Batam (gokepri.com) – Bank Indonesia mencatat ekonomi Provinsi Kepulauan Riau tumbuh 6,9 persen pada triwulan II-2021, jauh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 1,19 persen.
“Ekonomi Kepri pada triwulan II-2021 mengalami perbaikan signifikan,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau Musni Hardi Kasuma Atmaja dalam webinar Sinergi Memperkuat Momentum Pemulihan Ekonomi Kepulauan Riau, Kamis.
Selain dipengaruhi faktor “low base effect” atau basis yang lebih rendah pada triwulan yang sama tahun sebelumnya, akselerasi pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dan optimisme pelaku usaha, serta permintaan ekspor yang meningkat seiring perbaikan ekonomi di negara mitra dagang utama.
Kondisi itu turut didukung stimulus belanja pemerintah daerah dalam kerangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Dari sisi eksternal pertumbuhan ekonomi juga didorong peningkatan ekspor, seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di negara mitra dagang utama.
Sementara sisi pengeluaran, perbaikan pada triwulan II 2021 terjadi pada seluruh komponen terutama komponen investasi dan net ekspor.
Sementara dari sisi lapangan usaha, perbaikan didorong industri pengolahan, konstruksi serta transportasi dan pergudangan.
Ia pun optimistis, perekonomian Kepri pada 2021 diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan memperhatikan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan nasional terkini serta perkembangan kasus COVID-19 yang semakin baik
Sementara itu, IHK Kepri pada Agustus deflasi 0,42 persen, menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,43 persen (mtm).
Menurut dia, deflasi terjadi karena kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat.
Secara tahunan, inflasi Kepri pada Agustus 2021 menurun menjadi 1,60 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 2,06 persen (yoy).
Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga yaitu daging ayam ras, cabai merah dan sayur-sayuran, yang didorong membaiknya pasokan dan hasil panen.
Deflasi lebih dalam tertahan oleh inflasi pada komoditas bawang merah dan putih serta meningkatnya pengeluaran untuk biaya sekolah khususnya di tingkat SD dan SMP sejalan dengan pergantian tahun ajaran baru.
“Daya beli masyarakat masih cukup kuat sebagaimana diindikasikan dari inflasi pada kelompok inti,” kata dia.
Secara keseluruhan tahun, pihaknya memperkirakan inflasi Kepri pada tahun 2021 lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, namun masih berada pada rentang sasaran inflasi nasional tahun 2021 yaitu sebesar 3 ± 1 persen.
“Sinergi dan koordinasi dalam pengendalian inflasi melalui TPID dan Satgas Pangan akan terus diperkuat untuk memastikan strategi kebijakan 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif) berjalan dengan baik dan optimal,” kata dia. (can/ant)









