KARIMUN (gokepri.com) – Ancaman petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karimun untuk tidak lagi bekerja karena upah mereka yang tidak dibayarkan selama dua bulan memang benar-benar mereka wujudkan.
Nada tegas para petugas kebersihan yang terdiri dari sopir amrol hingga petugas pemilah sampah itu disampaikan saat melakukan aksi di halaman kantor DLH Karimun pada 14 Februari 2025 lalu
“Belum ada kepastian gaji, makanya kami mogok kerja,” ujar Mulyono, salah seorang sopir amrol disela-sela aksi mogok kerja.
Mereka sepakat tetap akan menjalani aksi mogok kerja sampai hak mereka dibayarkan oleh Pemkab Karimun.
Apa yang disampaikan puluhan petugas kebersihan itu memang terjadi.
Buktinya, sudah beberapa hari ini, sepanjang jalan Karimun dipenuhi sampah. Bahkan, kondisi Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah makin lebih parah lagi.
Kondisi yang paling menyedihkan ditemui di pasar-pasar tradisional Tanjungbalai Karimun, sampah sudah menggunung. Pasar sudah menjadi lautan sampah.
Calon Wakil Bupati Karimun, Raja Bakhtiar bahkan tak segan menyebut kalau Karimun sudah menjadi kota sampah.
“Karimun sudah menjadi kota sampah,” ujar Raja Bakhtiar menanggapi terjadinya fenomena sampah di negeri berjuluk ‘Bumi Berazam’ tersebut.
Di sepanjang jalan-jalan utama Karimun berjejer tumpukan sampah. Bahkan, di TPS Pasar Bukit Tembak dan Pasar Puan Maimun jangan ditanya lagi, tumpukan sampah sudah menjadi gunung.
“Nak jadi ape lah negeri kite ini lagi ni,” ungkap Yanto, warga Meral ketika menyaksikan tumpukan sampah di sepanjang Jalan A Yani.
Dia berharap agar pemangku kepentingan di Karimun bisa mengambil kebijakan agar persoalan sampah ini bisa segera teratasi.
“Harus ada keberanian dari kepala daerah untuk bersikap, agar persoalan sampah-sampah benar-benar bisa diatasi,” ungkapnya.
Penulis: Ilfitra









