Kasus DBD di Batam Turun pada 2025, Pola Musiman Masih Terjadi

kasud dbd di batam
Fogging untuk pemberantasan sarang nyamuk di Perumahan Villa Sampurna II , Tiban Baru, Sekupang, Batam, 6 Agustus. FOTO: RT 003 Villa Sampurna 2

BATAM (gokepri) – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam sepanjang 2025 memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun penurunan itu belum sepenuhnya menandakan situasi aman. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam menunjukkan lonjakan kasus masih muncul pada pertengahan hingga akhir tahun, mengikuti pola musiman yang berulang.

Sepanjang 2025, Dinkes Batam mencatat 809 kasus DBD, turun dari 871 kasus pada 2024. Angka kejadian atau incidence rate juga menurun, dari 68,21 menjadi 60,28 per 100.000 penduduk. Meski demikian, fluktuasi bulanan menunjukkan ancaman DBD belum benar-benar hilang.

Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan penurunan kasus ini tidak lepas dari upaya pengendalian yang dilakukan secara konsisten. Program pemberantasan sarang nyamuk, fogging fokus, hingga edukasi masyarakat dinilai mulai memberi dampak.

HBRL

Namun, Didi mengingatkan bahwa sebaran kasus masih mengikuti pola tahunan. Pada 2024, lonjakan tajam terjadi sejak Juli hingga Desember, dengan puncak kasus mencapai 149 orang pada Desember. Pola serupa, meski lebih landai, kembali terlihat pada 2025.

Pada tahun ini, kasus DBD tertinggi tercatat pada Juli dengan 112 kasus. Setelah sempat menurun pada Agustus dan September, angka kembali naik pada Oktober dan November sebelum turun lagi di akhir tahun. “Musim hujan dan masa peralihan cuaca masih menjadi pemicu utama,” kata Didi.

Menurutnya, faktor lingkungan dan perilaku masyarakat berperan besar dalam siklus tersebut. Ketika curah hujan meningkat dan kewaspadaan menurun, potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti kembali terbuka.

Jika ditarik ke belakang, tren DBD di Batam memang fluktuatif. Pada 2022, jumlah kasus mencapai 902, lalu turun drastis pada 2023 menjadi 392 kasus. Namun, kasus kembali meningkat pada 2024 sebelum kembali menurun pada 2025. “Ini menunjukkan DBD bersifat siklikal dan tidak bisa ditangani secara musiman saja,” ujar Didi.

Catatan lain yang menjadi perhatian adalah angka kematian. Pada 2024, Dinkes Batam mencatat 14 kematian akibat DBD—tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini menjadi pengingat bahwa penurunan kasus tidak selalu sejalan dengan menurunnya risiko fatal.

“Setiap kematian akibat DBD adalah alarm. Deteksi dini dan penanganan cepat sangat menentukan,” kata Didi.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan langkah pencegahan 3M Plus, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam tinggi, nyeri sendi, atau tanda lain yang mengarah ke DBD.

“Pengendalian DBD tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Kunci utamanya ada pada kesadaran dan peran aktif warga,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus DBD di Batam Naik, Dinkes Imbau Warga Waspada di Musim Hujan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait