Apa Dampak Ketegangan Indonesia-Singapura bagi Investor?

Kapal melintas di perairan antara Singapura dan Batam yang menjadi bagian jalur logistik internasional.
Aktivitas kapal di perairan Batam dan Singapura. Pemerintah Singapura mengusulkan perluasan kerja sama transportasi dan logistik hingga Batam-Bintan sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas kawasan ASEAN. Foto: AFP

Apindo menilai hubungan bilateral tak menggoyahkan investasi riil. Kepastian usaha tetap menjadi pertimbangan investor.

JAKARTA (gokepri) – Dinamika hubungan Indonesia-Singapura belum menjadi faktor utama yang mengganggu investasi sektor riil. Apindo menilai investor jangka panjang lebih mempertimbangkan kepastian iklim usaha dan kemudahan berinvestasi di Indonesia.

Hubungan Indonesia-Singapura memanas seiring dengan kebakaran hutan di Tanah Air. Indonesia kemudian sejak 24 Oktober mengurangi pasokan gas ke Singapura sebesar 31 BBTud.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, hubungan ekonomi kedua negara telah terjalin lama. Karena itu, perbedaan kepentingan di antara keduanya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi dan dialog.

Menurut Shinta, dampak dinamika hubungan bilateral kemungkinan lebih terasa pada sentimen pasar modal. Sementara itu, kegiatan usaha di sektor riil cenderung bertumpu pada pertimbangan jangka panjang.

“Kalau dari segi sektor riilnya, mestinya tidak akan terlalu berpengaruh. Mungkin ada sentimennya, tetapi ini lebih kita kaitkan dengan pasar modal,” kata Shinta saat ditemui dalam Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga: Singapura Minta Tanggung Jawab Korporasi atas Kabut Asap

Investor sektor riil memiliki pertimbangan berbeda dengan pelaku pasar modal. Mereka menanamkan modal untuk menjalankan usaha dalam jangka panjang sehingga lebih memperhatikan kondisi dan prospek iklim usaha di negara tujuan.

Shinta mengatakan, investor akan tetap mencermati berbagai faktor yang memengaruhi keberlanjutan usaha di Indonesia. Faktor tersebut antara lain kepastian berusaha dan kondisi ekonomi yang mendukung kegiatan investasi.

“Investor dunia usaha akan tetap melihat pandangannya dari segi iklim usaha di Indonesia,” ujar Shinta.

Ads bp batam 2026 baru

Ia merujuk pada investasi sektor riil yang berada dalam pengawalan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal. Menurut dia, dinamika hubungan bilateral tidak serta-merta mengubah pertimbangan investor yang sudah menanamkan modal untuk jangka panjang.

Apindo Sambut Diplomasi Indonesia-Singapura

Di tengah dinamika hubungan kedua negara, Shinta menyambut langkah diplomasi pemerintah Singapura. Salah satunya melalui kunjungan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan untuk bertemu langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat meredakan situasi sekaligus membuka ruang dialog untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi kedua negara.

“Hubungan kita dengan Singapura sudah lama. Tentu mengalami jatuh bangun, tetapi mereka sudah mengirimkan Menlu ke sini dan bertemu langsung dengan Presiden. Harapan kami, ini bisa menenangkan suasana,” kata Shinta.

Ia meyakini hubungan bilateral yang telah terjalin lama memberi ruang bagi Indonesia dan Singapura untuk mencari solusi bersama. Perbedaan kepentingan, menurut dia, tidak seharusnya menghalangi komunikasi kedua negara.

Terlepas dari dinamika hubungan bilateral, Apindo meminta pemerintah tetap memprioritaskan persoalan mendasar yang memengaruhi kegiatan usaha. Sejumlah pekerjaan rumah tersebut mencakup kemudahan berusaha, deregulasi, dan penyelesaian hambatan investasi atau debottlenecking.

Shinta menilai persoalan struktural itu lebih dekat dengan kebutuhan pelaku usaha dalam menjalankan dan mengembangkan perusahaan. Karena itu, pemerintah perlu terus membenahi aturan serta mengatasi hambatan yang menghambat investasi.

“Kita harus fokus pada kemudahan berusaha, memperbaiki deregulasi, dan debottlenecking. Ini yang terus kami kejar,” ujarnya.

Apindo, lanjut Shinta, akan terus menyampaikan masukan kepada pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha. Organisasi pengusaha itu juga mendorong penyelesaian berbagai hambatan agar investasi yang sudah berjalan dapat terus berlanjut.

“Banyak sekali pekerjaan rumah yang mesti kita selesaikan. Kami akan tetap memberikan masukan, mendorong deregulasi, dan debottlenecking,” kata Shinta. ANTARA

Baca Juga: Kabel Internet Indonesia dan Singapura Saling Bergantung

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait