Kenali Gejala Diabetes pada Anak dan Penanganannya

Ilustrasi. Anak yang menderita diabetes harus dicek gula darahnya secara berkala. Foto: Freepik.com

Batam (gokepri.com) – Anak-anak juga dapat menjadi penderita diabetes melitus. Namun, gejala diabetes pada anak dapat segera dideteksi dan ditangani sejak dini.

Dokter spesialis anak dari Divisi Endokrinologi RS Cipto Mangunkusumo dr. Ghaisani Fadiana Sp.A (K) mengatakan ada tiga gejala diabetes yang dapat ditemui pada anak.

“Disebut 3P, yaitu poliuri atau sering pipis di malam hari, polidipsi atau sering merasa haus, dan poliphagi atau mudah lapar,” kata Ghaisani, dalam diskusi kesehatan daring, Jumat 8 September 2023.

HBRL

Baca Juga: Anak Bisa Kena Diabetes, Kenali Ciri-cirinya

3P ini juga  disertai salah satu hal lagi yang khas, yaitu berat badannya tidak naik atau malah turun, dan itu cukup banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja dengan diabetes.

Dokter di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM ini mengatakan gejala lain yang dialami anak dengan diabetes melitus adalah cepat lelah dan tidak bisa mengikuti aktivitas yang sedang sampai berat.

Sebagian kecil anak dengan kelainan diabetes juga akan ada infeksi berulang, seperti infeksi paru dan jamur berulang.

Untuk mengetahui anak terindikasi diabetes melitus, orang tua harus memahami beberapa gejalanya.

“Selain melalui 3P, rutin cek kadar gula darah juga termasuk deteksi dini untuk mengetahui apakah anak terindikasi diabetes atau tidak,” kata dia.

Jika gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl, ditambah ada gejala 3P, maka sudah bisa dipastikan kemungkinan besar anak mengalami diabetes.

Menurut Ghaisani sebagian besar diabetes melitus pada anak merupakan tipe 1, biasanya ada masalah di pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin untuk tubuh dalam keadaan yang cukup.

Hal ini berbeda dengan diabetes melitus pada orang dewasa yang kebanyakan adalah tipe 2, dengan pankreas bisa memproduksi insulin namun insulin tersebut tidak bisa mengontrol gula darah dalam tubuh.

Dengan begitu maka akibat yang terjadi dari serangan diabetes melitusnya berbeda antar aanak-anak dan orang tua. Hal ini mengakibatkan tata laksana dan terapinya pun berbeda.

“Sebagian besar DM tipe 1 yang badannya tidak bisa menghasilkan insulin maka yang harus dilakukan sebagai terapi adalah terapi suntik insulin,” katanya.

Suntik insulin ini wajib untuk mencegah komplikasi yang berat itu dan risiko komplikasi yang lebih kecil jika rajin suntik insulin sesuai anjuran.

Anak yang sudah mendapatkan terapi insulin, gula darahnya tetap harus diperiksa secara berkala dalam satu hari untuk mengetahui kecukupan dosis insulin dan pengaturan makannya.

Idealnya anak perlu periksa gula darah setiap sebelum makan dan 2 jam setelah makan atau paling tidak 3-4 kali sehari. Tujuannya untuk mengetahui apakah makanan yang diberikan sudah cukup memenuhi kadar gula darah dalam tubuhnya.

“Tapi kalau kondisi demam sebaiknya diperiksa lebih sering karena kalau pada kondisi sakit itu akan berisiko terjadi peningkatan atau gula darah yang lebih rendah,” kata Ghaisani.

Selain suntik insulin, anak dengan diabetes juga perlu dijaga pola makannya, diet seimbang, hindari asupan kadar gula tinggi, dan yang mengandung pemanis buatan seperti permen dan soda.

Namun, tetap harus memperhatikan asupan karbohidratnya karena prinsipnya anak yang mengalami diabetes melitus masih memerlukan karbohidrat untuk bertumbuh dan berkembang.

Anak yang menderita diabetes melitus harus tetap melakukan aktivitas fisik yang berintensitas sedang hingga berat. Aktivitas fisik ini direkomendasikan dilakukan 3-4 kali seminggu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumbre: Antara

Pos terkait