Badut Syariah dan Guru Ngaji dari Tangerang

Badut Syariah
Yahya Edward Hendrawan, guru ngaji panti asuhan sedang merias wajahnya menjadi badut di perpustakaan panti asuhan, 21 April 2021. (foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Tangerang (gokepri.com) – Bagi Yahya Edward Hendrawan, belajar Alquran tidak harus dengan cara yang serius. Guru ngaji ini punya cara unik menginspirasi anak-anak agar membaca Alquran dengan ceria; berpakaian seperti badut. Metode yang sulit diterima oleh sang Ayah.

Mengenakan kostum badut warna-warni, riasan putih dan merah di wajah, serta hidung, Yahya mengajarkan anak-anak membaca Alquran dengan fasih. Dijuluki “Badut Syariah”, guru di panti asuhan ini fokus mengajar studi Islam selama bulan suci Ramadhan.

“Kalau kita minta anak mengaji, agak sulit. Tapi kalau ada badut, mereka merasa masuk ke kelas dengan suatu tujuan, ” kata Hendrawan kepada Reuters.com, Selasa 11 Mei 2021.

Pria berusia 38 tahun itu ke panti asuhan setiap hari selama Ramadhan bersama putranya yang berusia lima tahun, Mirza. Ia berpakaian seperti badut dengan kacamata besar dan wig dengan rambut kuning dan oranye.

Keduanya biasanya menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk merias wajah sebelum bertemu dengan anak-anak, termasuk yang berasal dari kelompok membaca komunitas.

Jalan Hendrawan untuk menjadi “badut syariah” tidaklah mudah. Ayahnya, yang sudah meninggal dunia, tidak bisa terima dengan metodenya, dan biasa mengatakan kepada Hendrawan bahwa dia memalukan.

“Perilakunya sangat menyakiti saya, rasanya hati saya diiris-iris,” kata Hendrawan.

Namun dorongan dari pendiri panti asuhan tersebut, membuat Hendrawan percaya diri untuk mengejar mimpinya mengajar sebagai badut.

Hendrawan sekarang mengambil pekerjaan ini paruh waktu dan bersikeras memasukkan nilai-nilai agama dan program keaksaraan dalam penampilannya.

Antusiasmenya untuk mengajar dan menghibur anak-anak telah membuatnya mendapat pujian di masyarakat.

“Ia membantu anak-anak membangun minat baca, yang akan mengurangi waktu bermain dengan ponsel atau gadget, dan berdampak luar biasa pada perkembangan mereka,” kata Junaedi, orang tua anak yang mengikuti kelas membaca Hendrawan, yang menyukai banyak orang. (Can/Reuters.com)

BAGIKAN