Beratnya Istiqomah di Jalan Kebaikan

Utrianto. (istimewa)

Oleh: Dr. C. Utrianto,S.Pd.,M.Pd., Dosen PAI di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan Guru PAI di SMK Negeri 1 Batam

Memulai kebaikan itu mudah, tetapi mempertahankannya tidak selalu sederhana. Banyak orang mampu berubah—mulai rajin ibadah, memperbaiki akhlak, atau meninggalkan kebiasaan buruk. Namun, tidak sedikit yang kemudian kembali pada kebiasaan lama.

Di sinilah kita memahami satu hal penting: istiqomah itu berat. Dalam ajaran Islam, istiqomah berarti tetap teguh di jalan yang benar, meskipun banyak godaan dan tantangan. Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang beriman dan istiqomah akan mendapatkan ketenangan dan pertolongan-Nya. Artinya, istiqomah bukan hanya soal amal, tetapi juga tentang kekuatan hati.

HBRL

Mengapa Istiqomah Terasa Berat?

Secara sederhana, ada dua hal yang membuat istiqomah terasa sulit: diri sendiri dan lingkungan. Dari dalam diri, manusia cenderung ingin yang mudah dan menyenangkan. Kita tahu mana yang baik, tetapi sering kali malas melakukannya. Inilah pergulatan batin yang setiap orang rasakan. Hari ini semangat, besok bisa saja menurun. Ini hal yang manusiawi.

Dari luar, lingkungan juga punya pengaruh besar. Pergaulan, media sosial, dan gaya hidup modern seringkali tidak sejalan dengan nilai-nilai agama. Apa yang dulu dianggap salah, sekarang kadang dianggap biasa. Akibatnya, orang yang ingin istiqomah justru merasa “asing” di lingkungannya sendiri.

Bagi generasi muda, tantangan ini terasa lebih berat. Mereka hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Setiap hari disuguhi berbagai pilihan gaya hidup. Tanpa pegangan yang kuat, mudah sekali tergelincir.

Istiqomah dan Generasi Muda

Generasi muda saat ini sedang berada pada fase mencari jati diri. Mereka ingin diakui, ingin diterima, dan seringkali mengikuti apa yang sedang tren. Di sinilah pentingnya bimbingan yang tepat.

Masalahnya, pendidikan agama sering kali hanya berhenti pada teori. Anak-anak tahu tentang shalat, puasa, dan akhlak, tetapi belum tentu terbiasa melakukannya. Padahal, istiqomah tidak lahir dari pengetahuan saja, melainkan dari kebiasaan.

Kalau sejak kecil dibiasakan shalat tepat waktu, berkata jujur, dan bergaul dengan baik, maka nilai itu akan melekat. Sebaliknya, kalau hanya diajarkan tanpa contoh, maka sulit untuk bertahan lama.

Di sinilah peran penting orang tua, guru, dan lingkungan. Generasi muda tidak hanya butuh nasihat, tetapi juga teladan. Mereka lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Peran Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam harus hadir lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Tidak cukup hanya mengajarkan “apa yang benar”, tetapi juga “bagaimana cara menjalaninya”. Misalnya, bagaimana menjaga iman di tengah media sosial, bagaimana memilih pergaulan yang baik, dan bagaimana tetap taat di tengah kesibukan sekolah atau pekerjaan. Hal-hal seperti ini lebih relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Selain itu, pendekatan yang digunakan juga perlu berubah. Generasi muda lebih suka diajak berdialog daripada hanya diberi ceramah. Mereka ingin dipahami, bukan dihakimi.

Jika pendidikan agama mampu menyentuh hati dan realitas mereka, maka istiqomah bukan lagi sesuatu yang terasa berat, tetapi menjadi kebutuhan.

Istiqomah: Bukan Sempurna, Tapi Bertahan

Kita sering berpikir bahwa orang yang istiqomah adalah orang yang sempurna. Padahal, bukan itu ukurannya. Istiqomah adalah tentang terus berusaha, meskipun kadang jatuh.

Yang penting bukan tidak pernah salah, tetapi selalu kembali ke jalan yang benar. Sedikit demi sedikit, asal terus dilakukan, itulah yang bernilai di sisi Allah.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan ini, istiqomah memang tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan niat yang kuat, lingkungan yang baik, dan pendidikan yang tepat, setiap orang punya peluang untuk menjaganya.

Pada akhirnya, istiqomah bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang paling mampu bertahan dalam kebaikan. Wallahu a’lam bishawab.*

Pos terkait