JAKARTA (gokepri) – Embung Serbaguna Pulau Laut di Natuna resmi beroperasi untuk menyediakan air baku bagi masyarakat, nelayan, dan kapal yang berlabuh. Dengan kapasitas yang dapat memenuhi 80% kebutuhan air pada 2024, keberadaan embung ini penting untuk mengatasi kekurangan air, terutama saat musim kemarau.
“Peran embung sangat penting bagi warga Kabupaten Natuna. Embung Serbaguna Pulau Laut tidak hanya memenuhi kebutuhan air baku rumah tangga, tetapi juga kebutuhan air para nelayan dan kapal yang singgah,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Daniel, dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (12/10).
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian PUPR terus membangun embung penampung air hujan, salah satunya di Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Embung Serbaguna Pulau Laut merupakan salah satu dari 22 embung yang dibangun oleh Ditjen SDA melalui BWS Sumatera IV di Kepulauan Riau.
“Kami mengelola delapan embung di Kabupaten Natuna, di mana tiga di antaranya berkapasitas besar, tetapi pemanfaatannya belum optimal,” jelas Daniel. Ia menambahkan embung di Kabupaten Natuna memiliki kapasitas 115 liter/detik, setara dengan 41,78 persen dari kapasitas yang telah terbangun. Jika semua kapasitas dimanfaatkan, kebutuhan air pada tahun 2024 yang sebesar 142 liter/detik dapat terpenuhi hingga 80,98 persen.
Daniel menekankan embung sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Natuna, terutama Embung Serbaguna Pulau Laut, yang juga mendukung kebutuhan air baku rumah tangga serta kebutuhan air para nelayan dan kapal yang singgah. Selain itu, ada Embung Serasan yang dibangun untuk memenuhi pasokan air baku bagi warga hunian tetap (huntap) yang terdampak bencana longsor pada tahun 2023.
BWS Sumatera IV juga mengelola 117 daerah aliran sungai (DAS) di lima kabupaten dan dua kota dengan luas wilayah 451 km². Luas daratan yang ditangani hanya 1,9 persen, sementara sisanya merupakan wilayah perairan. Di wilayah ini, terdapat 2.408 pulau, di mana hampir 2.000 di antaranya tidak berpenghuni. “Tantangan kami adalah DAS yang relatif pendek, sehingga sulit untuk mendapatkan sumber air baku karena tidak ada sungai besar. Kami hanya dapat mengandalkan air hujan,” ungkap Daniel.
Guna meningkatkan pasokan air baku di Batam, Bintan, dan Karimun, BWS Sumatera IV merencanakan pembangunan estuari dam di Tanjung Pinang dan Teluk Bintan. Diperkirakan, kedua infrastruktur ini akan memenuhi 80 persen kebutuhan air di wilayah tersebut. Beberapa estuari sudah dalam perencanaan, dan Daniel berharap keberadaan infrastruktur ini dapat menjadi sumber alokasi air baku. “Peluang ini juga ada di Kabupaten Anambas untuk mendukung kebutuhan air dari kapal internasional yang sering berlayar di perairan tersebut,” katanya.
Matrani, seorang tokoh agama setempat, menyatakan air dari embung tersebut digunakan untuk peribadatan di tiga masjid dan dua surau. Ia menambahkan selama enam bulan musim kemarau 2024, embung ini belum pernah kering. “Kami sangat berterima kasih atas adanya embung karena sangat membantu, dibandingkan harus mengambil air dari sumur,” kata Matrani. Ia juga menambahkan bahwa masyarakat sering menggunakan air dari Embung Serbaguna Pulau Laut untuk melaksanakan tradisi selamatan pada tanggal 7-9 Safar agar terhindar dari malapetaka.
Surya Arma, seorang tokoh adat Pulau Laut, menjelaskan masyarakat Kecamatan Pulau Laut merasa terbantu dengan keberadaan Embung Serbaguna Pulau Laut. Sebelum embung dibangun pada 2019, mereka harus bolak-balik mengambil air ke perigi dengan jarak 500 meter untuk melaksanakan ritual. “Sekarang, kami cukup memutar keran di rumah dan air sudah tersedia. Keberadaan embung membuat pekerjaan kami lebih ringan,” ujar Surya.
Embung Serbaguna Pulau Laut dibangun pada 2017 di lahan seluas 8 hektare. Saat ini, debit air embung tersebut mencapai 5 liter/detik dan dapat melayani kebutuhan air dua desa, yakni Desa Kadur dan Desa Air Payang.
Sementara itu, Direktur Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, Zaharuddin, mengungkapkan sebelum ada embung, pasokan air baku di Kabupaten Natuna sangat memprihatinkan, terutama saat musim kemarau. “Kami sudah mengalami kekeringan dan kelangkaan air bersih setelah dua minggu musim kemarau. Warga hanya mengandalkan air yang bersumber dari gunung, tetapi itu tidak mencukupi,” ujar Zaharuddin.
Camat Pulau Laut, Bambang Erawan, menambahkan air dari embung digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, perkantoran, puskesmas, kantor kecamatan, Polsek, hingga pos Koramil.
Baca: Mendagri Dorong Percepatan Pembangunan di Pulau Laut Natuna
“Saat ini, air lebih mudah diakses karena langsung dialirkan ke rumah-rumah tanpa memerlukan pompa listrik; cukup membayar penggunaan per meter kubik,” kata Bambang. Selain itu, wilayah embung juga menjadi lokasi wisata yang diminati warga. Terdapat juga prospek pemanfaatan air baku karena banyak kapal pencari ikan dan kapal penjaga yang melintasi perairan Pulau Laut. “Sekitar 300-400 kapal berlabuh setiap tahun dan semuanya membutuhkan air,” tambah Bambang.
Hal ini berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari PDAM. Oleh karena itu, pemerintah setempat mendorong peningkatan debit penyulingan air dan pipanisasi ke pelabuhan. “Paling tidak, diperlukan debit air 10-15 liter/detik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, perkantoran, hingga kapal nelayan. Kecamatan Pulau Laut juga menghibahkan 55 hektare lahan untuk pengembangan embung lebih lanjut,” pungkas Bambang. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







