Derap Nusantara Menyapa Indonesia

Menjaga Pangan dari Hulu Air

Dampak El nino 2026
Anggota Kelompok Tani (Poktan) mengoperasikan mesin pompa air irigasi untuk mengairi area sawah yang terdampak kekeringan di Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (27/7/2026). Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribu unit mesin pompa air sebagai langkah mitigasi kekeringan nasional untuk menjaga pasokan pangan di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim. ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro

JAKARTA – Tidak ada pangan tanpa air. Sebelum benih ditanam, pupuk diberikan, atau panen dipetik, keberhasilan pertanian terlebih dahulu ditentukan oleh satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni ketersediaan air.

Karena itu, ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya sektor pertanian, melainkan kemampuan Indonesia menjaga fondasi utama ketahanan pangannya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memperkirakan El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027 dan berpotensi mencapai kategori kuat. Fenomena tersebut diproyeksikan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal dan dapat diperkuat oleh munculnya Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.

Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 zona musim atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. BMKG juga memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus dan September, sementara di 437 zona musim diprediksi terjadi durasi kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga sumber daya yang menopang proses produksi itu sendiri.

Selama ini keberhasilan pembangunan pangan ditopang oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari lahan, benih, pupuk, teknologi, hingga infrastruktur irigasi.

Namun, perubahan iklim mendorong pergeseran perhatian dari sekadar menghasilkan pangan menuju kemampuan mempertahankan produksi di tengah risiko kekeringan dan cuaca ekstrem yang semakin besar.

Dalam konteks tersebut, pengelolaan air menjadi semakin strategis karena menentukan efektivitas seluruh faktor produksi sekaligus keberlangsungan proses budidaya dari musim ke musim.

Respons terhadap El Nino karena itu tidak dapat dipahami hanya sebagai upaya menghadapi satu musim kemarau yang lebih panjang. Tantangan yang lebih besar adalah membangun sistem pangan yang tetap mampu bertahan ketika anomali iklim semakin sering terjadi.

Ketahanan Air

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menempatkan pengamanan sumber air sebagai salah satu strategi utama menjaga produksi pangan nasional.

Melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, pemerintah menyiapkan pembangunan sekitar 15.000 unit irigasi perpompaan, 3.000 unit irigasi perpipaan, dan 3.000 bangunan konservasi air yang difokuskan pada sentra produksi padi serta wilayah rawan kekeringan.

Selain itu, pemerintah melakukan pemetaan cekungan air tanah, sumber air permukaan, sawah irigasi, dan wilayah rawan kekeringan untuk memastikan intervensi dilakukan secara tepat sasaran.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produksi, tetapi juga melalui upaya memperkuat fondasi yang menopang keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian Dhani Gartina menjelaskan pembangunan infrastruktur air diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman, terutama pada lahan tadah hujan yang selama ini hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun.

Artinya, pengelolaan air tidak hanya berfungsi sebagai instrumen mitigasi kekeringan. Pengelolaan air juga berperan dalam meningkatkan produktivitas lahan dan kapasitas produksi pangan nasional.

Upaya tersebut diperkuat melalui program pompanisasi. Pada 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribu unit pompa air untuk membantu lahan sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air seperti sungai, embung, waduk, maupun saluran irigasi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan program itu menjadi solusi cepat untuk memastikan lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air sehingga produksi pangan dapat dipertahankan di tengah ancaman musim kering.

Dari sudut pandang kebijakan, pompanisasi menunjukkan bahwa tantangan ketahanan air tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan sumber air semata. Dalam banyak kasus, persoalan yang muncul terletak pada kemampuan mengalirkan air ke lahan pertanian pada waktu yang tepat.

Jika bendungan, embung, jaringan irigasi, dan bangunan konservasi air merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan air, maka pompanisasi menjadi instrumen adaptasi yang membantu memastikan cadangan air tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.

Air Berkelanjutan

Ketahanan air tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membangun infrastruktur dan mendistribusikan air. Dalam jangka panjang, ketahanan tersebut juga bergantung pada keberlanjutan sumber daya air itu sendiri.

Pembangunan irigasi, embung, dan pompanisasi akan lebih efektif apabila diiringi dengan upaya menjaga daerah tangkapan air, memperkuat konservasi lahan, serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan air di sektor pertanian.

Tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, tekanan perubahan iklim berpotensi mengurangi ketersediaan air pada masa depan meskipun kapasitas infrastruktur terus bertambah.

Pandangan tersebut semakin relevan karena El Nino sesungguhnya hanya salah satu manifestasi dari tantangan yang lebih besar, yakni perubahan iklim. Risiko yang dihadapi Indonesia bukan sekadar satu periode kemarau yang lebih panjang, melainkan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu pola produksi pangan.

Dalam kondisi seperti itu, ukuran keberhasilan ketahanan pangan tidak lagi cukup dilihat dari besarnya produksi pada tahun tertentu. Yang lebih penting adalah kemampuan mempertahankan produksi ketika kondisi iklim tidak berada dalam situasi ideal.

Strategi pemerintah yang menggabungkan pembangunan infrastruktur air, konservasi sumber daya air, pompanisasi, pemetaan wilayah rawan kekeringan, penggunaan varietas tahan kekeringan, hingga penguatan manajemen risiko pertanian, menunjukkan arah kebijakan yang semakin adaptif terhadap tantangan tersebut.

Nilai strategis pengelolaan air tidak berhenti pada keberhasilan menjaga produktivitas lahan. Ketersediaan air yang memadai membantu memastikan produksi pangan tetap berlangsung, terutama ketika risiko kekeringan meningkat.

Produksi yang terjaga akan memperkuat pasokan, sementara pasokan yang memadai menjadi salah satu prasyarat penting bagi stabilitas ekonomi.

Fondasi Ekonomi

Keterkaitan antara air dan ekonomi sesungguhnya berlangsung melalui satu jalur yang sederhana namun sangat menentukan, yakni pangan. Ketika ketersediaan air mampu menjaga produksi tetap berlangsung, pasokan pangan menjadi lebih terjamin.

Sebaliknya, gangguan terhadap sumber daya air berpotensi menghambat produksi dan meningkatkan kerentanan sistem pangan terhadap gejolak iklim.

Gangguan produksi akibat cuaca berpotensi mengurangi pasokan pangan dan meningkatkan volatilitas harga sejumlah komoditas strategis. Efeknya tidak berhenti pada sektor pertanian, tetapi dapat menjalar ke berbagai aktivitas ekonomi melalui meningkatnya ketidakpastian pasokan dan harga.

Keterkaitan itu penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB).

Ketersediaan pasokan pangan yang terjaga membantu menciptakan stabilitas yang dibutuhkan agar aktivitas ekonomi dapat berlangsung secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Dengan demikian, manfaat pengelolaan air melampaui urusan produksi di tingkat lahan. Pengelolaan air berkaitan dengan kemampuan menjaga pasokan pangan, memperkuat ketahanan ekonomi, dan meningkatkan daya tahan masyarakat menghadapi guncangan iklim.

Yang menarik, hampir seluruh strategi yang kini ditempuh pemerintah bermuara pada tujuan yang sama, yakni memastikan air tetap tersedia ketika curah hujan berkurang.

Pembangunan irigasi, embung, bangunan konservasi air, pompanisasi, hingga pemetaan sumber daya air pada dasarnya merupakan upaya memperkuat kemampuan menyimpan, mengelola, dan menyalurkan air secara lebih efisien ke wilayah produksi pangan.

Pelajaran penting dari ancaman El Nino kali ini adalah bahwa ketahanan pangan tidak dimulai saat musim panen, melainkan jauh sebelumnya melalui kesiapan mengelola sumber daya air.

Kemampuan menjaga ketersediaan air akan menentukan seberapa baik sektor pertanian mampu beradaptasi ketika pola cuaca berubah dan periode kering berlangsung lebih panjang.

Tantangan Indonesia ke depan juga tidak semata meningkatkan produksi pangan, melainkan memastikan sistem produksi tersebut tetap berjalan dalam kondisi iklim yang semakin tidak menentu.

Karena itu, penguatan infrastruktur air perlu berjalan seiring dengan konservasi daerah tangkapan air, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

Pada titik inilah, air menjadi lebih dari sekadar kebutuhan pertanian. Air merupakan fondasi yang menghubungkan ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Semakin kuat Indonesia menjaga sumber daya airnya, semakin besar pula peluang menjaga keberlanjutan produksi pangan dan memperkuat ketahanan nasional pada masa mendatang. ANTARA

Baca Juga: Satu Tahun Sekolah Rakyat, Ratusan Siswa Torehkan Prestasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait