PARIWISATA BINTAN: Bertahan hingga Singapura Buka Gerbang

Festival Jazz Lagoi
Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya mengunjungi Lagoi, Bintan, Sabtu (17/4/2021). (foto: Instagram/Kepri Tourism)

Tanjungpinang (gokepri.com) – Resort-resort kelas internasional di Lagoi, Bintan, masih bertahan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19. Kebijakan lockdown Singapura dan Malaysia selama setahun terakhir memukul industri pariwisata yang menjadi penggerak ekonomi pulau di Kepulauan Riau ini.

Badai krisis yang disebabkan virus corona langsung memukul hotel dan resort di Bintan. Mereka mengalami kerugian besar selama pandemi tapi hampir separuh resort di sana memilih bertahan meski usahanya lebih besar pasak daripada tiang. Separuh lagi mengangkat bendera putih.

“Maret 2020 sampai sekarang tidak mendapat omzet. Kerugian yang dialami terlalu besar,” kata Group General Manager Bintan Resort Abdul Wahab kepada Kantor Berita Antara, Kamis (17/6).

Kebijakan negara-negara menutup perbatasannya demi mengendalikan wabah terutama Singapura dan Malaysia membuat sektor pariwisata Bintan terpuruk. Turis mancanegara menjadi pangsa pasar utama resort-resort di Bintan sebelum pandemi.

Kunjungan turis anjlok drastis imbas dari lockdown Singapura. Alhasil Kepri juga terimbas tak lagi ramai dikunjungi turis mancanegara. Selama 2020, kunjungan wisman ke provinsi ini menurun tajam 85,64 persen dibanding 2019. Dari 2,8 juta wisman menjadi 400 ribuan orang saja. Tak cuma Kepri, kondisi ini juga dialami banyak daerah wisata di Indonesia dan negara lain.

Badai krisis akhirnya membuat rugi resort. Menurut perhitungan Wahab, nilai investasi berupa infrastruktur di kawasan pariwisata yang dikelola Bintan Resort mencapai USD1,5 miliar atau senilai Rp2,1 triliun.

Tak semua resort atau hotel mampu menanggung kerugian tersebut. Berdasarkan data Wahab, sembilan hotel sudah tidak lagi beroperasi karena pandemi. Sekarang, hanya ada tujuh hotel yang beroperasi di kompleks wisata Lagoi.

“Komitmen kami, rasa optimistis kami tetap terbangun dan terjaga,” ujarnya.

Wahab mengatakan komunikasi dengan pemilik dan General Manager Hotel senantiasa dilakukan, terutama dalam rangka mempersiapkan protokol kesehatan yang dapat diterima Pemerintah Singapura.

Bintan Resort dan seluruh pemilik hotel yang berada di kawasan pariwisata yang dikelola Bintan Resort optimistis Pemerintah Singapura membuka akses warganya untuk berlibur ke kawasan pariwisata tersebut.

Apalagi Presiden Jowoki telah menetapkan Bintan Resort sebagai “pilot project” kawasan pariwisata dengan protokol kesehatan. Komunikasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Singapura akan membuahkan hasil yang positif untuk sektor pariwisata di Bintan, yang berbatasan dengan Singapura.

Optimisme Pemerintah Indonesia membangkitkan sektor pariwisata, khususnya di Bintan semakin mendorong rasa percaya diri dan optimistis Bintan Resort untuk bertahan.

“Selasa-Rabu pekan depan Kemenlu rapat, mengundang kami untuk membuat proposal supaya Lagoi bisa dibuka Juli atau Agustus 2021. Kami diminta memberi pandangan,” ucapnya.

Seandainya hingga akhir tahun 2021, Singapura tetap “lock down”, Bintan Resort tetap bertahan. Bintan Resort tetap bertahan karena merasa yakin Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Indonesia dapat menyelesaikan permasalahan ini.

“Dengan program ‘herd imunity’ atau vaksinasi, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk menutup diri. Kami yakin 90 persen Singapura membuka akses masyarakatnya untuk berlibur ke Bintan,” katanya.

Pembukaan Bintan Resort sebagai kawasan pariwisata yang aman dari COVID-19 harus memenuhi protokol kesehatan. Vaksinasi sebagai penguatan imunitas masyarakat juga menjadi syarat mutlat yang dipenuhi dalam pengoperasian kawasan pariwisata di Lagoi.

Seluruh karyawan di Bintan Resort sudah divaksinasi. Untuk para wisatawan, lanjutnya Bintan Resort menyiapkan dua zona yakni Zona A dan Zona Spesial untuk wisatawan yang sudah divaksin, kemudian Zona B khusus untuk wisatawan yang belum divaksin.

Wisatawan mancanegara hanya diperkenankan berwisata di Zona A sebagai kawasan yang aman. Wisatawan asing yang dalam satu bulan terakhir berada di negara Zona Merah, tidak boleh masuk ke Bintan Resort.

Wisatawan yang masuk ke Zona A harus menunjukkan sertifikasi sudah pernah divaksin. Mereka juga harus menunjukkan surat keterangan negatif COVID-19 berdasarkan hasil tes usap dengan metode PCR.

Surat itu, tambahnya berlaku selama tiga hari. Kemudian ketika di Lagoi, mereka cukup dites dengan metode GeNose.

“Kembali ke negaranya setelah tes usap dengan metode PCR, dengan hasil negatif,” katanya.

Sistem penelusuran terhadap wisman dan wisatawan domestik juga telah ditetapkan melalui “Blue Past”. Melalui sistem ini, petugas akan lebih mudah melacak wisatawan.

“Ini berguna ketika ada kejadian yang luar biasa, sehingga lebih mudah melacak wisatawan itu kontak dengan siapa saja,” tuturnya. (Can/ant)

|Baca Juga: 

BAGIKAN