JAKARTA (gokepri.com) – AlQur’an juga berbicara tentang salah satu pembentuk keluarga ideal yaitu anak-anak. Seperti Apakah anak-anak yang dikehendaki AlQur’an?
Anak yang dikehendaki AlQur’an adalah anak yang karakter dan keteladanannya tercermin dalam tiga nabi Allah, yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Yusuf alaihimussalam. Penjelasannya sebagai berikut ini:
1. Nabi Ibrahim AS, berbakti dalam keadaan menghadapi kekasaran dan penolakan
Anak yang dikehendaki AlQur’an adalah Nabi Ibrahim AS.
Ayahnya seorang kafir yang bersikap keras. Ia bahkan membuat berhala dengan tangannya sendiri.
Tidak hanya itu, ayahnya juga mengancam akan merajam dan mengusir putranya yang seorang nabi. Ia berkata:
لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
“Dia (bapaknya) berkata, ‘Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, niscaya engkau akan kurajam. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.’” (QS Maryam: 46)
Namun, Nabi Ibrahim tidak membalas dengan sikap kasar dan tidak durhaka kepada ayahnya. Sebaliknya, beliau menjawab dengan penuh kesantunan dan kasih sayang:
قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’” (QS Maryam 47).
AlQur’an menghendaki seorang anak yang tetap berbakti kepada ayahnya meskipun sang ayah bersikap kasar, serta tetap merendahkan hati di hadapannya meskipun ia diperlakukan dengan keras.
2. Nabi Ismail AS, berbakti dalam Ujian dan Pengorbanan
Anak yang dikehendaki AlQur’an adalah Nabi Ismail AS.
Ayahnya yang telah lanjut usia datang membawa ujian yang begitu berat, hingga seakan-akan mampu mengguncang gunung. Sang ayah berkata kepadanya:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’” [QS. As-Saffat: 102]
Nabi Ismail tidak mengeluh dan tidak melarikan diri. Sebaliknya, beliau menyerahkan dirinya untuk dikorbankan demi menaati Allah dan memenuhi perintah-Nya yang disampaikan melalui sang ayah. Dengan keteguhan dan keyakinan, beliau menjawab:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.’” [QS As-Saffat: 102]
AlQur’an menghendaki seorang anak yang membantu ayahnya dalam ketaatan kepada Allah, serta bersedia mengorbankan jiwa dan raganya ketika menghadapi kesulitan dan cobaan.
3. Nabi Yusuf AS, berbakti dalam keadaan kaya dan memiliki kedudukan
Anak yang dikehendaki AlQur’an adalah Nabi Yusuf AS.
Beliau berpisah dari ayahnya, Nabi Ya’qub AS, selama bertahun-tahun. Dalam perjalanan hidupnya, beliau merasakan pahitnya perbudakan dan penjara.
Namun, ketika keadaan berubah dan beliau menjadi Aziz Mesir, pemegang kekuasaan dan perbendaharaan negeri, beliau tidak melupakan ayahnya.
Ketika sang ayah datang dengan pakaian sederhana dan penampilan khas kehidupan pedesaan, Nabi Yusuf tidak merasa malu terhadap ayahnya di hadapan para pengawal dan pejabat kerajaan.
Sebaliknya, beliau menyambutnya dengan penuh kerinduan dan menunjukkan penghormatan serta kemuliaan kedua orang tuanya di hadapan dunia. Alquran mengabadikan sikap tersebut dalam firman-Nya:
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ
“Dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana.”
AlQur’an menghendaki seorang anak yang ketika Allah mengangkat derajatnya, memberinya kekayaan, dan menganugerahinya kedudukan, ia justru semakin merendahkan hati di hadapan ayah dan ibunya. Ia menjadikan kekuasaan, kehormatan, dan kedudukannya sebagai sarana untuk memuliakan keduanya.
Kesimpulannya, anak yang dikehendaki Alquran adalah anak yang bersabar menghadapi kekasaran ayahnya seperti Nabi Ibrahim, rela berkorban demi ketaatan kepada Allah seperti Nabi Ismail, dan mengangkat derajat serta memuliakan kedua orang tuanya di singgasana kemuliaannya seperti Nabi Yusuf.
Ia tidak merasa berhak meninggikan suara ataupun menyombongkan diri di hadapan kedua orang tuanya. Sebaliknya, ia menghadirkan kasih sayang, kerendahan hati, dan ketundukan dalam memperlakukan mereka.*
(sumber: republika.co.id)







