Permainan rakyat tradisional khas Melayu dipertontonkan saat perayaan HUT ke-77 RI di perbatasan Indonesia, Pulau Belakangpadang, Kota Batam. Terbukti ampuh untuk mempertahankan dan merawat tradisi yang dahulu kala sampai digemari banyak petinggi Singapura dan Malaysia.
Penulis: Engesti
Batam (gokepri.com) – “Ayo cepat mak, nanti udah mulai acaranya. Nanti ketinggalan,” ujar seorang bocah sambil menarik tangan ibunya untuk segera naik ke kapal pompong dengan mesin 15 PK.
Tak takut jatuh atau nyemplung ke laut bocah itu langsung loncat ke dalam pompong sambil mengajak orang tuanya untuk segera naik. “Ayo ini udah kosong,” katanya.
Padahal satu pompong itu hanya bisa diisi oleh 10 orang untuk menjaga keamanan penumpang. Dengan ikut bergabungnya dia dan orang tuanya jadi berlebih tiga orang. Namun, tekong pancung bilang tak apa.
“Kita bawa slow (pelan) saja. Sebab berlebih,” kata tekong itu.
Itu adalah gambaran suasana di pelabuhan boat pancung Sekupang yang lagi sibuk-sibuknya beberapa hari ini. Bahkan, Pelabuhan Domestik Sekupang yang ada di sebelahnya tak demikian.
Pelabuhan boat pancung Sekupang, Batam Kepulauan Riau, seperti ketiban rejeki nomplok di hari ulang tahun ke-77 Republik Indonesia.
Banyak warga Batam yang ingin mengunjungi Pulau Belakangpadang untuk merayakan Hari Kemerdekaan di Pulau Penawar Rindu itu.
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia di Belakangpadang dimeriahkan dengan sejumlah permainan rakyat dan tarian tradisional.
Tak heran jika masyarakat Batam atau daerah lainnya berbondong-bondong untuk mengunjungi pulau itu. Bahkan, pengunjungnya bukan hanya orang lokal, namun juga mancanegara.
Alhasil, jumlah trip pelayaran kapal lewat Pelabuhan Pancung Sekupang itu pun meningkat. Dalam sehari tembus 70 trip lebih kapal. Ini meningkat dibandingkan dengan hari biasanya.
Tokoh masyarakat sekaligus ketua panitia pesta rakyat Belakang Padang Haji Musa Jantan mengatakan, pada pesta rakyat yang digelar di Kecamatan Belakang Padang merupakan yang pertama sejak pandemi COVID-19 dua tahun lalu.
Masyarakat yang datang untuk menyaksikan pesta rakyat itu banyak yang dari mancanegara seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. “Semua ada Singapura, Malaysia, Brunei banyak ke sini,” katanya.

Menurut dia, kedatangan masyarakat itu untuk menyaksikan dan ikut memeriahkan HUT RI di Indonesia. “Mereka itu jauh-jauh memang ada yang untuk ketemu keluarga ada juga yang ikut lomba di sini. Rata-rata yang ikut ini bukan orang Belakangpadang, orang luar dari pulau-pulau luar pun ada,” kata dia.
Ia menjelaskan yang menjadi daya tarik masyarakat lokal maupun mancanegara adalah lomba yang diselenggarakan. Salah satunya lomba sampan layar dan balap boat pancung.
Menurut Haji Musa, seiring dengan perkembangan zaman, permainan rakyat tradisional harus terus dilestarikan. Sebab, saat ini permainan tradisional memiliki saingannya sendirian dan tak dilirik lagi oleh generasi muda.
“Apalagi pengurus pendahulu sudah banyak yang meninggal. Sampan layar itu sudah tak banyak lagi yang produksi. Sekalinya ada untuk alas rumah atau atap dan sebagainya karena kainnya kan kuat dari parasut,” katanya.
Meski begitu, dirinya terus merawat tradisi permainan rakyat agar tak tergerus oleh zaman. “Apalagi kita dekat dengan Singapura dan Malaysia jangan sampai nanti mereka yang klaim. Ini kita jaga,” katanya.
Ia menjelaskan lomba sampan layar ini sebenarnya sudah lama ingin ditinggal lantaran penerusnya banyak yang meninggal serta harga dan perawatan layar yang mahal. Ia bilang, untuk harga layarnya nya saja bisa mencapai 15 dolar lebih.
“Kita terus jaga. Yang ikut ini bukan karena mau hadiah. Hadiah tak seberapa dari pada ongkos mereka ke sini. Upah jahitnya saja mahal apalagi jahitnya tidak mau mereka pakai mesin harus jahit tangan,” katanya
Ia berkisah, dahulu lomba sampan layar sangat digemari oleh masyarakat lokal maupun mancanegara. Bahkan, petinggi Singapura sering memberikan sponsor untuk kegiatan tersebut agar digelar di Belakangpadang.
“Kalau dulu sampai 70 pesertanya sekarang hanya 24 peserta,” katanya.
Menurutnya, lomba sampan layar juga memiliki filosofi dan cerita sendiri dari mulai layar sampai tekong yang membawa sampan itu. Dirinya juga sempat menjelaskan secara singkat kepada awak media soal filosofi dan cerita sampan layar. Misal tali dogang yang fungsinya untuk mengatur kecepatan. Sehingga lanjut tidak sampan itu tergantung orang yang memegang tali dogang. “Kalau mobil itu seperti pedal gas,” katanya.
Kemudian BOM, dijelaskannya bom merupakan layar kecil yang fungsinya untuk menambah kecepatan dengan dibantu oleh layar yang besar atau sokong. “Ini untuk menambah kecepatan dan lainnya,” katanya.
Antusias karena Sampan Layar
Ribuan warga pulau penyangga Belakangpadang di Kota Batam antusias menyaksikan lomba sampan layar yang diadakan dalam rangka HUT ke-77 RI.

“Alhamduillah antusias masyarakat sangat luar biasa. Tidak hanya diikuti oleh masyarakat Belakangpadang, tapi dari seluruhnya ada dari Batam dan warga pulau-pulau. Peserta lomba layar itu ada dari pulau Buluh, pulau Sugih itu masuknya di Balai Karimun, kemudian ada juga dari Bulang dan Selat Nenek,” kata Camat Belakangpadang, Yudi Admajianto, Rabu 17 Agustus 2022.
Sebanyak 22 tim ikut serta dalam perlombaan sampan layar yang merupakan lomba khas Pulau Belakangpadang pada saat HUT RI.
“Lomba sampan layar ada 22 tim, ada banyak jenisnya, kolek 9 ada 9 tim, kolek 7 ada 6 tim, kolek 5 ada 6 tim, kolek 3 ada 2 tim. Tapi peserta atau perorangan-nya ada seratus lebih. Jadi Alhamdulillah, tahun ini sangat meriah, tahun ini kami gelar juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Yudi.
Ia menyampaikan, pelaksanaan perlombaan di Pulau Belakangpadang pada hari ini merupakan yang pertama kali setelah vakum akibat pandemi COVID-19.
Bahkan pada acara puncak HUT RI di daerah tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pengunjung dari negara tetangga, yaitu warga Malaysia dan Singapura.
“Alhamdulillah kita juga dikunjungi dari rekan-rekan luar negeri, ada dari Johor Malaysia, Singapura. dan satu hal yang diungkapkan yaitu kerinduan terhadap Belakangpadang. Jadi tahun ini kita patut bersyukur dan berterimakasih karena Pemkot Batam mengizinkan kita menggelar kegiatan HUT RI, karena selama 2 tahun tidak diadakan karena pandemi,” kata Yudi.
Adapun total hadiah yang disiapkan untuk para pemenang lomba sampan layar sebesar Rp50 juta.
Sementara itu, perwakilan pemenang lomba sampan layar, Padli menyampaikan rasa syukurnya karena ia bersama tim telah berhasil menjuarai lomba tersebut.
“Luar biasa juga susahnya karena disitu kita termasuk 6 peserta, tidak mudah juga untuk memperebutkan juara satu, dengan kerjasama kita dalam 1 tim dan kekompakan alhamdulillah kita bisa menjuarai,” katanya.
***








