Dialog dengan Menteri Transmigrasi, Warga Rempang Setuju Investasi Asal Tak Digusur

Investasi rempang
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara (kedua dari kanan) mendengarkan aspirasi masyarakat Batam, Rempang, dan Galang dalam dialog bersama di Rempang, Kepulauan Riau, Jumat (18/4/2025). Foto: Kementerian Transmigrasi

BATAM (gokepri) – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menggelar dialog dengan perwakilan warga Barelang (Batam-Rempang-Galang) terkait investasi, merespons aspirasi masyarakat yang tidak menolak investasi asalkan tidak ada penggusuran. Pemerintah menawarkan program transmigrasi lokal sebagai solusi sukarela.

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengundang berbagai kelompok perwakilan warga Pulau Batam, Rempang, dan Galang (Barelang), Provinsi Kepulauan Riau, untuk berdiskusi mengenai investasi di kawasan tersebut. Dalam dialog itu, masyarakat menegaskan tidak menolak investasi asalkan tidak ada pemindahan atau penggusuran warga. “Esensinya saya tangkap bahwa pada prinsipnya masyarakat tidak menolak investasi asal tidak digusur dan digeser, betul ya?” kata Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara, disambut persetujuan peserta dialog, seperti dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (19/4).

Dialog tersebut mempertemukan berbagai pihak, baik yang setuju maupun menolak rencana relokasi terkait konflik lahan investasi di Barelang. Mereka terdiri dari organisasi/mitra pembangunan, perwakilan rukun warga Kecamatan Galang dan Rempang, serta tokoh masyarakat Galang dan Rempang.

HBRL

Sebagai salah satu solusi konflik lahan, Kementrans mengusulkan Program Transmigrasi Lokal yang bersifat sukarela tanpa paksaan. Pemerintah menyatakan komitmen untuk menghargai sepenuhnya keputusan warga terkait pilihan mereka untuk mengikuti program tersebut atau tidak.

M Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan bahwa Program Transmigrasi Lokal bukan sekadar memindahkan penduduk. Program ini secara komprehensif memperhatikan kesejahteraan warga, mulai dari pendampingan hingga peningkatan ekonomi. Ia menambahkan bahwa Kementrans kini tengah mengintensifkan transformasi paradigma baru transmigrasi. Tujuannya adalah menciptakan pusat-pusat kawasan ekonomi yang berorientasi pada skala industri dan hilirisasi produk unggulan kawasan.

Ia menyatakan bahwa paradigma baru transmigrasi fokus pada hilirisasi komoditas unggulan. Hal ini mendorong pengolahan produk-produk unggulan dari kawasan yang memiliki nilai tambah tinggi, sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat setempat dan daya saing di pasar yang lebih luas.

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Gerisman, mengapresiasi upaya Kementrans dalam menyelesaikan konflik tanah di kawasan tersebut. “Tokoh masyarakat Rempang mengucapkan terima kasih atas nama warga kepada Bapak Menteri untuk membuka ruang dialog untuk mencari solusi yang terbaik,” ucap Gerisman. ANTARA

Baca Juga: Aspirasi Warga Rempang, Minta Pemerintah Perhatikan Kesejahteraan dan Potensi Lokal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait