Energi Hijau dan Konektivitas, Agenda Utama Kerja Sama Singapura-Malaysia

JS SEZ Singapura Johor
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan PM Malaysia Anwar Ibrahim saat mengesahkan kesepakatan terkait Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura pada 7 Januari. FOTO STRAITS TIMES: AZMI ATHNI

PUTRAJAYA, Malaysia (gokepri) — Singapura dan Malaysia mempererat kerja sama di bidang energi dan infrastruktur. Setelah meresmikan Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ), kedua negara berencana memperluas kolaborasi dalam jual beli listrik dan energi terbarukan.

Hal ini diungkapkan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, kepada media Singapura pada Selasa 7 Januari 2025, usai Pertemuan Pemimpin Malaysia-Singapura ke-11 atau Leaders’ Retreat di Putrajaya, Malaysia.

Salah satu proyek ambisius yang tengah digodok adalah impor listrik dari Sarawak melalui kabel bawah laut. Proyek ini melanjutkan momentum dari peningkatan kapasitas Proyek Integrasi Listrik Laos-Thailand-Malaysia-Singapura (LTM-SPIP).

HBRL

Sebagai informasi, aliran listrik pertama dari Malaysia ke Singapura telah dimulai sejak September 2024. Hampir 8.000 megawatt-jam (MWh) listrik telah memasuki proses jual beli dalam fase kedua proyek tersebut.

Tak hanya JS-SEZ, enam nota kesepahaman (MoU) dan letter of intent juga ditandatangani pada kesempatan yang sama. Kesepakatan ini mencakup kerja sama di bidang penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage, serta perdagangan kredit karbon. Pertemuan tahunan ini menjadi forum penting bagi pemimpin kedua negara untuk mengarahkan kerja sama bilateral.

Baca Juga:
Perjanjian Johor-Singapura SEZ Diteken, Mesin Ekonomi Baru Tarik Investor Global

Proyek infrastruktur lain yang juga dibahas adalah Rapid Transit System (RTS) Link Johor Bahru-Singapura. Proyek ini menunjukkan kemajuan dan tetap sesuai jadwal. PM Wong menjelaskan, RTS Link nantinya akan mampu mengangkut hingga 10.000 orang per jam di setiap arah antara Bukit Chagar di Johor dan Woodlands North di Singapura. Diharapkan, kehadiran RTS Link dapat mengurangi kemacetan yang kerap terjadi di Causeway.

Namun, proyek ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pebisnis Singapura, khususnya di kawasan Woodlands. Mereka khawatir operasional RTS Link akan mendorong warga Singapura lebih sering berbelanja di Johor. Wong mengakui adanya kekhawatiran tersebut. Ia juga menyatakan bahwa persaingan di sektor ritel telah terjadi, baik secara fisik maupun online.

“Masih terlalu dini untuk menilai dampaknya secara pasti. Mungkin akan ada lebih banyak warga Singapura yang berbelanja di Johor, tetapi bisa juga sebaliknya, lebih banyak warga Malaysia yang datang ke Singapura,” ujarnya. Wong menambahkan, banyak bisnis di kawasan utara Singapura yang sudah melayani lalu lintas harian warga Malaysia yang bekerja di Singapura.

Baca Juga:
Kerja Sama Sembcorp-Panbil, Pintu Masuk Baru Investasi Industri di Batam

Menurut Wong, perubahan dalam dunia bisnis adalah sebuah keniscayaan, terlepas dari ada atau tidaknya RTS Link. Pemerintah, kata dia, akan mendukung bisnis setempat untuk terus beradaptasi dan mengembangkan model bisnis baru. Ia juga mendorong para pelaku bisnis untuk memperluas jangkauan pasar mereka secara online dan berinovasi untuk menarik pelanggan.

“Akan selalu ada model baru, persaingan baru, dan disrupsi baru. Bisnis harus mampu beradaptasi, menyesuaikan diri, dan memperbarui penawaran mereka agar tetap relevan dan menarik bagi pelanggan,” pungkasnya. STRAITS TIMES

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait