Batam menjadi tuan rumah Women’s Series. Turnamen menguji kesiapan menuju Asian Games.
BATAM (gokepri) — Batam kembali menjadi panggung olahraga internasional dengan menjadi tuan rumah Women’s Series Batam Stop 2026 pada 23-24 Juli di Alun-Alun Engku Putri.
Turnamen bola basket 3×3 itu bukan hanya menghadirkan persaingan antartim dunia, tetapi juga menjadi arena penting bagi tim nasional putri Indonesia untuk mengukur kesiapan menuju Asian Games 2026.
Baca Juga: Perbasi Kepri Gelar Pelatihan Pelatih Basket, Hadirkan Instruktur IBL dan Eks Pelatih Timnas
Kepercayaan menjadi tuan rumah menunjukkan semakin besarnya peran Batam dalam penyelenggaraan ajang olahraga internasional. Selain mendatangkan atlet dari berbagai negara, turnamen ini memberi kesempatan bagi Indonesia mengasah kemampuan menghadapi persaingan di level dunia tanpa harus bertanding di luar negeri.
Asisten Pelatih Timnas Bola Basket 3×3 Putri Indonesia Andrie Ekayana mengatakan, tim membawa bekal evaluasi dari Women’s Series Xiantao Stop di China yang berlangsung pada 4-5 Juli. Hasil turnamen tersebut menjadi acuan untuk memperbaiki kualitas permainan.
“Berkat pelajaran berharga dari Xiantao, kami jadi tahu bahwa tim masih jauh dari standar Women’s Series, baik fisik, skill, ataupun taktik,” ujar Andrie di Jakarta, Senin (20/7).
Menurut pelatih yang akrab disapa Coach Yayan itu, Women’s Series Batam Stop menjadi kesempatan untuk membenahi berbagai kekurangan sebelum menghadapi turnamen berikutnya. Evaluasi akan terus berlanjut sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 3 Oktober.
Setelah Batam, tim dijadwalkan mengikuti Women’s Series di Tokyo. Tim pelatih juga berharap masih memperoleh kesempatan tampil dalam satu seri internasional lagi sebelum berangkat ke Asian Games.
“Setelah Batam Stop masih ada kejuaraan di Tokyo dan kami berharap juga mendapatkan satu seri lagi sebelum berangkat ke Asian Games 2026,” kata Andrie.
Untuk turnamen di Batam, tim pelatih mempertahankan empat pemain yang tampil pada seri Xiantao. Komposisi tersebut dinilai penting agar kekompakan dan pemahaman antarpemain terus berkembang.
Empat pemain yang memperkuat Indonesia ialah Diva Intan Nur Fadillah dari GMC Cirebon, Thasya Hery Saputera dari Surabaya Fever, Lidwina Ruth Riratri Dwi Saputri dari SPARTAN Yogyakarta, dan Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma Dewi dari GMC Cirebon.
Tim akan dipimpin pelatih kepala Deny Sartika dengan dukungan manajer tim Hendry Linanda.
Pelatihan di Batam
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) menggelar pelatihan khusus untuk pelatih bola basket 3×3 di tiga tempat di Kota Batam, Kepulauan Riau, guna meningkatkan kompetensi pelatih dan pembinaan.
Ketua Badan 3×3 DPP Perbasi Santiyani, di Jakarta, Sabtu, menjelaskan kegiatan yang bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan didukung oleh Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) itu dilaksanakan di Harmoni One Convention Hotel, Hi-Test Arena Batam, dan Alun-Alun Engku Putri Batam, mulai 21-26 Juli 2026.
“Kegiatan itu bertujuan meningkatkan kompetensi dan kapasitas pelatih bola basket 3×3 di Indonesia sehingga selaras dengan standard internasional. Kami bersyukur mendapatkan respons positif karena sejalan dengan program Kemenpora,” katanya.
Perempuan yang kerap disapa Naniek itu menjelaskan, dua instruktur dari FIBA didatangkan untuk menjadi pengisi materi. Mereka adalah Gilles Martin yang merupakan mantan pebasket profesional 3×3 dan mantan pelatih Tim Laosuanne serta Karim Souchu yang menjadi pelatih timnas 3×3 Prancis saat meraih perak dalam Olimpiade Paris 2024.
Pelatihan tersebut ditujukan untuk 48 pelatih yang telah melewati sejumlah persyaratan dan mengikuti mekanisme pendaftaran dari Perbasi.
Naniek mengatakan panitia penyelenggara telah menyediakan sejumlah fasilitas secara gratis kepada mereka yang telah terpilih untuk mengikuti pelatihan.
Persyaratan utamanya, tambah dia, yakni peserta harus warga negara Indonesia (WNI) dan berstatus sebagai pelatih bola basket 3×3, memiliki lisensi sebagai pelatih basket 3×3, atau minimal lisensi yang ditetapkan oleh DPP Perbasi, serta mengantongi surat rekomendasi dari Dewan Pengurus Daerah Perbasi terkait.
Naniek mengimbau agar DPD Perbasi di setiap provinsi segera menjaring, menyeleksi, dan mengirimkan rekomendasi calon pelatih terbaik guna mengikuti kegiatan tersebut.
“Ini demi mendukung peningkatan prestasi bola basket 3×3 nasional,” ujar Naniek. ANTARA
Baca Juga: Bangun Ekosistem Basket, Perbasi Kepri Fokus Regenerasi Wasit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









