Batam dan Bintan Targetkan 50 Persen Warga Divaksin Covid-19 Hingga Juni

Gubernur Kepri Ansar Ahmad
Gubernur Kepri Ansar Ahmad

Batam (gokepri.com) – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad memperkirakan vaksinasi Covid-19 di Kota Batam dan Kabupaten Bintan mencapai 50 persen hingga akhir Juni. Saat ini vaksinasi baru menjangkau sekitar 15,8 persen dari target 1.476.091 penduduk di tujuh kabupaten/kota di Kepri.

“Sampai akhir Juni, Batam dan Bintan diperkirakan bisa mencapai vaksinasi masing-masing 50 persen. Kita juga sudah menambah tenaga vaksinator baru. Tidak hanya untuk vaksinasi umum, tapi juga untuk persiapan vaksinasi gotong royong,” katanya dalam video conference rapat pelaksanaan vaksinasi di Bali, Batam, dan Bintan, Selasa (8/6/2021).

Ansar menjelaskan, Kepri memiliki 67 sentra vaksinasi dengan total vaksin 75.910 vial. Sebanyak 21 di antaranya adalah sentra vaksinasi permanen di Batam dan 10 sentra vaksinasi di Bintan.

Sisa vaksin di Batam sebanyak 5.213 vial dan Bintan 2.150 vial. Karena vaksinasi dilaksanakan secara masif, diperkirakan dalam waktu satu minggu, stok vaksin di Batam dan Bintan akan habis. Ansar berharap pemerintah pusat segera mengirimkan tambahan vaksin.

“Di Batam vaksinasi sudah mencapai 15,6 persen, sedangkan di Bintan 23,5 persen,” jelasnya.

Menko Perekonomian Airlangga Hantanto berharap sektor ekonomi kreatif, pariwisata, dan pekerja migran dapat didorong dengan diprioritaskannya vaksinasi Covid-19 di Bali, Batam dan Bintan. Tujuannya adalah herd immunity di ketiga pulau tersebut dapat cepat terbentuk, karena selain pariwisata, terutama Batam dan Bintan merupakan sentra Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Kita berharap ketiga daerah tersebut dapat divaksinasi lebih awal, sehingga pemerintah dapat mendorong Travel Bubble di daerah tersebut. Kita akan mendorong Nusa Dua di Bali dan Lagoi di Bintan untuk dapat memiliki kesiapan seperti Phuket di Thailand,” kata Menko Airlangga saat memimpin rapat tersebut.

Menparekraf Sandiaga Uno menyampaikan, tenaga kerja pariwisata dan ekonomi kreatif, per Selasa (8/6), yang tersentuh program vaksinasi masih di bawah 3 persen. Adapun rencana tindak lanjut Kementerian Parekraf untuk mendorong vaksinasi adalah memprioritaskan tenaga kerja parekraf di Bali, Batam dan Bintan yang sangat terdampak kontraksi ekonominya.

“Sesuai arahan Presiden, vaksinasi harus ditingkatkan secara holistik agar dua destinasi ini mencapai herd immunity untuk memulihkan ekonomi kreatif” kata Menteri Sandiaga.

Sekjen Kemenkes drg. Oscar Primadi mengatakan, Pemprov Bali dan Kepri tidak perlu khawatir kebutuhan vaksin. Karena akan didistribusikan secara cepat.

“Di Kepri, khususnya Batam dan Bintan, kebutuhan-kebutuhan yang rencananya dalam 1 minggu menyelesaikan targetnya akan segera dikirimkan. Alhamdulillah Kepri termasuk provinsi yang laju penyuntikannya cepat di Indonesia. Semangat ini akan mempercepat pemulihan di segala bidang,” kata Oscar.

Keamanan dan Khasiat Vaksin

dr. Olivi Silalahi MSc, Immunization Officer WHO Indonesia menyampaikan, vaksin Covid-19 yang digunakan di dunia termasuk di Indonesia telah melewati serangkaian tahapan evaluasi sebelum digunakan. Keamanan dan khasiat vaksin Covid-19 menjadi faktor utama yang diperlukan sehingga organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memberikan izin penggunaan darurat terhadap vaksin Covid-19 yang akan digunakan.

Pada pertengahan 2020 WHO sudah memberikan arahan bahwa vaksin Covid-19 perlu memiliki persyaratan minimal untuk mendapatkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Listing) dari WHO. “Hal ini demi memastikan vaksin Covid-19 yang digunakan di dunia aman, efektif, dan terpenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan,” terangnya dalam Dialog Produktif yang diselenggarakan KPCPEN, Selasa (8/6).

Delapan vaksin Covid-19 yang masuk dalam daftar EUL termasuk Sinovac, telah melalui proses uji yang cukup panjang. Para ahli betul-betul memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam uji vaksin Covid-19 ini agar bisa digunakan oleh masyarakat.

“Produsen vaksin harus memasukkan data-data awal yang kemudian ditinjau dan dinilai oleh grup ahli independen (independent expert panel). Proses penilaian inilah yang nantinya akan memberikan rekomendasi final untuk pemberian izin penggunaan darurat vaksin Covid-19,” ungkap dr. Olivi.

Data-data yang ditinjau oleh para ahli ini berhubungan dengan efikasi keamanan hingga cara pembuatan obat yang baik (good manufacturing process). Alasan utama kenapa kita memerlukan vaksin Covid-19 untuk mengendalikan pandemi ini disampaikan oleh Prof. dr. Pratiwi P. Sudarmono, Guru Besar Mikrobiologi Klinik, FKUI.

“Untuk virus Covid-19 ini yang tergolong virus baru, memang belum ada obatnya. Maka satu-satunya cara yang bisa menghentikan pandemi ini adalah, dengan menggunakan vaksin,” terangnya.

Prof. Pratiwi menambahkan, “Vaksin adalah satu-satunya mekanisme yang dengan cepat menurunkan insiden sekaligus mengurangi risiko kematian dan risiko sakit berat akibat tertular virus Covid-19.”

Prof. Pratiwi mengapresiasi langkah pemerintah yang telah melakukan program vaksinasi Covid-19 secara sistematis dan memprioritaskan golongan masyarakat yang paling berisiko terkena dampaknya untuk lebih dahulu mendapatkan vaksin ini. Untuk memenuhi target vaksinasi nasional, Bio Farma yang diberikan tugas untuk mengadakan vaksin Covid-19 juga telah melancarkan strategi agar kebutuhan vaksin Covid-19 Indonesia terpenuhi dalam waktu singkat.

“Bio Farma mengimpor vaksin Sinovac dalam bentuk setengah jadi (bulk). Karena apabila kita mengimpor dalam bentuk jadi, ada keterbatasannya. Sementara kalau dalam bentuk setengah jadi maka kita akan bisa mendatangkan bahan lebih cepat,” terang dr. Mahsun Muhammadi, MKK, Kepala Divisi Ritel dan Pelayanan Bio Farma.

Selain untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan lebih cepat, sistem pengadaan vaksin Covid-19 dalam bentuk bulk dinilai akan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk segera memproduksi vaksin Covid-19 mandiri. “Strategi jangka panjangnya, Indonesia pada akhirnya mampu
menciptakan vaksin dari awal sampai akhir. Tentunya Bio Farma sendirian tidak sanggup, apabila kita bergotong royong dengan berbagai lembaga penelitian dan institusi perguruan tinggi kita mampu mengembangkan vaksin merah putih yang 100% buatan Indonesia,” kata Mahsun.

Selain itu, dr. Mahsun juga mengakui bahwa Badan POM Indonesia sangat ketat dalam mengawal seluruh proses uji klinis vaksin Covid-19 agar bisa memastikan keamanan dan khasiatnya saat digunakan kepada masyarakat. “Masyarakat perlu menghilangkan kecurigaan adanya efek samping atau keraguan dalam kualitas vaksin Covid-19. Sistem kesehatan Indonesia sebenarnya sudah siap untuk menjalankan program vaksinasi berskala besar,” katanya. (zak)

Pos terkait