Cara RoTS Menghidupkan Ekonomi Kreatif Batam

Rots batam 2026
Rise of the Sneakers (RoTS) di Batam. Foto: ROTS

RoTS 2026 segera digelar. Komunitas menggerakkan ekonomi kreatif.

BATAM (gokepri) — Rise of the Sneakers (RoTS) kembali hadir di Batam pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026. Namun, festival ini tidak lagi sekadar menjadi tempat berburu sneakers atau produk fesyen.

Dalam empat tahun terakhir, RoTS menunjukkan bagaimana komunitas mampu mengubah hobi menjadi ruang kolaborasi yang menggerakkan ekonomi kreatif di kota yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri.

Baca Juga: Kreativitas di ROTS 2025, Sneakers Berpadu dengan Seni Arsitektur

Perubahan itu menjadi alasan RoTS terus bertumbuh. Ketika banyak agenda kreatif berhenti sebagai ruang berkumpul, RoTS justru berkembang menjadi titik temu pelaku UMKM, pemilik jenama lokal, seniman, kreator konten, hingga komunitas dari Batam, Jakarta, Singapura, dan Malaysia.

Ekosistem itulah yang membuat RoTS tidak bergantung pada satu tren. Komunitas membangun pasar sendiri, memperkenalkan produk lokal, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang sulit tercipta jika pelaku kreatif berjalan sendiri-sendiri.

Buktinya terlihat dari pertumbuhan pengunjung dan nilai transaksi setiap tahun. Saat pertama kali digelar pada 2022, RoTS menarik 9.397 pengunjung dengan transaksi Rp 286,7 juta.

Setahun kemudian, jumlah pengunjung melonjak menjadi 24.059 orang dengan transaksi Rp 414,3 juta. Pada 2024, angka itu kembali naik menjadi 65.302 pengunjung dan transaksi Rp 502,9 juta.

Momentum tersebut berlanjut pada 2025. Sebanyak 73.727 orang menghadiri RoTS dengan nilai transaksi mencapai Rp 613,7 juta.

Jika diakumulasikan, perputaran ekonomi selama empat penyelenggaraan mencapai Rp 1,81 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa komunitas bukan hanya membangun budaya populer, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang riil.

Pertumbuhan tersebut tidak lahir dari penjualan sneakers semata. Di balik setiap stan terdapat jenama lokal, UMKM, ilustrator, seniman visual, fotografer, hingga pelaku musik yang saling terhubung dalam satu ruang.

Interaksi itu membuka peluang kolaborasi baru. Produk Batam dapat dikenal lebih luas karena bertemu langsung dengan pembeli, peritel, maupun pelaku industri kreatif dari luar daerah bahkan luar negeri.

CEO Simplemind Communication Yasser Hadeka mengatakan RoTS tahun ini mengusung tema Revive The Future sebagai ajakan agar pelaku kreatif terus menciptakan inovasi tanpa kehilangan identitas lokal.

“Karena masa depan dibangun dari sekarang,” ujar Yasser.

Tema tersebut juga menjadi pengingat bahwa masa depan industri kreatif tidak selalu lahir dari tren global. Nilai budaya lokal dan kekuatan komunitas dapat menjadi fondasi lahirnya karya yang relevan bagi pasar.

RoTS 2026 menghadirkan sejumlah aktivasi baru, mulai dari penampilan rapper Tuan Tigabelas, seniman visual Crackthetoy, peluncuran sepatu kolaborasi Unerd x RDD, instalasi Giant Box, kompetisi tari, hingga RoTS Run 2026 yang menargetkan 600 peserta bersama Tammy Shahab.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan perubahan karakter RoTS. Festival ini tidak lagi berdiri sebagai pameran sneakers, tetapi berkembang menjadi ruang yang mempertemukan fesyen, seni, musik, olahraga, dan kewirausahaan dalam satu ekosistem.

Di tengah citra Batam sebagai kota manufaktur, pertumbuhan RoTS menunjukkan bahwa industri kreatif dapat berkembang ketika komunitas diberi ruang untuk berkolaborasi. Dari situlah muncul pasar baru, jejaring baru, dan peluang baru bagi generasi muda yang ingin berkarya tanpa harus meninggalkan kotanya sendiri.

Baca Juga: Dari Sneakers hingga Seni Rupa, Semua Ada di RoTS Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait