Yokohama Perkuat Industri Marine Hose, Batam Jadi Basis Produksi

President Director Yokohama Industries Indonesia (YIID) Yoshinori Tamada menyampaikan sambutan. (foto: engesti/gokepri.com)

BATAM (gokepri.com) – Yokohama Industries Indonesia menggelar seminar teknis bertajuk “Mastering Marine Hose Systems: Insights from 70+ Years of Experience” di Batam, Kepulauan Riau, sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman industri terhadap kualitas, keandalan, dan keselamatan sistem marine hose.

Seminar yang berlangsung 30 September hingga 1 Oktober 2026 tersebut mempertemukan pelaku industri dan pelanggan Yokohama dari berbagai negara. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas produksi Yokohama di Batam.

President Director Yokohama Industries Indonesia (YIID) Yoshinori Tamada mengatakan, keberadaan fasilitas produksi di Batam menjadi bagian penting dalam jaringan produksi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Menurut dia, Yokohama saat ini memiliki dua lokasi utama yang mendukung bisnis marine hose, yakni pabrik di Jepang sebagai kantor pusat dan fasilitas produksi di Batam.

“Kami memiliki dua lokasi, satu pabrik utama di Jepang dan satu fasilitas produksi di Batam, Indonesia. Bersama-sama, kedua fasilitas ini memasok produk ke seluruh dunia,” ujar dia.

Tamada mengatakan, kualitas menjadi prinsip utama Yokohama dalam menjalankan bisnis marine hose. Komitmen tersebut terus diperkuat melalui sistem manajemen mutu, standardisasi, serta penerapan perbaikan berkelanjutan.

Fasilitas Yokohama di Batam yang mulai beroperasi pada 2015, kata dia, terus mengembangkan sistem pengelolaan kualitas melalui berbagai program peningkatan.

“Dalam beberapa bidang, kami bahkan telah memperkenalkan dan menerapkan inisiatif baru lebih dahulu dibandingkan pabrik utama kami di Jepang,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan sistem manajemen kualitas yang didukung pengolahan data dan perangkat digital menjadi salah satu kekuatan fasilitas produksi Yokohama di Batam.

Ads bp batam 2026 baru

Kemampuan tersebut dinilai penting untuk memastikan keandalan dan keamanan produk yang digunakan dalam berbagai kebutuhan industri.

Asisten General Manager Sales Yokohama Agus Tamrin R mengatakan, marine hose merupakan produk specific engineering yang dirancang khusus sesuai kebutuhan pelanggan, terutama untuk industri minyak dan gas.

Menurut dia, produk tersebut digunakan untuk mentransfer minyak dari fasilitas lepas pantai (offshore) ke kapal tanker. Karena itu, aspek keselamatan dan keandalan menjadi perhatian utama dalam pemilihan produk.

“Marine hose ini selang yang dipakai untuk mentransfer minyak dari offshore ke tanker. Kalau terjadi kegagalan atau kebocoran sekecil apa pun, minyak bisa menyebar dan menimbulkan persoalan lingkungan yang besar,” ujarnya.

Ia mengatakan, seminar tersebut menjadi kesempatan bagi Yokohama untuk mengingatkan kembali para pengguna mengenai pentingnya pemilihan produk, teknologi, serta standar keselamatan dalam pengoperasian marine hose.

“Tujuannya untuk merefresh customer bahwa produk-produk ini penting, termasuk teknologi apa yang perlu kita highlight untuk menjaga safety dan reliability dalam produksi di tengah laut,” katanya.

Agus menyebut, seminar tersebut diikuti sekitar 60 partisipan dari 40 perusahaan yang berasal dari 20 negara. Peserta antara lain merupakan pelanggan dan mitra Yokohama, termasuk perusahaan serta lembaga minyak dan gas dari sejumlah negara.

“Yang datang ini rata-rata orang-orang yang memang expert di bidang oil and gas dan memang user yang menggunakan produk ini,” katanya.

Menurut Agus, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan Yokohama dengan pelanggan sekaligus berbagi pengetahuan mengenai penggunaan marine hose yang aman dan andal.

Ia menjelaskan, Yokohama Industries Indonesia mulai berdiri di Batam pada 2014, sedangkan produksi perdana dilakukan pada 2015. Selama sekitar 11 tahun beroperasi, fasilitas tersebut telah memasok produk marine hose ke berbagai negara.

“Yokohama Batam bukan hanya untuk memasok kebutuhan domestik, tetapi juga memasok ke seluruh dunia. Customer kami lebih dari 30 negara,” ujarnya.

Agus mengatakan, fasilitas Batam merupakan pabrik kedua Yokohama setelah Jepang. Bahkan, dari sisi cakupan negara tujuan pengiriman, produk yang diproduksi di Batam menjangkau lebih banyak negara dibandingkan fasilitas produksi di Jepang.

“Dari jumlah negara yang kami kirim, Batam lebih banyak dibanding Jepang. Karena di Jepang mereka lebih fokus ke beberapa negara tertentu,” katanya.

Agus berharap pengetahuan yang dibagikan dalam kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran pelanggan mengenai pentingnya memilih produk yang tepat untuk mendukung keselamatan dan keandalan operasi minyak dan gas.

“Semoga ilmu-ilmu yang kami bagikan di sini bisa membuat customer lebih aware tentang produk yang bagus untuk kebutuhan, khususnya di perusahaan tempat mereka beroperasi,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Head of Public BP Batam Ariastuti Sirait mengatakan, perkembangan industri di Batam tidak terlepas dari keterhubungan kota tersebut dengan pasar internasional.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 7,28 persen pada triwulan II 2026, dengan sektor manufaktur memberikan kontribusi lebih dari separuh aktivitas ekonomi kota tersebut.

Pada semester pertama 2026, realisasi investasi Batam tercatat Rp29,89 triliun atau sekitar 1,66 miliar dolar AS. Sementara nilai ekspor mencapai 4,78 miliar dolar AS.

Menurut Ariastuti, Batam kini memiliki 31 kawasan industri, 135 galangan kapal, empat pelabuhan kargo, serta enam pelabuhan penumpang internasional yang melayani konektivitas menuju Singapura dan Malaysia.

“Industri telah lama menghubungkan kota kami dengan pasar internasional dan koneksi tersebut terus berkembang,” katanya.

Ariastuti menilai, seminar yang digelar Yokohama memiliki arti penting karena mempertemukan produsen dan pelanggan dalam satu forum untuk berbagi pengalaman terkait kualitas, keselamatan, dan pengembangan teknologi.

“Bahkan produk yang paling maju bergantung pada sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu kemauan untuk belajar, memperbaiki, dan berbagi apa yang kita ketahui,” ujarnya.

Ia mengatakan, keberadaan Yokohama di Batam selama 12 tahun turut memperkuat hubungan antara industri manufaktur lokal dengan pelanggan di berbagai negara.

Menurut dia, pertumbuhan industri tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari keterampilan pekerja, pemenuhan standar, serta kepercayaan yang dibangun antara produsen dan pelanggan.

“Kehadiran begitu banyak pelanggan yang berkumpul di Batam hari ini membuat hubungan tersebut semakin nyata,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PT Kabil Citranusa Peters Vincen memperkenalkan perkembangan kawasan industri Kabil dan berbagai aktivitas industri yang berkembang di dalamnya.

Ia mengatakan, kawasan tersebut memiliki fasilitas pelabuhan kargo internasional yang mendukung kebutuhan industri, termasuk pengiriman berbagai peralatan berukuran besar.

Kawasan Kabil saat ini dihuni sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang fabrikasi, industri minyak dan gas, hingga industri pendukung pertambangan.

Vincen bilang, perkembangan kawasan industri tersebut juga semakin terbuka seiring masuknya sektor-sektor baru, termasuk industri pusat data.

“Sehingga membuka peluang bagi industri pendukung untuk ikut berkembang,” kata dia.

Seminar teknis Yokohama tersebut diharapkan tidak hanya menjadi forum berbagi pengalaman, tetapi juga memperkuat hubungan antara produsen, pelanggan, dan pelaku industri di kawasan Asia.

Penulis : Engesti

 

Pos terkait