Marsya dan Baceprot: Metal Berhijab Mengguncang Dunia

100 Wanita BBC
Band heavy metal Voice of Baceprot dalam sebuah konser di Jakarta, Indonesia, pada bulan Desember. Foto: NYTIMES

JAKARTA (gokepri) — BBC baru-baru ini merilis daftar “100 Women” edisi 2024. Di antara nama-nama perempuan hebat dari berbagai belahan dunia, terselip nama Firda Marsya Kurnia.

Ia bukan politikus, bukan pula ilmuwan. Marsya adalah penyanyi sekaligus gitaris trio metal asal Garut, Voice Of Baceprot (VoB)—band yang namanya, dalam bahasa Sunda, berarti “berisik”.

Nama Marsya masuk dalam daftar tahunan bergengsi itu, bersanding dengan politikus, aktivis, penghibur, bahkan astronot. BBC menyebut daftar ini sebagai ajang untuk menyoroti “wanita inspiratif dan berpengaruh dari seluruh dunia”. Sebuah pengakuan atas kiprah perempuan lintas profesi dan latar belakang.

HBRL

Marsya, yang masih berusia pertengahan 20-an, memegang kendali vokal dan gitar di VoB. Band metal ini lahir pada 2014, saat ia masih duduk di bangku sekolah. Sebuah inisiatif remaja yang berbuah manis.

Trio Muslim berhijab ini—Marsya, Euis Siti Aisyah (drum), dan Widi Rahmawati (bas)—sempat menghebohkan jagat maya dengan cover lagu-lagu nu metal pada akhir dekade 2010-an. Aksi mereka menyebar viral, memikat perhatian khalayak luas.

Baca Juga:
60 Perempuan di Tanjungpinang Ikuti Pelatihan Kuliner Dasar

Tak hanya piawai membawakan lagu orang, mereka juga menulis musik sendiri. Album perdana mereka, Retas, dirilis tahun lalu. Lirik-liriknya tajam, mengangkat isu-isu krusial seperti patriarki, kekerasan seksual, dan kebebasan berekspresi. Sebuah perlawanan lewat nada.

Meski sepanjang tahun ini belum merilis materi baru, VoB sempat mengguncang panggung festival Glastonbury pada musim panas lalu. Penampilan mereka mencatatkan sejarah: pertama kalinya sebuah band Indonesia tampil di festival musik legendaris yang telah berlangsung selama lima dekade itu. Sebuah pencapaian yang membanggakan.

Dalam daftar BBC 100 Women, Marsya menjadi satu-satunya perempuan dari Indonesia. Ia ditempatkan dalam bidang “Hiburan dan Olahraga”, bersanding dengan nama-nama besar lainnya. Total ada lima bidang yang dikategorikan BBC: “Pelopor Iklim”, “Budaya dan Pendidikan”, “Politik dan Hukum”, serta “Sains, Kesehatan dan Teknologi”.

Marsya digambarkan sebagai sosok personel band heavy metal perempuan berhijab yang berani mendobrak norma gender dan agama. Kegelisahan dan keberaniannya itu kemudian dituangkan ke dalam karya-karya musik VoB. Sebuah representasi yang kuat.

Lirik-lirik VoB, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Sunda, banyak mencurahkan rasa frustrasi para personelnya terhadap sistem patriarki yang masih mengakar. Sebuah suara lantang dari pinggiran.

Namun, Marsya bukanlah satu-satunya rocker berhijab yang pernah masuk daftar “100 Wanita”. Pada 2016, BBC juga memasukkan Meliani Siti Sumartini. Gitaris dan vokalis metal Indonesia ini sempat viral di YouTube berkat *cover* lagu-lagu Metallica, Avenged Sevenfold, dan band-band metal lainnya. Sebuah preseden yang inspiratif.

Profil Firda Marsya Kurnia

Perempuan yang akrab disapa Marsya ini lahir di Garut, Jawa Barat, pada 27 Juni 2000. Kota yang dikenal dengan dodolnya itu melahirkan seorang bintang metal.

Marsya menempuh pendidikan SMP di Madrasah Tsanawiyah Al Baqiyatussolihat Garut, Jawa Barat. Sebuah latar belakang yang kontras dengan musik yang ia geluti.

Meski awalnya menyukai musik hip-hop, Marsya justru memilih menjadi vokalis sekaligus gitaris VoB. Sebuah pilihan yang tak terduga.

Kiprahnya di dunia musik dimulai saat ia dan teman-temannya berusia 14 tahun. Mereka mulai belajar memainkan alat musik secara otodidak. Saat itu, mereka bahkan belum akrab dengan musik metal atau rock. Sebuah awal yang sederhana.

Namun, berkat peran seorang guru yang meminjamkan laptop dan memperkenalkan playlist berisi lagu-lagu dari band-band seperti Red Hot Chili Peppers dan System of a Down, mereka mulai terpapar musik metal. Sebuah titik balik.

Mereka kemudian membentuk band bernama Voice of Baceprot (VoB), yang dalam bahasa Sunda berarti “berisik”. Sebuah nama yang menggambarkan energi musik mereka.

Baca Juga:
Alice Walton Menjadi Wanita Terkaya di Dunia, Geser Pemilik L’Oréal

Ketiganya mulai tampil di berbagai festival musik lokal dan mengunggah penampilan mereka ke Facebook. Tak butuh waktu lama, mereka meraih popularitas dan pujian atas *cover* lagu yang mereka unggah. Sebuah awal yang menjanjikan.

Pada 2018, mereka merilis single pertama, “School Revolution”. Lagu ini viral di media sosial dan mengubah jalan hidup mereka. Sebuah momentum penting.

Tahun ini, setelah satu dekade VoB berdiri, kesuksesan mereka mencapai puncaknya. Selain semakin dikenal di kancah internasional dan masuk daftar BBC 100 Women, VoB juga masuk daftar 30 Under 30 Forbes Asia dalam kategori Hiburan & Olahraga. Sebuah pengakuan ganda. BISNIS INDONESIA, NYTIMES

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait