BATAM (gokepri) – Pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia diperkirakan tidak akan berdampak langsung pada suku bunga kredit hingga enam bulan. Bank perlu waktu untuk menyesuaikan kebijakan ini dan efeknya akan terlihat dalam jangka panjang.
Pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi harapan baru bagi para pejuang cicilan, karena penurunan ini diprediksi akan diikuti oleh penurunan suku bunga kredit, baik di bank maupun leasing. Namun, para pejuang cicilan harus bersabar hingga tahun depan, karena dampak penurunan BI Rate terhadap bunga leasing diperkirakan akan berlangsung cukup lama.
Ekonom dan Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan efek penurunan suku bunga acuan terhadap suku bunga pembiayaan tidak akan terasa dalam satu hingga tiga bulan, melainkan bisa hingga enam bulan, bahkan ada yang menyebut hingga 12 bulan.
“Industri perbankan dan leasing di Indonesia cenderung inelastis terhadap suku bunga acuan yang turun,” tambah Huda.
Huda juga mencatat penyesuaian bunga deposito yang sedang berjalan tidak akan langsung menurun, dan ada beberapa tahapan untuk mengukur efek penurunan suku bunga acuan. Dia mengingatkan pada 2019, meskipun suku bunga acuan dipangkas, efeknya terhadap bunga pembiayaan cenderung tipis dan stagnan.
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Moch. Amin Nurdin, menambahkan bank memerlukan waktu sekitar 3–6 bulan untuk menyesuaikan kebijakan bank sentral. Suku bunga acuan mempengaruhi dua sisi intermediasi bank, yaitu penghimpunan (funding) dan penyaluran (lending) dana.
“Ini adalah dilema, karena net interest income [pendapatan bunga bersih] kemungkinan akan berkurang, sehingga NIM [net interest margin] bisa turun. Ini tidak langsung,” kata Amin. Ia menambahkan bahwa penurunan suku bunga acuan BI belum akan berimbas signifikan pada performa kredit perbankan dalam jangka pendek.
Namun, dalam jangka panjang, setelah penyesuaian suku bunga, bank akan memiliki kelonggaran untuk melakukan ekspansi kredit yang berkualitas. Hal ini berpotensi meningkatkan kualitas kredit dan menurunkan rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL). “Kualitas kredit mungkin membaik jika bank lebih prudent dalam memasarkan kreditnya,” ujar Amin.
BI Rate Turun Jadi 6%
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 17—18 September 2024. Kondisi suku bunga deposito dan kredit bank terpantau mulai melandai.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan likuiditas yang memadai serta efisiensi perbankan dalam pembentukan harga yang semakin baik, antara lain didorong oleh publikasi asesmen transparansi SBDK, berdampak positif pada suku bunga perbankan yang tetap terjaga.
“Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Agustus 2024 tercatat masing-masing sebesar 4,73% dan 9,21%, stabil dibandingkan dengan level bulan sebelumnya,” ujarnya dalam konferensi pers RDG Bulanan, Rabu (18/9/2024).
Menurutnya, likuiditas perbankan yang memadai ini sejalan dengan implementasi bauran kebijakan Bank Indonesia, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Adapun, suku bunga deposito perbankan memang mulai melandai. Di mana, bunga deposito satu bulan perbankan mencapai level 4,73% pada Agustus 2024, capaian ini sama dengan bulan sebelumnya yaitu Juli 2024.
Baca: Strategi BI Kepri Mencegah Kejahatan Keuangan
Namun, suku bunga deposito Agustus 2024 masih lebih tinggi jika dibandingkan pada akhir tahun lalu atau Desember 2023 di level 4,69%. Sementara itu, untuk suku bunga kredit per Agustus mencapai 9,21%, angka ini turun dari bulan sebelumnya yaitu Juli 2024 sebesar 9,23%. Bahkan, suku bunga ini kian turun dari akhir Desember 2023 yang sempat mencapai 9,25%
Sejalan dengan catatan BI, sejumlah perbankan tahun ini memang telah berancang-ancang melakukan penyesuaian suku bunga simpanannya. BISNIS INDONESIA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









