Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau melonjak pada awal 2026 dan memimpin Sumatera. Pemerintah provinsi mempercepat investasi besar untuk menjaga momentum dan memperluas dampak ekonomi.
INFO GOKEPRI – Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad mengarahkan percepatan investasi saat ekonomi daerah melaju pada awal 2026. Momentum ini dijaga agar tetap kuat di tengah fluktuasi musiman.
Ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan I-2026 tumbuh 7,04 persen secara tahunan. Angka ini menjadi yang tertinggi di Sumatera dan melampaui rata-rata kawasan sebesar 5,13 persen serta nasional 5,61 persen.
Dalam lima tahun terakhir, tren pertumbuhan Kepri menunjukkan perbaikan konsisten. Setelah terkontraksi 1,19 persen pada triwulan I-2021, ekonomi berbalik tumbuh 2,83 persen pada 2022, lalu melonjak 6,51 persen pada 2023. Pertumbuhan sempat melandai ke 5,01 persen pada 2024 dan naik kembali menjadi 5,16 persen pada 2025 sebelum mencapai 7,04 persen pada 2026.
Ansar menargetkan investasi Rp86 triliun sepanjang 2026 untuk menjaga akselerasi tersebut. Ia menilai arus modal baru menjadi faktor kunci dalam memperkuat ekspansi ekonomi.
“Pertumbuhan harus dijaga dengan investasi yang terus bergerak,” kata Ansar.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp99,38 triliun. Sementara atas dasar harga konstan tercatat Rp57,65 triliun.
Di tingkat regional, posisi Kepri berada di puncak pertumbuhan ekonomi Sumatera. Lampung tumbuh 5,58 persen, Sumatera Selatan 5,34 persen, dan Sumatera Barat 5,02 persen. Provinsi besar seperti Sumatera Utara dan Riau masing-masing tumbuh 4,98 persen dan 4,89 persen.
Struktur ekonomi Kepri masih ditopang industri pengolahan dengan kontribusi 42,42 persen. Sektor konstruksi menyumbang 19,59 persen, disusul perdagangan dan reparasi kendaraan sebesar 9,66 persen.

Kepala BPS Kepulauan Riau Toto Haryanto Silitonga menjelaskan industri pengolahan menjadi motor utama dengan andil pertumbuhan 2,50 persen. “Pertumbuhan ini sejalan dengan ekspansi kawasan industri, terutama di Batam,” ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, pembentukan modal tetap bruto memberi kontribusi 3,02 persen. Konsumsi rumah tangga menyumbang 1,80 persen terhadap pertumbuhan.
Secara triwulanan, ekonomi Kepri masih terkontraksi 3,54 persen dibanding akhir 2025. Penurunan dipengaruhi berkurangnya aktivitas konstruksi, pertambangan, serta belanja pemerintah pada awal tahun.
Ansar merespons kondisi itu dengan mempercepat sejumlah proyek strategis. Di Batam, pengembangan kawasan ekonomi khusus digarap bersama Badan Pengusahaan Batam untuk menarik investasi manufaktur dan logistik.
Di Bintan, pemerintah mengarahkan investasi ke kawasan industri petrokimia di Pulau Poto serta pengembangan industri baja di Pulau Numbing. Kedua proyek ini diproyeksikan memperkuat basis industri hilir.
Pemerintah juga mempercepat realisasi KEK Thiansan di Kabupaten Lingga yang telah masuk Proyek Strategis Nasional. “Koordinasi terus berjalan agar proyek ini segera terealisasi,” kata Ansar.
Selain industri besar, pengembangan ekonomi pesisir turut dipacu. Kawasan budidaya rumput laut di Dabo Singkep ditargetkan mencapai 5.000 hektare, sementara Anambas diarahkan memproduksi hingga 300 ribu ton per tahun.
Ansar menilai sektor ini memberi dampak langsung bagi masyarakat pesisir. “Aktivitas ini membuka peluang kerja dan menambah penghasilan warga,” ujarnya.
Ia memastikan pemerataan investasi menjadi prioritas agar pertumbuhan tidak terkonsentrasi di wilayah tertentu. Pemerintah provinsi mendorong setiap kabupaten dan kota memiliki basis ekonomi yang berkembang.
“Ke depan, kami ingin pertumbuhan yang inklusif dan merata di seluruh Kepulauan Riau,” kata Ansar. (ADVERTORIAL)
Baca Juga: Ekonomi Kepri Tumbuh Pesat Triwulan Pertama 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








