Karimun (gokepri.com) – Subandi bersama istrinya Suprapti serta anak perempuannya tengah sibuk mengemas kerupuk kemplang ke dalam kantongan kresek, Jumat 15 Maret 2024.
Suprapti dan anak perempuannya kebagian tugas memasukkan kerupuk ke dalam kantong kresek, sementara Subandi mempacking kerupuk yang sudah tersusun rapi dalam kemasan ukuran sedang.
Pengolahan kerupuk kemplang milik Subandi berada di dapur rumahnya yang disulap menjadi pabrik di RT 02 RW 05, Kampung Sidodadi, Bukit Tembak, Kelurahan Sungai Pasir, Kecamatan Meral, Karimun.
“Kami harus memenuhi pesanan yang sangat banyak untuk dibawa ke Tanjungbatu,” ujar Subandi saat menerima kedatangan media ini di pabriknya itu.
Rencananya, ratusan bungkus kerupuk kemplang itu akan dibawanya ke Tanjungbatu pada Sabtu, 16 Maret 2024 ini.

Subandi menyebut, ketika pesanan lagi banyak, dalam satu hari terkadang dia harus menyiapkan sekitar 1.000 bungkus kerupuk kemplang.
“Terkadang bisa 1.000 bungkus sehari. Cuma badan aja yang tak sanggup mengerjakannya,” tutur pria bertubuh sedang tersebut.
Dia menyebut, produksi kerupuk kemplang miliknya tergantung banyaknya pesanan di supermarket hingga warung-warung yang ada di Tanjungbalai Karimun dan Tanjungbatu.
“Kalau stok kerupuk di semua supermarket mulai menipis, maka mereka mulai menghubungi kami dan segera disiapkan untuk pengemasan,” ungkapnya.
Usaha kerupuk kemplang dengan nama ‘Kerupuk Kemplang 999 Ikan Tenggiri’ tersebut sudah mulai dirintis Subandi sejak 2001 silam.
Kerupuk kemplang miliknya berbahan baku ikan tenggiri, tepung tapioka, telur, garam dan berbagai jenis bahan lainnya.
Ada berbagai jenis varian kerupuk kemplang yang diproduksi Subandi, seperti kerupuk kemplang keriting, kerupuk kemplang kancing dan kerupuk jenis pipih.
Harga yang ditawarkan bervariasi, untuk kerupuk kemplang keriting satu bungkus dijualnya Rp6.000, sementara untuk kerupuk kemplang kancing dan pipih dijualnya mulai dari Rp6.000 hingga Rp10.000.
“Harga jual tergantung ukuran bungkusnya,” ujar Subandi.
Kepandaian membuat kerupuk kemplang itu diperolehnya ketika dia bekerja di pabrik kerupuk milik pengusaha Cina di Palembang sekitar tahun 1990-an.
“Sekitar tahun 90-an saya bekerja di pabrik kerupuk milik orang Cina di Palembang,” katanya.
Berbekal pengalamannya itu, Subandi mulai membuka usaha kerupuk kemplang sendiri di rumahnya kawasan Bukit Tembak tersebut pada 2001.
Seiring berjalannya waktu, usaha kerupuknya makin berkembang. Namun, Subandi mulai terbentur masalah modal. Dia kemudian mendapat bantuan pinjaman dari BRI melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Usaha mulai berkembang dan saya mengalami kekurangan modal, akhirnya kami mendapat pinjaman melalui KUR sebesar Rp25 juta. Hanya saja, saya lupa tahun berapa kami dapat dana KUR itu,” kata Subandi.
Menurut dia, pinjaman dari BRI itu kemudian digunakan untuk menambah kapasitas produksi serta peralatan penunjang lainnya.
Saat ini, kemasan kerupuk kemplang milik Subandi sudah terdaftar dengan no registrasi P-IRT No.2.02.2101.08.0657.24 dan bersertifikat Halal Indonesia.
Terpisah, Kepala BRI Unit Tanjungbalai Karimun, Herbeth Nababan mengatakan, hampir seluruh UMKM di Karimun memanfaatkan KUR sebagai bantuan modal usahanya.
“UMKM yang bisa memperoleh pinjaman KUR BRI memiliki omset di bawah Rp500 juta,” ujar Herbeth.
Menurut dia, KUR dibagi atas tiga bagian yakni KUR Mikro yang dikelola oleh BRI dan Pegadaian, kemudian KUR Kecil dan KUR Retail yang bisa dikelola oleh semua bank.
Penulis: Ilfitra









