Tanjungpinang (gokepri) – Festival Silat Serumpun yang digelar di halaman Tugu Sirih, Kawasan Gurindam 12, Tanjungpinang, berlangsung meriah.
Kawasan Tugu Sirih ini merupakan kawasan yang telah dikembangkan menjadi salah satu objek wisata di Tanjungpinang.
Festival ini dimeriahkan oleh 530 peserta dari sembilan perguruan di Tanjungpinan, Bintan, Malaysia, dan Singapura.
Baca Juga: Short Visa untuk Kepri Disetujui, Gubernur Optimistis Pariwisata Bangkit
Hal ini menunjukkan bahwa festival ini bukan hanya sekadar ajang silat, tetapi juga ajang silaturahmi antar negara serumpun. Pelaksana tugas Dinas Pariwisata Kepri Luki Zaiman menyambut baik penyelenggaraan festival ini. Menurutnya, festival ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepri.
“Festival ini sangat positif untuk pariwisata Kepri. Wisman yang datang ke festival ini bisa sekaligus berwisata ke objek wisata yang ada di Kepri,” kata Luki, Sabtu (11/11/2023).
Berdasarkan catatan Dispar, kunjungan wisman mancanegara yang datang ke Tanjungpinang untuk mengikuti festival ini mencapai lebih dari 700 orang. Dengan jumlah wisman sebanyak itu, Luki yakin perekonomian Kepri akan lebih baik.
“Di hari H nya saja itu hampir 700 orang lebih. Belum sama pendamping dan lainnya. Tentu ini baik buat Kepri,” kata dia.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Tanjungpinang, Bambang Hartanto, mengatakan pencak silat tidak hanya sekadar olahraga beladiri, tetapi juga merupakan warisan budaya bangsa Melayu.
“Pencak silat mengandung nilai-nilai etika dan estetika, serta sarat dengan makna kearifan, keteladanan, kependekaran dan keluhuran budi pekerti, sebagai pembentuk karakter bangsa,” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi media edukasi kultural yang melahirkan generasi pendekar, pemberani dengan semangat patriotisme yang cinta bangsa dan Tanah Air. “Pencak silat terkait erat dengan kultur budaya masyarakat Melayu di Kepulauan Riau khususnya dan di Nusantara,” kata Bambang.
Baca Juga: Piala Dunia U-17 Bawa Berkah bagi Sektor Pariwisata dan Ekraf
Bambang mengatakan bahwa pencak silat bagi masyarakat Melayu merupakan warisan budaya yang digunakan bukan saja sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai seni persembahan di dalam berbagai kegiatan majlis.
“Pada 12 Desember 19 di Colombo, UNESCO mencanangkan pencak silat merupakan warisan tak benda yang dimiliki Indonesia,” ujarnya.
Menurut Bambang, untuk melestarikan pencak silat, perlu adanya aktivitas yang konkrit dalam bentuk festival yang bersifat kejuaraan atau lomba. Hal ini dapat memacu animo masyarakat atau pecinta pencak silat untuk mengambil peran dalam melestarikan budaya tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti Fedro








