpor bahan turunan dengan kemurnian tinggi untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi.
Egi menyebut nilai ekonomi minyak atsiri dapat melonjak signifikan jika melalui proses pemurnian. “Bisa naik sampai sepuluh kali lipat,” ujarnya.
Contohnya minyak nilam. Nilai jualnya meningkat jika kadar patchouli alcohol tinggi dan kandungan logam rendah. Parameter ini menjadi standar penting dalam industri parfum global.
Kesenjangan antara potensi dan realisasi ini bukan semata persoalan teknologi. Infrastruktur industri, investasi, dan kemitraan dengan sektor swasta menjadi faktor penentu.
Selama ini, industri pengolahan lanjutan masih terbatas. Banyak pelaku usaha memilih mengekspor bahan mentah karena lebih cepat dan minim risiko. Di sisi lain, investasi untuk teknologi pemurnian tergolong mahal dan membutuhkan kepastian pasar.
Dalam konteks ini, riset BRIN menjadi pintu masuk. Teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat menekan biaya produksi dan mempercepat adopsi oleh industri.
Permintaan produk berbasis bahan alami terus meningkat, terutama di sektor kosmetik dan farmasi. Tren ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi, tidak hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga produsen produk bernilai tinggi.
Egi menilai penguasaan teknologi menjadi kunci. Dengan pemurnian yang tepat, minyak atsiri Indonesia dapat memenuhi standar internasional sekaligus bersaing di pasar global. “Nilai tambahnya besar,” katanya. ANTARA
Baca Juga: SURPLUS PERDAGANGAN: Logam dan Perhiasan Dominasi Perdagangan Indonesia-Swiss
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








