BATAM (gokepri) – Sebanyak 202 inovasi masuk dalam Batam Innovation Award (BIA) 2026. Jumlah itu lebih banyak dari tahun lalu dan menunjukkan semakin banyak perangkat pemerintah serta sekolah di Batam mencari cara baru untuk memperbaiki pelayanan.
Namun, banyaknya inovasi belum cukup. Pemerintah Kota Batam kini ingin gagasan tersebut terus berkembang dan memberi manfaat setelah penghargaan selesai.
Puncak BIA 2026 berlangsung di Auditorium Politeknik Negeri Batam, Kamis (10/9/2026). Pada acara yang sama, Pemko Batam meluncurkan Batam Policy Lab yang disiapkan sebagai ruang untuk merumuskan kebijakan berdasarkan riset dan data.
Baca Juga: Mengenal Garuda Spark Innovation Hub yang Diluncurkan Komdigi
Policy Lab menjadi bagian penting dari perubahan arah tersebut. Jika BIA memberi ruang bagi aparatur untuk menemukan gagasan baru, Policy Lab diharapkan membantu pemerintah menguji gagasan itu sebelum menjadi kebijakan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Batam Efrius mengatakan partisipasi BIA tahun ini meningkat cukup besar. Pada 2025, terdapat 118 inovasi dari 78 pengusul, sedangkan tahun ini jumlahnya mencapai 202 inovasi dari 180 pengusul.
Peserta datang dari berbagai lingkungan pemerintahan dan pendidikan. Mereka terdiri atas 32 perangkat daerah, 22 UPTD, 24 SMP, 24 SD, dan enam kelurahan.
Dari 202 inovasi tersebut, 106 berbasis digital dan 96 lainnya menggunakan pendekatan nondigital. Seluruh karya itu akan masuk dalam Buku Kumpulan Inovasi Jilid 2.
Kenaikan jumlah tersebut memperlihatkan semakin luasnya ruang inovasi di lingkungan Pemko Batam. Persoalannya sekarang bukan lagi sekadar mencari gagasan, tetapi menjaga agar gagasan itu tetap digunakan dan terus diperbaiki.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengingatkan hal tersebut saat membuka BIA 2026. Menurut dia, birokrasi tidak bisa terus mengandalkan cara kerja lama ketika kebutuhan masyarakat berubah cepat. “Tanpa inovasi kita akan sangat lambat dan tidak responsif,” kata Amsakar.
Bagi Amsakar, inovasi harus punya manfaat yang jelas. Sebuah gagasan tidak cukup hanya tampil dalam perlombaan atau menghasilkan dokumen penghargaan. “Setelah ini harus terus dimodifikasi, dikembangkan, dan diimplementasikan secara konsisten,” ujarnya.
Salah satu contoh inovasi yang mendapat penghargaan tahun ini adalah eBPHTB 2.0 milik Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Batam. Inovasi tersebut meraih juara pertama kategori Inovasi Digital Terbaik karena mengintegrasikan pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Digitalisasi pelayanan juga terlihat pada sejumlah kebijakan Pemko Batam lainnya. Pemerintah menggunakan Indonesia Batam Online Single Submission (I-Boss) untuk mendukung layanan perizinan dan tapping box untuk membantu pengawasan penerimaan pajak daerah.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perubahan seperti itu lebih mudah dirasakan dibandingkan istilah inovasi itu sendiri. Proses layanan yang lebih sederhana, data yang lebih terhubung, atau pengawasan penerimaan yang lebih baik menjadi ukuran apakah sebuah inovasi benar-benar berguna.
Amsakar mengaitkan perubahan tata kelola tersebut dengan perkembangan ekonomi Batam. Ia menyebut realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 sekitar Rp35 triliun dan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,25 persen.
Capaian ekonomi itu menjadi salah satu alasan pemerintah terus mendorong pembaruan birokrasi. Ketika aktivitas usaha dan kebutuhan layanan bertambah, pemerintah membutuhkan sistem yang mampu bergerak lebih cepat.
Dorongan tersebut tidak hanya terlihat dalam BIA. Batam juga meningkatkan jumlah inovasi yang didaftarkan dalam Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.
Tahun ini Batam mendaftarkan 154 inovasi dalam IGA. Jumlah tersebut naik tajam dari 41 inovasi pada tahun sebelumnya.
Di tingkat daerah, BIA 2026 membagi penghargaan ke dalam tujuh kategori. Kategorinya mencakup inovasi digital, inovasi nondigital, OPD, UPT, kelurahan, SMP, serta SD dan TK.
Penilaian melibatkan enam juri independen dari unsur akademisi dan instansi. Mereka ialah Ira Warnaini dari Bapperida Provinsi Kepulauan Riau, Sri Langgeng Ratnasari dari Universitas Riau Kepulauan, Hertianti dari Universitas Ibnu Sina, Bambang Satriawan dari Universitas Batam, Andi Triwinarko dari Politeknik Negeri Batam, serta Happy Hepri Ariyanto dari Universitas Internasional Batam.
Pada kategori Inovasi Digital Terbaik, Bapenda Kota Batam meraih juara pertama melalui eBPHTB 2.0: Pengelolaan BPHTB Terintegrasi untuk Peningkatan Layanan Pajak. Juara kedua diraih UPT Puskesmas Sei Lekop melalui PANTURA SEHARI, sedangkan juara ketiga diraih UPT Puskesmas Tiban Baru melalui KONSER DIVA.
Juara harapan pertama kategori tersebut diraih UPT Puskesmas Baloi Permai melalui Bunda SMART Baper. Penghargaan ini menunjukkan inovasi digital tidak hanya berkembang di sektor administrasi, tetapi juga pelayanan kesehatan.
Pada kategori Inovasi Non-Digital Terbaik, SMP Negeri 12 Batam meraih juara pertama melalui PREMIS (Program Tahfidz Berprestasi dengan Moderasi di Sekolah). Juara kedua diraih UPT Puskesmas Sei Lekop melalui KUFAS TUNTAS, sedangkan juara ketiga diraih SMP Negeri 3 Batam melalui AKSARA (Aktivitas Kreasi Sains Asyik Ramah Anak).
Bapenda Kota Batam meraih juara harapan pertama melalui SI BIJAK GO!. Kategori ini memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan aplikasi atau teknologi digital.
Pada kategori OPD Terinovatif, Bapenda Kota Batam menjadi juara pertama. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam meraih juara kedua, Kecamatan Nongsa juara ketiga, dan Bappeda Kota Batam juara harapan pertama.
Untuk kategori UPT Terinovatif, juara pertama diraih UPT Puskesmas Lubuk Baja. UPT Puskesmas Sekupang meraih juara kedua, UPT Puskesmas Tiban Baru juara ketiga, dan UPT Puskesmas Sei Lekop sebagai juara harapan pertama.
Kategori Kelurahan Terinovatif menempatkan Kelurahan Kampung Pelita sebagai juara pertama. Kelurahan Rempang Cate meraih juara kedua, Kelurahan Baloi Permai juara ketiga, dan Kelurahan Sungai Panas juara harapan pertama.
Pada kategori SMP Terinovatif, SMP Negeri 29 Batam meraih juara pertama. SMP Negeri 20 Batam berada di posisi kedua, SMP Negeri 12 Batam posisi ketiga, dan SMP Negeri 3 Batam sebagai juara harapan pertama.
Sementara itu, SD Negeri 006 Batu Aji menjadi juara pertama kategori SD dan TK Terinovatif. SD Negeri 009 Sungai Beduk meraih juara kedua, SD Negeri 005 Nongsa juara ketiga, dan SD Negeri 012 Sekupang sebagai juara harapan pertama.
Setiap pemenang menerima piagam penghargaan dan dana pembinaan. Juara pertama mendapat Rp10 juta, juara kedua Rp8 juta, juara ketiga Rp6 juta, dan juara harapan pertama Rp4 juta.
Di tengah bertambahnya jumlah inovasi tersebut, Batam Policy Lab membawa tantangan yang berbeda. Wadah ini perlu memastikan riset dan data benar-benar masuk ke dalam proses pemerintah ketika menentukan kebijakan.
Brida Kota Batam memprakarsai Policy Lab sebagai inovasi tata kelola nonstruktural. Wadah ini dirancang untuk mempertemukan kebutuhan kebijakan dengan riset dan data terpadu.
Pemerintah ingin memiliki ruang untuk melihat masalah berdasarkan data, mencari pilihan solusi, kemudian menggunakan hasil kajian tersebut sebagai dasar ketika menyusun kebijakan.
Cara tersebut juga dapat membantu pemerintah membedakan inovasi yang sekadar menarik dari inovasi yang benar-benar berguna. Sebuah program bisa terlihat baru, tetapi manfaatnya tetap perlu diuji dari hasil yang muncul setelah diterapkan.
Amsakar berharap semangat tersebut menyebar ke seluruh aparatur Pemko Batam. Ia juga mengajak Forkopimda dan masyarakat ikut mendukung budaya inovasi agar Batam mampu bersaing di tingkat nasional.
Baca Juga: Inovasi Digital Tak Lagi Boleh Berpusat di Kota Besar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








