Karimun (gokepri.com) – Dua hari ini, begitu berat dalam kehidupan Salbiah (45). Wanita paruh baya penjual kerang di pinggiran jembatan pintu air Kolong, Karimun.
Biah hanya bisa terdiam, pandangannya nanar. Mulutnya seakan terkunci setelah beberapa jam sebelumnya terlibat pertengkaran hebat dengan petugas Satpol PP.
Ya, tiga kali berturut-turut petugas bersegaram coklat itu tiba-tiba saja datang ke lapak dia berjualan.
Sore hari, Rabu 23 Agustus 2023 beberapa petugas Satpol PP mendatangi lapaknya, meminta agar dia mengosongkan tempat itu.
Biah dan suaminya, Anto bersitegang dengan petugas. Mereka mempertahankan tempat yang menjadi haknya.
Esoknya paginya, hal terburuk itupun terjadi. Petugas Satpol PP dengan jumlah yang lebih banyak tanpa ampun membongkar lapaknya.

Tumpukan kerang yang berada di atas meja dimasukkan dalam karung oleh petugas. Meja jualan milik Biah sudah berpindah tempat ke atas truk.
Ketegangan pun terjadi. Adu mulut tak dapat dielakkan. Bukan hanya Biah dan Anto saja, warga yang menyaksikan drama itu pun merasa prihatin. Mereka trenyuh.
Usai petugas pergi, suami-istri ini diam mematung. Memandangi lapak mereka yang sudah tak ada lagi.
Tak mau tinggal diam. Kerang pun mereka gelar di atas terpal. Namun, karena cuaca yang panas dan takut kerang-kerangnya mati, Biah pun memindahkan kerang itu ke meja yang baru.
Mereka fikir nestapa sudah berakhir. Namun, nyatanya tidak. Sorenya rombongan petugas Satpol PP kembali datang. Mereka kembali diusik.
“Cobaan apalagi ini,” kata Biah, nelangsa.

Seolah pasangan suami-istri ini seperti buruan yang tak mau dilepas, petugas Satpol PP terusa saja mengusik mereka.
Sambil berlinang air mata, Biah memohon kepada Bupati Karimun, Aunur Rafiq untuk menghentikan ‘kegananasan’ petugas Satpol PP itu.
“Pak Bupati, tolonglah. Jangan gusur kami. Hentikanlah anak buah bapak ini,” ujar Biah, sambil menyeka pipinya yang basah.
Dia mengaku tak habis fikir mengapa tiba-tiba saja digusur oleh Satpol PP. Padahal, dia sudah lebih dari 25 tahun berjualan kerang disitu tak ada masalah.
“Sudah lebih dari 25 tahun saya jualan kerang di sini, kenapa kok sekarang harus diusir,” ujarnya serak.
Kerang yang dijualnya itu didatangkan dari Kuala Enok dan juga Tembilahan, Riau.
Biah menduga-duga apakah penggusuran yang dialaminya itu karena kedatangan Presiden Jokowi atau karena kepentingan bisnis.
“Saya dengar karena Pak Jokowi datang makanya kami digusur, ada juga saya dengar karena lapak Perusda di Pasar Maimun banyak yang kosong sehingga saya harus dipaksa pindah,” ungkapnya.
Dikatakan, padahal selama ini dia memang bukanlah pedagang di Pasar Puan Maimun, namun karena kepentingan bisnis dia dipaksa untuk pindah.
“Kami ini orang susah, jangan dipaksa pindah,” suaranya makin tercekat.
Biah menyebut, permintaan pemerintah pun sudah pernah dia turuti dengan berjualan di Pasar Puan Maimun.
Hanya saja, sejak pagi sampai sore dia jualan, kerangnya hanya laku setengah kilo saja.
“Bukannya kami membangkang, kami pernah jualan di Pasar Maimun itu, dari pagi sampai sore kerang hanya laku setengah kilo,” ucapnya.
Selain menjual kerang, Biah juga menjual kupang, yang diambilnya dari danau bekas galian timah tak jauh dari lokasinya berjualan.
Kupang itu dicari sendiri oleh suaminya, Anto. Hampir tiap pagi Anto harus menyelam ke dasar danau untuk mengumpulkan kupang.
Dengan kupang dan kerang itulah, suami-istri ini menghidupi keluarganya.
“Kami ini orang susah, anak saya 6 orang yang harus saya kasih makan. Tolong jangan tambah lagi penderitaan kami,” sambung, Anto suaminya Biah.
Penulis: Ilfitra









