Dipenjara setelah Uang Palsu di Baju Bekas

Pendeta di batam dipenjara di singapura
Contoh bank note SGD10.000. (Foto: Monetary Authority of Singapore)

Pengadilan Singapura memenjarakan seorang pendeta di Batam karena terlibat penukaran uang palsu. Bermula dari penemuan selembar kertas di karung baju bekas.

Singapura (Gokepri.com) – Jusuf Nababan kaget ketika menemukan uang dolar Singapura sebesar 10.000. Kalau dirupiahkan, jumlahnya Rp106 juta. Uang kertas itu ditemukan di dalam karung berisi baju bekas atau baju seken. Jusuf berjualan baju bekas dari Singapura untuk dijual lagi di Jakarta.

Ia lalu membawa kertas uang itu ke money changer di Batam, seperti dilansir Channel News Asia, Jumat (19/2/2021). Sang kasir money changer mengatakan uang itu asli. Tapi pria berusia 49 tahun itu ragu uangnya asli.

Singapura memang memiliki pecahan uang kertas dengan nilai paling besar SGD10.000 atau biasa disebut bank note. Pecahan ini tak lagi diterbitkan kecuali yang masih beredar masih berlaku.

Jusuf pun pergi ke Singapura untuk menukar uang itu dengan pecahan lebih kecil. Ia meminta bantuan seorang temannya dan mengajak satu orang lagi warga Singapura. Warga Singapura ini menyetor bank note ke rekening banknya di DBS.

Mereka bertiga berhasil menyetor bank note palsu dan menarik uang. Uangnya dibagi tiga, Jusuf mendapat paling besar sekitar SGD7.500 atau setara Rp79 juta. Tapi uangnya habis. Jusuf main di kasino.

Modus Jusuf dan komplotannya terbongkar. Ia terseret hukum dan sudah dijatuhi hukuman penjara empat tahun dua bulan di Pengadilan Singapura pada Jumat 19 Februari 2021. Tuduhannya berkomplot menggunakan uang palsu.

Menurut laporan Channel News Asia di sidang, Jusuf menemukan bank note palsu itu sekitar tahun 2019. Ia lalu mengajak temannya dan salah satu terdakwa, Yolanda, untuk membantu menukar bank note itu ke pecahan kecil.

Jusuf mengatakan money changer di Batam memberitahu bank note itu asli tapi dia curiga palsu.

Jadi ia memutuskan untuk meminta orang lain menukarkan bank note itu sehingga dia lepas dari jeratan hukum jika terbukti palsu.

Sedangkan Yolanda yang disuruh Jusuf, mengontak warga Singapura, Saw Eng Kiat, yang berprofesi sebagai satpam di Marina Bay Sands.

Tiga sekawan ini lalu bertemu di Singapura dan Jusuf menyerahkan bank note itu ke Saw Eng Kiat. Saw mengaku curiga karena bank note dengan nilai tertinggi di Singapura itu diberikan begitu saja oleh Jusuf. Akhirnya Saw membantu juga karena ia pun sedang lagi butuh uang. Tapi dengan syarat ia mendapat imbalan.

Setelah mencoba dan gagal menukarkan uang di toko-toko di Chinatown, Saw menyarankan kepada Jusuf dan Yolanda untuk menukar uang tersebut di bank.

Ketiganya pergi ke Harbourfront Centre. Saw menyerahkan catatan itu kepada teller bank untuk disetorkan ke rekeningnya di DBS.

Teller menerima uang kertas tersebut setelah meletakkannya di mesin. Masalahnya, teller tersebut tidak tahu bahwa mesin tersebut tidak dilengkapi dengan alat pendeteksi uang palsu. Bank note palsu pun lolos.

Saw kemudian menarik uang tunai itu dan menyerahkan SGD7.500 kepada Jusuf dan SGD 1.000 kepada Yolanda. Saw mendapat imbalan SGD1.500.

Bank baru sadar bank note itu palsu ketika Jusuf menghabiskan uangnya di kasino. Staf bank segera menyadari bahwa bank note dari Saw itu palsu dan mengajukan laporan polisi.

Wakil Jaksa Penuntut Umum Kong Kuek Foo menuntut Jusuf setidaknya 50 bulan penjara, mirip dengan hukuman yang diterima oleh terdakwa Saw dan Yolanda.

“Kisaran yang biasa untuk pelanggaran serupa adalah antara tiga dan lima tahun penjara,” kata Kong.

“Ini diberlakukan bahkan jika jumlah uang kertas dan jumlah yang terlibat kecil , karena kami berurusan dengan uang kertas SGD$ 10.000.”

Mohamed Muzammil Mohamed, pengacara Jusuf, mengatakan hukuman yang pantas dijatuhkan antara 40 dan 45 bulan penjara.

Dia mengatakan kliennya sudah menikah, dengan empat anak yang bersekolah, dan merupakan pencari nafkah tunggal keluarganya.

Jusuf berkecimpung dalam bisnis barang bekas, terutama pakaian. Dia membeli pakaian di Singapura sebelum dibawa ke Jakarta, untuk dijual lagi.

“Jusuf menerima kontainer khusus pakaian bekas dan dia menemukan uang kertas SGD10.000,” kata Muzammil.

Dia mengatakan Jusuf menyimpan bank note itu dan melanjutkan bisnisnya seperti biasa.

Selain bisnis barang bekasnya, Jusuf juga seorang pendeta di sebuah gereja Kristen di Batam. “Seorang Kristen yang taat”, kata Muzammil.

Dia mengecek uang itu dengan Money Changer di Batam, yang mengatakan uang itu asli tetapi telah berhenti beredar di Indonesia.

Money changer lalu meminta Jusuf untuk mencari bantuan dari seseorang di Singapura, sehingga Jusuf menghubungi Yolanda, yang sering ditemuinya di sebuah kasino di Singapura.

“Dia ingin bertemu kembali dengan istri dan anak-anaknya, yang tidak pernah dia lihat sejak tanggal penahanannya (pada) November 2019,” kata Muzammil.

Hakim mengatakan pemalsuan mata uang adalah pelanggaran yang sangat serius yang tidak hanya merusak ekonomi tetapi juga mempengaruhi kepercayaan publik terhadap sistem moneter.

Dia mengatakan Saw telah dijatuhi hukuman 50 bulan penjara. Karena menggunakan uang kertas palsu, dia bisa dipenjara hingga 20 tahun dan didenda.

(Can) | Sumber: Channel News Asia

BAGIKAN