BANDUNG (gokepri) – Industri perawatan pesawat nasional mulai berbenah. PT Dirgantara Indonesia dan Batam Aero Technic bersepakat menyiapkan tenaga terampil agar tak lagi bergantung pada layanan luar negeri.
Kolaborasi ini menandai upaya memperkuat rantai industri dirgantara dari hulu ke hilir, terutama di sektor purna jual yang terus tumbuh. Kesepakatan itu diteken di Gedung Nurtanio, Bandung, Jumat. Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dan Direktur Batam Aero Technic Capt.
Daniel Putut Kuncoro Adi menandatangani nota kesepahaman pengembangan sumber daya manusia di bidang Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Fokus utama kerja sama ini terletak pada peningkatan kompetensi teknisi.
Keduanya ingin menyiapkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami ekosistem industri, termasuk mekanisme impor dan ekspor komponen. “Harus adaptif terhadap teknologi,” kata Daniel.
Baca Juga: RI Siapkan Ekosistem Baru Industri MRO
Dalam skema ini, PTDI mengandalkan Training Center yang telah mengantongi sertifikasi Authorized Maintenance Training Organization (AMTO). Lembaga ini menjadi pusat pelatihan teknisi yang akan diserap industri.
Batam Aero Technic, sebagai unit perawatan pesawat yang telah memegang sertifikasi DGCA, menempatkan diri sebagai pengguna utama lulusan program tersebut. Perusahaan ini selama ini melayani berbagai operator internasional.
Sinergi ini memadukan dua kekuatan. PTDI memiliki pengalaman dalam rancang bangun dan modifikasi pesawat. BAT beroperasi di lini perawatan dengan jaringan global.
Kerja sama ini muncul di tengah kebutuhan industri yang terus meningkat. Layanan MRO menjadi salah satu sektor strategis, seiring bertambahnya jumlah armada dan intensitas penerbangan.
Selama ini, sebagian kebutuhan perawatan pesawat masih bergantung pada fasilitas luar negeri. Kondisi ini berdampak pada biaya dan waktu pengerjaan.
Melalui penguatan kapasitas dalam negeri, kedua perusahaan berharap proses perawatan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien. Selain itu, nilai ekonomi diupayakan tetap berputar di dalam negeri.
Direktur PTDI Moh Arif Faisal menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi ekspansi. Ia melihat pasar layanan purna jual memiliki potensi besar.
“Pasarnya terus tumbuh,” ujarnya.
Menurut dia, peningkatan kapasitas SDM menjadi kunci untuk memenangkan persaingan. Tanpa tenaga terampil, industri sulit berkembang meski fasilitas tersedia.
Selain aspek teknis, kerja sama ini juga menekankan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan robotik mulai menjadi bagian dari proses perawatan pesawat modern.
Transformasi ini menuntut perubahan pendekatan dalam pelatihan. Teknisi tidak lagi hanya bekerja secara manual, tetapi juga berinteraksi dengan sistem berbasis data dan otomatisasi.
Dampak lain yang diharapkan adalah terbukanya lapangan kerja baru. Penguatan sektor MRO berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, mulai dari teknisi hingga tenaga pendukung.
Di sisi lain, rantai pasok industri dirgantara domestik dapat diperkuat. Ketersediaan layanan perawatan di dalam negeri mendorong efisiensi sekaligus meningkatkan daya saing.
Langkah ini menempatkan pengembangan SDM sebagai fondasi. Tanpa itu, ambisi membangun kemandirian industri dirgantara sulit tercapai. Kolaborasi PTDI dan Batam Aero Technic menjadi salah satu upaya untuk mengisi celah tersebut, di tengah tuntutan industri yang semakin berbasis teknologi. ANTARA
Baca Juga: Perkuat KEK BAT, BP Batam Kawal Investasi Industri MRO
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







