Batam (gokepri) – Muhammad Rudi sempat mencurahkan perasaan hatinya dalam dua penggal kata bahwa aksi massa unjuk rasa membuatnya bersedih.
Walikota Batam ex officio Kepala BP Batam itu sempat meninjau fasilitas BP Batam yang dirusak oknum tidak bertanggungjawab pascakericuhan dalam aksi unjuk rasa penolakan relokasi kampung tua Rempang.
Rudi tampak beserta rombongan keluar dari Kantor BP Batam setelah keadaan mulai kondusif. Meski demikian, aparat masih bersiaga dan sebagian massa aksi masih bertahan.
Baca Juga: Unjuk Rasa Pertahankan Kampung Tua di Rempang, Rudi Ajak Warga Temui Pemerintah Pusat


Rudi melihat sekitar fasilitas fisik yang dirusak akibat kerusuhan yang terjadi. Dalam pantauan Gokepri, terlihat amukan massa menyebabkan taman menjadi rusak, penerangan jalan di sepanjang trotoar telah hancur.
Pagar pembatas utama sepanjang kantor BP Batam juga tak lepas dari amukan massa yang memaksa masuk. Selain itu, akibat lemparan batu menyebabkan hancurnya kaca-kaca gedung BP Batam.
Rudi beserta rombongan menapaki pecahan batu sepanjang bundaran di depan Gedung Kantor BP Batam, menyaksikan pasca kericuhan. Ia tampak berbisik dengan seorang pegawai BP Batam seperti menyesalkan kejadian yang terjadi.
“Sedih hati,” singkat Rudi demikian menjawab pertanyaan kami menanggapi kejadian yang amat disayangkannya.
Diberitakan sebelumnya, unjuk rasa ribuan masyarakat yang mengatasnamakan diri dari Laskar Pembela Marwah Melayu di depan kantor BP Batam, Kota Batam, Kepulauan Riau, sempat ricuh pada Senin siang (11/9). Kericuhan terjadi saat massa melempari gedung BP Batam.
Demonstran sempat merusak dan membuka paksa sekeliling pagar kantor BP Batam. Warga yang awalnya melakukan aksi dengan damai, tiba-tiba ricuh dengan menghancurkan pagar.
Lemparan batu, kayu, hingga bom molotov dilemparkan warga ke arah halaman kantor BP Batam. Gas air mata dan water canon juga sudah ditembakkan ke arah kerumunan aksi unjuk rasa oleh petugas.
Pegawai, awak media dan petugas berhamburan menyelamatkan diri menghindar dari lemparan batu. Dari pantauan, beberapa petugas dan karyawan BP Batam ada yang terluka akibat terkena lemparan batu.
Muhammad Rudi ketika berdialog meminta masyarakat agar paham tentang proyek strategis nasional yang akan dibangun oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah, lanjut dia, tidak punya hak penuh karena aturannya terpusat dan juga karena Rempang Eco City masuk dalam proyek strategis nasional atau PSN tahun 2023.
“Jadi bapak ibu harus paham ini. Jadi saya minta perwakilan bapak ibu agar ikut saya ke pusat dan sampaikan langsung apa permasalahan yang terjadi,” kata Rudi.
Meski begitu, ia menjamin kesejahteraan masyarakat Rempang dan Galang yang terdampak proyek Rempang Eco City. “Saya ini hanya menjalankan amanat pusat. Kalau ada yang mau ikut saya ke Jakarta ayo,” kata dia.
Senin pagi hingga siang, ribuan warga yang berasal dari masyarakat Melayu berunjuk rasa di depan Kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam. Massa menuntut 16 kampung tua di Rempang dipertahankan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Muhammad Ravi









