BATAM (gokepri) – The Economist kembali merilis glass-ceiling index 2022 atau indeks untuk menggambarkan negara terbaik bagi para pekerja perempuan dari 29 negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Ada 10 parameter atau indikator kesetaraan yang dipakai, antara lain, adalah kesempatan pendidikan tinggi, partisipasi di dunia kerja, gaji, biaya perawatan anak, hak menjadi ibu, cuti, dan peluang menjadi pemimpin.
Glass-ceiling Index The Economist dirilis bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret.
Tahun ini, Islandia kembali menempati peringkat pertama, menungguli Swedia, Finlandia, Norwegia dan Portugal pada peringkat lima besar.
Negara-negara Nordik menempati posisi teratas dalam daftar karena sistem cuti orang tua berkualitas tinggi dan kondisi kerja yang fleksibel, menurut The Economist.
Di antara negara-negara maju lainnya, Prancis menempati peringkat ke-6, Inggris menempati peringkat ke-17, dan Amerika Serikat menempati peringkat ke-19. Di lima peringkat terbawah, Israel menempati peringkat ke-25, Swiss di peringkat ke-26, dan Turki di peringkat ke-27.
Alasan Islandia Negara Terbaik untuk Perempuan
Islandia kembali menempati peringkat pertama, menunjukkan perempuan di Islandia memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, sistem cuti orang tua berkualitas tinggi, dan kondisi kerja yang fleksibel. Selain itu, Islandia juga memiliki indikator positif dalam kesetaraan upah antara pria dan perempuan, biaya perawatan anak, gaji ketika cuti hamil dan melahirkan, dan representasi perempuan di posisi manajerial senior dan parlemen.
Kesetaraan upah antara pria dan perempuan di Islandia jauh lebih baik dibanding 29 negara OECD. Meski pekerja wanita di Islandia rata-rata diupah lebih rendah sebesar 12,9 persen dibanding pria, tetapi ini masih di bawah rata-rata negara OECD sebesar 11,6 persen. Hal ini menunjukkan Islandia sudah melakukan upaya yang baik dalam mengurangi kesenjangan upah antara pria dan perempuan, meski masih ada pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapai kesetaraan upah yang sebenarnya. Selain itu, indikator positif lainnya seperti biaya perawatan anak dan gaji ketika cuti hamil dan melahirkan yang setara dengan gaji pekerja juga menunjukkan bahwa Islandia memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan para pekerja perempuan.
Indikator Islandia
Survei The Economist menunjukkan perempuan di Islandia memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan artinya punya kesempatan serta akses mengenyam pendidikan lebih baik. Islandia tercatat punya indikator 16,4 poin jauh di atas rata-rata negara OECD dan lebih tinggi dari laki-laki.
Kemudian, tingkat partisipasi perempuan bekerja di Islandia masih jauh di bawah pria dengan indikator 5,4 poin.
Namun indikator Islandia tentang kesetaraan upah antara pria dan perempuan sebesar 12,9 persen. Artinya, pekerja wanita di Islandia rata-rata diupah lebih rendah sebesar 12,9 persen dibanding pria. Indikator ini di bawah rata-rata negara OECD sebesar 11,6 persen.
Indikator positif bagi pekerja perempuan di Islandia adalah mereka mendapat biaya perawatan anak sebesar 5 persen dari rata-rata gaji disana.
Lalu, pekerja perempuan di Islandia mendapat gaji ketika cuti hamil dan melahirkan setara gaji 22,8 pekan. Jumlah ini lebih tinggi dibanding cuti ayah untuk persalinan ibu yang setara gaji 14,3 pekan.
Dengan begitu banyak perempuan yang bercita-cita untuk karier di bidang bisnis, tidak mengherankan bahwa perempuan di Islandia memegang hampir separuh posisi manajemen di negara tersebut.
Islandia menempati peringkat jauh di atas rata-rata untuk indikator representasi perempuan di posisi manajerial senior. Sebanyak 37,6 persen perempuan di Islandia menjabat jabatan penting perusahaan setingkat atau lebih dari manajer. Kemudian sebanyak 44,8 persen perempuan di Islandia duduk sebagai pemegang saham.
Dan indikator penting lainnya yakni, jumlah perempuan di Islandia duduk di parlemen sebanyak 47,6 persen atau yang tertinggi kedua setelah Selandia Baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Baca Juga: DATA WHO: Kematian Ibu akibat Persalinan Terjadi Setiap Dua Menit
Penulis: Candra Gunawan









