Pemerintah dorong investasi pusat data. SDM digital disiapkan menopang industri AI.
JAKARTA (gokepri) — Minat investasi pusat data di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya kebutuhan komputasi untuk kecerdasan artifisial (AI). Pemerintah mencatat investor berminat membangun pusat data berkapasitas total 1,3 gigawatt (GW), dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai 15 miliar dollar AS hingga 20 miliar dollar AS.
Tambahan kapasitas tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan pusat data yang telah beroperasi di Indonesia saat ini. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kapasitas pusat data nasional baru mencapai sekitar 580 megawatt (MW).
Baca Juga: Seperti Apa Pusat Data AI Firmus-Nvidia di Batam?
“Yang sekarang di Batam itu juga investasinya sekitar 15–20 miliar dollar AS yang sudah on the pipeline,” ujar Airlangga di Jakarta, Jumat (10/7).
Pernyataan itu menunjukkan Batam masih menjadi salah satu lokasi utama pengembangan pusat data berskala besar di Indonesia. Kawasan tersebut dinilai memiliki keunggulan dari sisi pasokan listrik, konektivitas internasional, serta kedekatan dengan pusat ekonomi digital di Singapura.
Airlangga mengatakan salah satu investor yang berminat berasal dari perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, yang menggandeng mitra dari Australia. Selain itu, PT Telkom Indonesia juga berencana menambah investasi pada sektor pusat data.
Ia menambahkan, kawasan Karawang juga menjadi tujuan ekspansi sejumlah perusahaan teknologi global. Menurut Airlangga, kebutuhan pusat data meningkat karena menjadi infrastruktur utama pengembangan AI yang memerlukan kapasitas komputasi semakin besar.
Selain membangun infrastruktur digital, pemerintah menilai pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan industri tersebut. Ketersediaan tenaga kerja dengan keahlian di bidang semikonduktor, perangkat lunak, dan kecerdasan artifisial dinilai sama pentingnya dengan investasi fisik.
Pemerintah telah menjalin kerja sama dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd., untuk memperkuat ekosistem industri digital dari sisi pengembangan teknologi. Melalui kerja sama itu, pemerintah menargetkan sekitar 15.000 insinyur bergabung dalam ekosistem Arm.
“Kuncinya ini seluruhnya adalah SDM,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, strategi pemerintah tidak hanya berfokus pada hilirisasi sumber daya mineral, tetapi juga membangun industri digital dari sisi hulu melalui penguatan riset, desain cip, dan pengembangan talenta. Langkah tersebut diharapkan memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai industri digital global.
Meningkatnya investasi pusat data juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan industri pendukung, mulai dari penyediaan energi, jaringan telekomunikasi, hingga layanan komputasi awan. Tantangan berikutnya ialah memastikan ketersediaan listrik, infrastruktur digital, dan tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan industri yang tumbuh cepat.
Investasi Firmus-Nvidia di Batam
Diberitakan, Batam dipilih sebagai lokasi pusat data AI 360 MW milik Firmus Technologies, Nvidia, dan DayOne. Proyek ini memperkuat posisi Batam dalam industri AI Asia Tenggara sekaligus menghadirkan tantangan baru di sektor energi.
Proyek tersebut menandai masuknya Firmus ke Indonesia sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai lokasi alternatif bagi industri pusat data yang selama ini terkonsentrasi di Singapura. Kedekatan geografis dengan negara itu serta kebutuhan kapasitas komputasi AI yang terus meningkat menjadi daya tarik utama.
Menurut Bloomberg, DayOne telah memulai pembangunan fasilitas di Batam. Setelah infrastruktur selesai, Firmus akan menyewa ruang untuk memasang chip AI Nvidia dan menyediakan layanan komputasi awan bagi perusahaan berbasis AI.
Baca Juga: Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam
Fasilitas itu dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. Proyek tersebut menjadi bagian dari kemitraan delapan tahun antara Firmus dan Nvidia.
Dalam kerja sama itu, Firmus akan membeli infrastruktur Nvidia, lalu menjual layanan komputasi berbasis chip Nvidia kepada perusahaan AI dan pelanggan lain yang membutuhkan kapasitas komputasi besar.
Reuters melaporkan, perjanjian tersebut mencakup pengiriman sekitar 170.000 graphics processing unit (GPU) Nvidia secara bertahap mulai kuartal pertama 2027 hingga awal 2028. Seluruh GPU akan ditempatkan di Batam.
Firmus memperkirakan kerja sama itu mampu menghasilkan pendapatan hingga 30 miliar dollar Amerika Serikat dalam enam tahun pertama. Proyeksi tersebut, menurut perusahaan, disusun berdasarkan kontrak pelanggan yang telah diperoleh.

Berbeda dengan proyek Firmus di Australia yang menyasar perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler, pusat data AI di Batam dirancang sebagai fasilitas multi-penyewa. Sasarannya ialah perusahaan yang menjadikan AI sebagai inti produk maupun layanan mereka.
Kelompok pelanggan itu dikenal sebagai AI-native, yakni perusahaan yang operasionalnya bergantung pada kapasitas komputasi AI dalam skala besar.
Co-Chief Executive Firmus Technologies Tim Rosenfield mengatakan proyek di Batam bertujuan memperluas akses terhadap infrastruktur AI, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki sumber daya sebesar perusahaan teknologi global.
“Ini menjadi cara yang nyata untuk memberi kesempatan perusahaan baru bersaing dengan pemain besar,” ujar Rosenfield kepada Reuters.
Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan infrastruktur untuk mendukung pembangunan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Batam. Dukungan itu menyusul rencana investasi Firmus Technologies Pty Ltd. dari Australia bersama Nvidia Corp. dan DayOne dari Singapura.
Firmus Technologies mengumumkan rencana tersebut pada Senin (29/6). Perusahaan itu akan membangun kampus Nvidia DSX AI Factory berkapasitas 360 megawatt (MW) di Batam melalui kemitraan selama delapan tahun.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mengatakan, BP Batam menyiapkan berbagai kebutuhan dasar agar proyek dapat berjalan sesuai rencana. Dukungan itu meliputi pasokan listrik, konektivitas digital, serta kemudahan layanan investasi.
“Kami ingin memastikan proyek strategis seperti ini dapat berjalan lancar dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan daya saing Batam,” ujar Li Claudia di Batam Centre, Senin (29/6).
Menurut Li, masuknya Firmus Technologies bersama Nvidia dan DayOne menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim investasi serta kesiapan infrastruktur di Batam. Ia menilai proyek tersebut dapat memperkuat posisi Batam dalam pengembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.
BP Batam juga menilai investasi itu berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi tenaga profesional. Selain itu, proyek tersebut diperkirakan memperkuat ekosistem teknologi digital serta membuka peluang alih pengetahuan dan teknologi di bidang AI.
Batam dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu tujuan investasi pusat data di Asia Tenggara. Letaknya yang dekat dengan Singapura serta dukungan kawasan industri menjadi salah satu daya tarik bagi perusahaan teknologi global.
Baca Juga: Prospek Cerah Investasi Pusat Data, Apa yang Dipersiapkan BP Batam?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









