Batam (gokepri.com) – Kota Batam dilanda banjir pada akhir pekan lalu, sejumlah kawasan perumahan dan jalanan utama terendam. Bahkan di beberapa titik, ketinggian air mencapai satu meter lebih atau sampai pinggang orang dewasa.
Banjir tersebut terjadi akibat hujan deras yang mengguyur Kota Batam selama dua hari berturut-turut. Namun dibalik itu semua, curah hujan yang tinggi membuat Batam selamat dari ancaman kekeringan.
Pasalnya, elavasi air baku enam waduk yang dikelola Badan Pengusahaan (BP) Batam sudah kembali normal atau berada di atas spillway. Beberapa bulan terakhir sejumlah waduk di Batam nyaris tidak bisa beroperasi akibat kekeringan.
Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam Binsar Tambunan mengatakan curah hujan di Batam biasanya hanya sekitar 20 mililiter. Tapi, saat awal tahun lalu curah hujan mencapai 200 mililiter.
“Memang terjadi peningkatan curah hujan yang signifikan. Sehingga membuat sejumlah wilayah banjir,” kata Binsar di Gedung Marketing Center, Kamis (7/1/2021).
Namun, disisi lain dengan curah hujan yang tinggi secara otomatis akan berdampak terhadap evalasi air baku di enam waduk yang ada. Dengan pasokan air baku yang ada saat ini, maka Batam tidak akan kekurangan air minimal sampai tujuh bulan ke depan.
Binsar mengatakan saat ini hanya Waduk Duriangkang dan Muka Kuning yang masih minus. Di mana untuk Waduk Duriangkang yang merupakan waduk terbesar di Kota Batam saat ini masih minus sekitar 43 cm, sedangkan Muka Kuning minus 53 cm dari batas spillway.
“Sementara untuk waduk lainnya sudah mencapai batas spillway, bahkan beberapa di antaranya full over,” katanya.
Seperti Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi yang full over 3 cm, Waduk Nongsa full over 4 cm dan Waduk Tembesi over full 12 cm. Bahkan untuk Waduk Tembesi ini sejak dipompakan air bakunya ke Dam Muka Kuning belum pernah di bawah spillway.
“Perkiraan Maret atau April curah hujan akan kembali tinggi. Tentu kita harapkan hujan akan rutin turun, tentunya dengan curah hujan yang normal,” katanya.
(ARD)









