Pabrik Timah STANIA Mulai Pasok Industri Elektronik

Pabrik timah stania batam
PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha PT Arsari Tambang, menggandeng Singapore Asahi Chemical & Solder Industries Pte. Ltd. (Asahi Solder) untuk memperkuat hilirisasi timah Indonesia melalui pengembangan produk solder bernilai tambah dan perluasan akses pasar industri elektronik. (foto: engesti/gokepri)

BATAM (gokepri) – Pabrik timah di Batam mulai diolah menjadi bahan untuk industri elektronik. Salah satunya adalah solder paste, pasta solder yang dipakai untuk merakit komponen elektronik dan ditargetkan menembus pasar ekspor pada 2027.

Pengembangan produk ini berlangsung melalui kerja sama PT Solder Team Andalan Indonesia (STANIA) dengan Asahi Solder. Bagi BP Batam, kerja sama tersebut menunjukkan bahwa pengolahan timah di Batam mulai menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari hilirisasi timah di Batam. “Hilirisasi timah tidak lagi berhenti pada material, tetapi sudah masuk ke tahap pengolahan menjadi produk yang dibutuhkan industri,” kata Ariastuty di Batam, Jumat 11 September 2026.

Baca Juga: Diresmikan Hashim, Pabrik Solder STANIA di Batam Mulai Produksi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solder paste merupakan bahan yang membantu menghubungkan komponen elektronik pada papan sirkuit. Produk ini banyak digunakan dalam proses perakitan perangkat elektronik sehingga kebutuhannya berkaitan langsung dengan perkembangan industri manufaktur elektronik.

Batam kini tidak hanya menjadi tempat masuk dan keluarnya berbagai produk industri. Kota ini juga mulai mengembangkan pengolahan bahan menjadi produk yang dapat digunakan kembali oleh industri lain.

Menurut Ariastuty, bahan timah untuk produk tersebut berasal dari luar Batam. Material itu kemudian masuk ke Batam untuk diolah sebelum hasilnya dikirim ke pasar luar negeri.

“Materialnya didatangkan dari luar, masuk di Batam, lalu diolah dan diekspor ke luar,” ujar Ariastuty.

Bp batam banner link sep 2027

Pola tersebut menjadi bentuk hilirisasi karena timah tidak langsung dijual sebagai material. Pengolahan di Batam menghasilkan produk yang lebih spesifik dan memiliki fungsi bagi industri elektronik.

BP Batam memperkirakan ekspor solder paste dapat mencapai lebih dari 100 ton pada 2027. Target tersebut menunjukkan adanya peluang peningkatan produksi sekaligus perluasan pasar untuk produk berbasis timah dari Batam.

Bagi Batam, munculnya produk seperti solder paste juga memperluas jenis industri yang dapat berkembang di kawasan tersebut. Diversifikasi produk penting karena semakin banyak jenis manufaktur berarti semakin beragam pula aktivitas industri dan kebutuhan rantai pasoknya.

Pengembangan solder paste juga berkaitan dengan rencana membangun industri teknologi di Indonesia. STANIA merupakan bagian dari Arsari Tambang yang berfokus pada industri solder dan material pendukung elektronik.

Direktur Utama Arsari Tambang sekaligus Wakil Presiden Direktur Arsari Group Aryo P. S. Djojohadikusumo mengatakan kebutuhan material pendukung akan semakin besar seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Menurut dia, ekosistem AI membutuhkan industri pendukung selain pusat komputasi dan jaringan internet.

“Tahun ini kami juga sedang membangun pabrik pertama di Indonesia untuk GPU assembling,” kata Aryo.

Pabrik tersebut disiapkan untuk merakit Graphics Processing Unit atau GPU dari mitra seperti Nvidia dan AMD. GPU menjadi salah satu komponen penting dalam sistem komputasi yang mendukung berbagai kebutuhan AI.

Rencana perakitan GPU itu memberi konteks lebih luas bagi pengembangan material elektronik di dalam negeri. Industri perakitan membutuhkan berbagai bahan pendukung agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Karena itu, kerja sama STANIA dengan Asahi Solder diarahkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam menyediakan material bagi industri elektronik. Asahi Solder memiliki pengalaman dalam teknologi soldering dan material untuk menghubungkan komponen elektronik.

Menurut Aryo, Indonesia perlu membangun rantai industri dari bahan mentah hingga produk yang siap digunakan. “Sudah waktunya Indonesia tidak lagi bergantung pada harga dunia, tetapi membangun ekosistem sendiri,” ujarnya.

Bagi Batam, arah tersebut membuka ruang baru bagi industri pengolahan timah. Material yang masuk dari luar tidak berhenti sebagai bahan dasar, tetapi bergerak menjadi produk yang dibutuhkan industri elektronik sebelum kembali dikirim ke pasar luar negeri. ANTARA

Pos terkait