Dari Cabai hingga Pepaya, Petani Toapaya Membidik Pasar Batam

Aktivitas pertanian Kelompok Tani Bintan Jaya di Kampung Kangboy, Desa Toapaya Utara, Bintan. Hasil panen cabai dan pepaya dipasarkan hingga Tanjungpinang dan Batam.
Sejumlah petani memetik cabai hijau di atas lahan pertanian di Desa Toapaya Utara, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (22/8/2026). ANTARA/Ogen

BINTAN (gokepri) – Lahan pertanian di Desa Toapaya Utara, Bintan, tak hanya menghasilkan pangan untuk kebutuhan lokal. Cabai dan pepaya dari desa itu dipasarkan hingga Tanjungpinang dan Batam, sekaligus menciptakan pekerjaan bagi warga sekitar.

Kelompok Tani (Poktan) Bintan Jaya mengembangkan sejumlah komoditas di lahan seluas delapan hektare di Kampung Kangboy, Desa Toapaya Utara, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan.

Cabai, nanas, dan pepaya kalifornia menjadi komoditas utama yang dikembangkan kelompok tani tersebut. Sebagian hasil panennya dikirim secara rutin ke Kota Tanjungpinang dan Kota Batam.

Baca Juga: Ketika HET Pupuk Turun 20 persen, Harapan Petani pun Ikut Tumbuh

Kepala Desa Toapaya Utara Said, yang juga merupakan petani setempat, mengatakan Poktan Bintan Jaya mempekerjakan sekitar 10 buruh tani untuk membantu proses panen, terutama cabai hijau.

Seorang buruh tani dapat memperoleh upah sekitar Rp100 ribu atau lebih untuk pekerjaan panen selama setengah hari. Rata-rata seorang pekerja mampu memanen sekitar 25 kilogram cabai.

Panen cabai hijau dilakukan rutin setiap pekan di lahan seluas sekitar 4.000 meter persegi. Dalam satu kali pengiriman, hasil panen dapat mencapai 400 kilogram dengan harga sekitar Rp40 ribu per kilogram.

“Seorang buruh tani bisa mendapatkan gaji Rp100 ribu bahkan lebih untuk memanen cabai, mulai pagi hingga siang hari atau setengah hari. Kemampuan panen cabai per orang rata-rata 25 kilogram,” kata Said di Bintan, Sabtu (22/8).

Selain cabai, Poktan Bintan Jaya mengembangkan pepaya kalifornia. Sekitar 1.000 pohon ditanam dan hasilnya dipasarkan hingga Tanjungpinang dan Batam dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram.

“Kalau pepaya ada sekitar 1.000 pohon. Sekali panen, bisa tiga biji per pohon,” ujar Said.

Bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, aktivitas pertanian seperti yang dikembangkan di Toapaya Utara menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura mengatakan Bintan merupakan salah satu sentra pertanian di Kepri. Sejumlah produk pertanian dari wilayah tersebut bahkan telah dipasarkan ke luar daerah, terutama Tanjungpinang dan Batam.

“Bintan menjadi salah satu sentra pertanian di Kepri dalam upaya memperkuat ketahanan pangan,” kata Nyanyang di Bintan, Sabtu (22/8).

Namun, pengembangan pertanian di wilayah kepulauan menghadapi tantangan yang berbeda dengan daerah daratan. Cuaca ekstrem, angin kencang, curah hujan yang tidak menentu, dan kondisi tanah dapat memengaruhi produktivitas tanaman.

Pemerintah daerah, kata Nyanyang, terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Salah satu perhatian pemerintah adalah memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani.

“Salah satunya, memastikan penyaluran pupuk subsidi berkelanjutan untuk menunjang hasil pertanian lokal,” ujarnya.

Nyanyang juga mengapresiasi Poktan Bintan Jaya yang dinilai berhasil mengembangkan usaha pertanian sekaligus memperkuat cadangan pangan daerah.

Menurut dia, pengalaman dan metode yang diterapkan kelompok tani di Toapaya Utara dapat menjadi contoh bagi pengembangan pertanian di daerah lain di Kepri. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi setiap wilayah.

Di tingkat petani, keberlanjutan produksi masih menjadi tantangan. Said mengatakan musim hujan sempat mengganggu tanaman cabai karena serangan penyakit pada bagian pucuk.

Gangguan tersebut dapat ditangani petani dengan perawatan tanaman dan penggunaan bahan pengendali hama. Said menyebut penyakit pada pucuk itu sebagai “embun bulu”.

“Kami sebut itu penyakit embun bulu di bagian pucuk, tapi masih bisa diatasi,” kata Said.

Dengan pasar yang telah menjangkau Batam dan Tanjungpinang, pertanian Toapaya Utara menunjukkan bahwa lahan desa dapat menjadi bagian dari rantai pasok pangan sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat. Tantangannya kini menjaga produktivitas ketika petani berhadapan dengan perubahan cuaca dan risiko produksi. ANTARA

Baca Juga: Menjemput Panen, Meruntuhkan Kuasa tengkulak dan Kesejahteraan Petani

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait