Dugaan Kartel Harga Tiket Kapal Batam-Singapura, Empat Perusahaan Diselidiki

Kapal Feri Batam Fast. Foto : Instagram @batamfastferry
Kapal Feri Batam Fast. Foto : Instagram @batamfastferry

Batam (gokepri) – Harga tiket kapal Batam-Singapura yang melambung memicu kecurigaan akan praktik kartel. Empat operator feri diduga mengatur harga secara bersama-sama.

Empat perusahaan yang mengelola rute kapal rute Batam-Singapura adalah Batamfast, Horizon, Sindo, dan Majestic. Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) sudah turun tangan untuk menyelidiki dugaan ini. Mereka mengumpulkan bukti atas dugaan kartel dan persaingan usaha tak tidak sehat antara perusahaan kapal.

Baca Juga:

“Kami fokus pada kemungkinan kesepakatan antara empat perusahaan ini dalam pengaturan harga dan trip,” ungkap Kepala Kantor Wilayah I KPPU, Ridho Pamungkas, usai FGD terkait kenaikan harga tiket di Kantor BP Batam, Selasa, 11 Juni 2024.

KPPU menyelenggarakan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) di Gedung Badan Pengusahaan (BP) dengan memanggil perusahaan kapal, asosiasi pengusaha, dan perwakilan pemerintah daerah. Dari empat perusahaan kapal yang dipanggil, hanya pengelola Horizon yang mangkir hadir.

Focus group discussion di Gedung Badan Pengusahaan (BP) membahas harga tiket kapal Batam-Singapura, 11 Juni. Foto: gokepri/Muhammad Ravi

”Sebetulnya ketika mereka kami panggil itu adalah kesempatan mereka untuk membela diri. Kalau mereka tidak memanfaatkan kesempatan tersebut, kami akan menggunakan bukti yang kami miliki,” kata Ridho.

Harga tiket kapal Batam-Singapura naik sejak April 2022. Kini, tiket pergi-pulang untuk pemegang paspor negara lain Rp915.000, naik tajam dari sebelumnya sekitar Rp600.000. Untuk pemegang paspor Indonesia harganya Rp760.000, sebelumnya lebih kurang Rp400.000.

Ridho menyatakan, ada sejumlah keanehan dalam kenaikan harga tiket itu. Pertama, adalah soal harga yang melambung hampir dua kali lipat. Kedua, empat perusahaan kapal itu menerapkan harga yang sama persis.

”Arahnya memang ada dugaan kartel. Sekarang kami masih dalam proses pengumpulan alat bukti. Jangan-jangan empat perusahaan ini melakukan pengaturan harga,” ujar Ridho.

Terindikasi melakukan praktik oligopoli dalam sektor transportasi laut, keempat operator ini diduga mendongkrak harga tiket menjadi tinggi namun tidak kompetitif. “Inilah yang sedang kami buktikan,” tegas Ridho.

Meski mengakui faktor operasional dan bahan bakar, Ridho mempertanyakan apakah kenaikan harga tiket disebabkan oleh okupansi rendah atau memang harga yang tidak kompetitif. “Tingkat okupansi belum normal, tapi apakah karena tiket mahal atau gairah ekonomi yang masih lesu?” tanyanya.

Dari empat perusahaan yang diselidiki, satu perusahaan tidak hadir. Tiga perusahaan memberikan perhitungan dan alasan kenaikan harga tiket. “Salah satunya beralasan harus menutupi kerugian dua tahun lalu. Tapi, alasan itu tidak masuk akal jika kondisi sudah normal seperti sekarang,” jelas Ridho.

Proses penyelidikan terkendala jarak antara KPPU Kanwil I di Medan dan Principal keempat operator yang berada di Singapura. “Agen-agen di sini mendapatkan penentuan harga dari principal di Singapura,” katanya.

Koordinasi dengan Competition and Consumer Commission of Singapore (CCCS) pun dilakukan mengingat kenaikan harga ini mempengaruhi kunjungan ke Batam dan merugikan perekonomian kedua negara. “Kenaikan harga ini berakibat pada penurunan jumlah wisatawan dan menghambat pemulihan ekonomi Batam dan Singapura,” tutupnya.

Saat FGD, perwakilan agen pelayaran Majestic Ferry, Victor, mengatakan, naiknya harga minyak dunia dan biaya pelabuhan menjadi faktor pendorong naiknya harga tiket. Dari harga tiket Rp 760.000 untuk pergi-pulang, ia mengklaim, perusahaan hanya mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp 470.000.

”Itu belum termasuk (potongan) biaya operasional, seperti onderdil dan yang lain. Kalau hitung-hitugan, sebenarnya keuntungan bisnis ini tidak besar,” ujar Victor.

Victor menolak memberikan pernyataan kepada wartawan setelah FGD rampung. Agen pelayaran Sindo dan Batam Fast juga bersikap sama. Mereka buru-buru masuk mobil dan meninggalkan gedung BP Batam. ”Semuanya seperti yang saya katakan di dalam tadi,” kata Victor sambil menutup pintu mobil.

Penulis: Muhammad Ravi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News