Kenaikan Harga Kebutuhan Rumah Tangga Dorong Inflasi di Kepri

Harga cabai di batam
Suasana penjual sayuran di Pasar Pagi Tos3000, pasar yang menjadi patokan harga di Kota Batam, Kepri, Minggu (6/4/2025). (ANTARA/Amandine Nadja)

BATAM (gokepri) – Tekanan inflasi di Kepulauan Riau muncul dari kenaikan harga hampir semua kebutuhan pokok. Biaya perawatan pribadi dan biaya rumah tangga menjadi pendorong paling dominan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (yoy) Kepulauan Riau pada Januari 2026 sebesar 2,98 persen. Inflasi ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 110,98.

Secara wilayah, Kota Tanjungpinang mencatat inflasi yoy tertinggi sebesar 4,32 persen dengan IHK 108,57. Kota Batam menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 2,74 persen dan IHK 111,63. Sementara Kabupaten Karimun mengalami inflasi yoy sebesar 2,77 persen dengan IHK 108,58.

HBRL

Baca Juga: Harga Cabai dan Ayam Naik, Inflasi Kepri Menguat di Akhir Tahun

Kepala BPS Provinsi Kepulauan Riau Toto Haryanto Silitonga menjelaskan, inflasi tahunan tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Dari 11 kelompok pengeluaran yang dihitung, sebanyak 10 kelompok mengalami kenaikan indeks harga.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 1,25 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki meningkat 1,34 persen. Kenaikan cukup tinggi juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 3,60 persen.

Tekanan harga berlanjut pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang naik 0,72 persen, kelompok kesehatan 1,95 persen, serta transportasi sebesar 2,09 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,51 persen, pendidikan 1,37 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,42 persen.

Kenaikan paling tajam tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 19,28 persen. Satu-satunya kelompok yang tidak mengalami perubahan indeks harga adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi yoy Januari 2026. Di antaranya emas perhiasan, tarif listrik, angkutan udara, daging ayam ras, beras, sewa rumah, daging sapi, sigaret, biaya pendidikan perguruan tinggi, nasi dengan lauk, minyak goreng, serta sejumlah komoditas pangan lainnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Cabai merah, bawang merah, cabai rawit, bawang putih, bayam, bensin, udang basah, telur ayam ras, kentang, serta aneka sayuran hijau tercatat memberi andil deflasi.

Berbeda dengan inflasi tahunan, secara bulanan Provinsi Kepulauan Riau justru mengalami deflasi. BPS mencatat deflasi month to month (mom) sebesar 0,09 persen pada Januari 2026, seiring turunnya IHK dari 111,08 pada Desember 2025 menjadi 110,98.

Emas perhiasan, beras, sewa rumah, daging ayam ras, daging sapi, nasi dengan lauk, dan angkutan laut masih memberi andil inflasi secara bulanan. Sementara cabai merah, cabai rawit, bayam, angkutan udara, bensin, telur ayam ras, bawang merah, serta beberapa jenis ikan dan sayuran mendorong deflasi.

Dari sisi kontribusi kelompok pengeluaran, inflasi yoy Januari 2026 paling besar disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 1,23 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,56 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,37 persen, serta kelompok transportasi sebesar 0,29 persen.

“Secara umum, inflasi Januari 2026 masih mencerminkan adanya tekanan harga, terutama dari kelompok perawatan pribadi serta kebutuhan rumah tangga, meski secara bulanan terjadi deflasi,” kata Toto. BISNIS.COM

Baca Juga: Lonjakan Tarif Penerbangan Jadi Pendorong Utama Inflasi Kepri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait